Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Pemerintah Akan Tambah Anggaran Alutsista


JAKARTA (MI) :Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan bahwa pemerintah akan menambah anggaran untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista). Penambahan anggaran akan dimasukkan dalam APBN 2016.

"Iya tentu, sesuai anggaran. Kan kalau kita tidak bisa langsung kasih, itu harus, nanti lagi kita tambah di anggaran 2016," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Kamis (2/7/2015).
Mengenai berapa tambahan anggaran alutsista yang akan diajukan nanti, Kalla menyampaikan bahwa hal itu tergantung dari kemampuan anggaran negara.

Saat berada di Kompleks Parlemen untuk mengikuti uji kelayakan dan kepatutan, Rabu (1/7/2015), calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyampaikan bahwa ia dan Komisi I DPR sepakat untuk membeli pesawat baru.

Gatot menegaskan bahwa ia bertekad untuk memperkuat alutsista milik TNI Angkatan Udara. Oleh karena itu, Gatot akan mengupayakan pesawat TNI ke depannya tidak lagi berasal dari hibah, melainkan unit yang baru dibeli.

Kendati demikian, ia juga mengatakan, proses transfer teknologi tetap menjadi fokus perhatian TNI dalam setiap pengadaan alutsista yang berasal dari luar negeri. Hal itu bertujuan untuk membesarkan industri pertahanan dalam negeri sehingga lambat laun dapat memproduksi sendiri alutsista yang dibutuhkan TNI.







Sumber : KOMPAS
readmore »»  

Ini kerugian besar untuk negara jika seorang pilot TNI AU tewas

Ini kerugian besar untuk negara jika seorang pilot TNI AU tewas

kapten sandy

Jakarta (MI) : Pesawat Hercules C-130 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) jatuh di Medan, Sumatera Utara. Peristiwa ini menewaskan 122 orang di dalamnya, yang terdiri atas 12 awak, 10 anggota Korpaskhas dan 100 anggota TNI dan keluarganya.

Pesawat dengan registrasi A1310 ini dipiloti oleh Kapten Penerbang Sandy Permana. Sandy merupakan anggota dari Skadron 32 Abdul Rahman Saleh, Malang, Jawa Timur. Tak hanya itu, dia juga siswa terbaik Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) angkatan 97.

Tentu, tewasnya salah satu penerbang terbaik merupakan sebuah kehilangan besar. Bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi juga bagi TNI. Apalagi, tak mudah untuk mendidik seorang pilot pesawat militer. Butuh biaya besar untuk mendapatkannya.

Direktur Utama Bandung Pilot Academy, Nasrun Natsir mengungkapkan biaya untuk mendidik seorang calon pilot mencapai jutaan dolar AS. Sebuah angka yang sangat besar, di mana seluruhnya dihitung berdasarkan beban operasional sebuah pesawat tempur.

"Secara pasti untuk apa, kita lihat dari peralatan alutsista yang digunakan untuk operasi pesawat terbang, berapa besar untuk mendidik pilot? Dari peralatan yang digunakan dan harga, kemudian prosesikan berapa jam dibutuhkan pilot militer untuk operasi. Secara visual kita bisa mengerti berapa biaya F-16 saat terbang, di mana sejamnya memakan biaya USD 6 ribu. Kalau pesawat asing hampir sama, kalau sekarang militer ada jet turboprop, mungkin ya USD 2-3 ribuan. Untuk dukungan operasi, dan lain-lain, biaya pendidikan militer besar sekali, lebih dari USD 1 juta," ujar Nasrun saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (1/7) malam.

Biaya 1 juta USD atau sekitar Rp 1,3 miliar itu tentu bukan biaya yang kecil. Apalagi, untuk mendukung pendidikan tersebut, TNI AU telah memiliki sejumlah peralatan pendukung, seperti simulasi, alat instruksi dan lain-lain.

"Jadi alat instruksi, alat pendidikan militer lebih lengkap dan canggih. Sipil kalah, militer jauh lebih mahal," tandasnya.

Kerugian lain adalah TNI AU kehilangan kandidat calon pemimpin di masa depan. Apalagi rata-rata pilot dan copilot yang gugur saat penerbangan pesawat TNI biasanya masih berusia sangat muda. Sebagian malah berusia di bawah 30 tahun. Karir mereka seharusnya masih jauh terbentang.

Karena itu secara tegas Presiden Jokowi meminta jangan sampai ada kecelakaan alutsista TNI yang memakan korban putra-putri terbaik bangsa. Jokowi memerintahkan kasus kecelakaan di Medan ini segera diinvestigasi.

"Dicari penyebabnya dan jangan sampai terulang lagi," tegas Jokowi.









Sumber : Merdeka
readmore »»  

Calon Panglima TNI: Konflik Dunia Akan Bergeser ke Indonesia


JAKARTA (MI) : Calon Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memaparkan mengenai ancaman global yang bukan tidak mungkin akan dihadapi Indonesia di masa depan. Menurut dia, Indonesia bisa menjadi sasaran bagi negara-negara lain karena sumber daya alamnya yang berlimpah.

"Jika sekarang lokasi konflik dunia berada di timur tengah atau yang kita kenal sebagai Arab spring, maka kedepan konflik dunia akan bergeser ke negara kaya alam yang berada di ekuator, termasuk Indonesia," kata Gatot saat memaparkan visi dan misinya dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi I DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (1/7/2015).

Menurut dia, dalam beberapa tahun kedepan, energi hayati, pangan dan air akan menjadi langka di banyak negara, kecuali negara yang ada di ekuator. Sementara, jumlah penduduk dunia akan terus bertambah.
Konflik bukan lagi disebabkan karena perebutan energi fosil, tetapi pangan dan air. Potensi ancaman global ini, kata dia, sudah diingatkan oleh Presiden pertama, Soekarno.
"Kekayaan alam Indonesia suatu saat nanti akan membuat iri negara-negara besar di dunia," kata Gatot menirukan ucapan Bung Karno.

Hal ini, kata dia, ditegaskan lagi oleh Presiden Joko Widodo. "Bahwa kaya akan sumber alam justru akan menjadi petaka bagi kita," ucap Kepala Staf Angkatan Darat ini.
Potensi ancaman global ini, kata dia, harus mulai diantisipasi. Masalah sumber daya alam secara kasat mata seakan tidak ada kaitannya dengan TNI. Namun, jika diamati dan dipelajari lebih dalam, fakta tersebut merupakan sumber konflik yang harus diperhitungkan oleh seluruh pemangku kepentingan nasional.

"TNI siap membantu mengatasi ancaman tersebut, dengan menyadarkan dan menyamakan persepsi masyarakat tentang potensi ancaman melalui program pembinaan teritorial," ucap Gatot.
Usai Gatot memaparkan visi misinya, dilakukan proses pendalaman berupa tanya jawab secara tertutup. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan informasi sensitif yang kemungkinan akan disampaikan.
Usai pendalaman, Komisi I akan melakukan rapat untuk menentukan apakah Gatot disetujui atau tidak disetujui sebagai Panglima TNI.








Sumber :  KOMPAS
readmore »»  

TNI AL Gagalkan Upaya Perompakan Kapal Asing

KRI Sembilang-850 tengah berlayar di Selat Philips, Senin (29/6). Foto: Armabar

Jakarta (MI) : Kapal Perang (KRI) Sembilang-850 milik Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) TNI AL berhasil menggagalkan upaya percobaan perompakan terhadap MV Levan, kapal kargo berbendera Bahama yang tengah berlayar di Selat Philips, Senin ini.

"Penggagalan upaya perompakan terhadap MV Levan ini bermula saat KRI Sembilang-850 melaksanakan patroli laut di sekitar perairan Selat Philips pada pukul 03.00 WIB tadi," kata Kepala Dinas Penerangan Armabar, Letkol Ariris Miftachurrahman, dalam siaran tertulisnya, Senin (29/6/2015).

Saat itu, personel KRI Sembilang menerima informasi melalui telepon dari Western Fleet Quick Response (WFQR) Koarmabar yang berada di Batam tentang adanya upaya percobaan perompakan kapal asing tersebut.


Informasi yang diterima WFQR ini diperoleh dari Maritime Security Task Force (MSTF) ME3 KEITH Singapura yang menyatakan MV Levan, saat berlayar pada posisi 01° 07’ 474’’ U - 103° 45’ 581’’ T, didekati boat tak dikenal dengan tiga orang pengawak.

Setelah menerima informasi tersebut, KRI Sembilang-850 segera bergerak menuju sasaran guna melaksanakan pengecekan. "Kurang lebih 30 menit KRI Sembilang-850 mendeteksi adanya sebuah obyek berupa kapal," jelasnya.


Guna memastikan kapal yang dicari, KRI Sembilang-850 mendekati kapal tersebut dengan jarak 500 yard. Setelah disorot dengan lampu, diketahui kapal tersebut adalah MV Levan yang sedang didekati sebuah boat.

Mengetahui kehadiran kapal perang, kata Ariris, boat yang berusaha mendekat MV Levan akhirnya melarikan diri menuju selatan ke arah barat Pulau Pemping dan selanjutnya hilang dari pantauan radar.


Setelah memastikan Kapal kargo MV Levan dalam keadaan aman, KRI Sembilang-850 melanjutkan patroli laut. KRI Sembilang-850 secara rutin melaksanakan pengecekan serta pemantauan terhadap kapal-kapal yang melintasi di sekitar perairan Selat Philips. Selat Philips (Singapura) berada di titik tersempit di Selat Malaka. Selat ini merupakan salah satu jalur terpadat laut dunia.
 







Sumber : Metrotvnews
readmore »»  

Helikopter Sipil Malaysia Mendarat Tanpa Izin di Helipad Milik TNI AD

Helikopter Sipil Malaysia Mendarat Tanpa Izin di Helipad  Milik TNI AD

NUNUKAN (MI) : Helikopter milik penerbangan sipil Malaysia, jenis Bell 9M-YMH, Minggu (28/6/2015) nekat mendarat tanpa izin di heliped milik TNI Angkatan Darat .
Heliped milik TNI AD itu berada di Pos Kotis Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-Malaysia, Desa Aji Kunjing, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah berbatasan darat secara langsung dengan Malaysia di Pulau Sebatik.

Komandan Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 521/ Dadaha Yudha, Letkol (Inf) Slamet Gunarso, memastikan, helikopter tersebut mendarat tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
“Karena itu helinya tiba-tiba turun, kemudian terbang lagi. Itu tanpa konfirmasi,” ujarnya, Senin (29/6/2015) kepada wartawan.

Dia belum bisa memastikan, siapa yang berada di dalam helikopter dimaksud? Namun dipastikan helikopter tersebut milik Malaysia.
“Kita tidak tahu siapa, darimana? Yang jelas heli turun kemudian terbang lagi ke arah Malaysia.
Kita tidak tahu awalnya darimana dia datang, begitu terbang, mengudara arahnya ke Malaysia, mungkin dari Sabah. Isinya siapa, kita tidak tahu,” ujarnya.

Dari laporan yang diterimanya, ada tiga orang yang berada di dalam helikpoter. Menindaklanjuti pelanggaran dimaksud, Slamet kemarin langsung melaporkan ke komando atas.
“Kita laporkan saja. Itu kan heli sipil. Apa perintah dari pimpinan? Itu kita laksanakan sehingga penyelesaiannya jelas,” ujarnya.

Informasi yang diterima TRIBUNKALTIM.CO, helikopter dimaksud mendarat sekitar pukul 08.40 setelah berputar-putar tiga kali di wilayah Kecamatan Sebatik Tengah.
Helikopter yang mendarat di instalasi militer TNI Angkatan Darat itu, menjadi perhatian sejumlah warga setempat. Mereka mengabadikan helikopter tersebut saat mendarat.
Namun tak sampai lima menit mendarat, helikopter dimaksud langsung terbang kembali setelah didekati prajurit TNI AD. Tidak ada seorangpun yang sempat keluar dari helikopter.


Medsos Dihebohkan dengan Foto Heli Malaysia Mendarat di Sebatik


Medsos Dihebohkan dengan Foto Heli Malaysia Mendarat di Sebatik


Sebuah foto yang menggambarkan helikopter Bell warna putih yang diduga milik Malaysia akan mengudara, sementara satu anggota TNI berusaha mendekat heli tersebut. Sementara, puluhan warga perbatasan Kecamatan Sebatik, Kalimantan Utara, terlihat menonton peristiwa itu.

Foto tersebut terlihat menjadi foto profil beberapa warga di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan, dan menyebab melalui media sosial. Entah darimana foto tersebut, namun berdasarkan penelusuran Kompas.com heli tersebut diperkirakan mendarat di helipad milik Satgas Pamtas 512/ Dadaha Yudha yang baru beberapa hari lalu menggantikan Satgas Pamtas 433/Julu Siri.

“Katanya kejadiannya Minggu pagi pukul 08:40 wita,“ ujar salah satu wartawan media lokal Viqor di Nunukan, yang juga mendapat kiriman gambar melalui jejaring sosial, Minggu (28/6/2015).
Berdasarkan keterangan warga yang mengunggah gambar tersebut, helikopter Bell 9M-YMH milik Negara Malaysia tersebut terlihat berputar-putar sebanyak tiga kali di atas wilayah Sebatik Tengah dan Sebatik Utara Pualu Sebatik, Indonesia. Semula, heli tersebut akan mendarat di pematang sawah yang telah disiapkan di wilayah Sebatik, Malaysia.

Namun, karena hujan deras di malam sebelumnya, membuat helipad yang disiapkan tidak bisa didarati. Akhirnya, heli yang diduga milik perusahaan Sabah Air tersebut akhirnya mencari tempat pendaratan alternatif.

Heli yang kabarnya ditumpangi Mendagri Negara Malaysia Datuk Sri Ahmad Zaid Hamidi tersebut akhirnya mendarat di Pos Kotis Satgas Pamtas Yonif 521/Dadaha Yudha yang terletak di Desa Aji Kunig. Heli tersebut diperkirakan mendarat selama kurang lebih lima menit.

Selama lima menit itu, tidak ada satupun penumpang yang turun. Saat salah satu anggota TNI berusah mendekat, heli tersebut kembali mengangkasa menuju wilayah Malaysia. Komandan Satgas Pamtas 521/Dadaha Yudha, Slamet Winarto, hingga malam ini belum berhasil dihubungi untuk dimintai konfirmasinya.










Sumber : TRIBUNNEWS
readmore »»  

Produksi 700 Juta Butir Peluru, Pindad Butuh Banyak Modal

BANDUNG (MI) : PT Pindad (Persero) benar-benar butuh tambahan modal dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mengembangkan bisnis pertahanan dan non-alutsista. Dalam 5 tahun ke depan diperkirakan kebutuhan modal untuk itu mencapai Rp 4,9 triliun.

Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengatakan, pada tahun ini BUMN initelah mendapatakan suntikan modal dari APBN sebesar Rp 700 miliar dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN). Adapun PMN untuk tahun 2016, kata Silmy, hanya direstui oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp 707 miliar. Padahal, PMN yang diusulkan sebesar Rp 1,7 triliun.

“Total kebutuhannya untuk pengembangan alutsista dan non-alutsista sebesar Rp 4,9 triliun, dalam lima tahun,” ucap Silmy, Bandung, Sabtu (27/6/2015).

Silmy berharap sisa PMN yang sebesar Rp 3,6 triliun bisa dikucurkan dalam tiga tahun ke depan, yakni tahun anggaran 2017, 2018, dan 2019. Akan tetapi, perseroan juga mengantisipasi jika usulan PMN tersebut tidak seluruhnya dipenuhi seperti usulan untuk tahun anggaran 2016.

Silmy menuturkan, Pindad masih mengkaji kemungkinan obligasi yang akan dilakukan setelah lima tahun mendatang. “Kenapa saya tidak masuk bonds dulu, karena sekarang ada komitmen dari pemerintah dalam bentuk PMN,” imbuh Silmy.

Salah satu alutsista yang butuh banyak modal adalah amunisi (peluru). Silmy menyebut, ke depan kebutuhan peluru ditaksir mencapai 700 juta butir, tiga kali lipat lebih besar dari yang bisa diproduksi Pindad saat ini yang sebanyak 200 juta butir.

“Kenapa 700 juta butir? Tentara kita ada 450.000. Untuk latihan satu tahun perlu 1.500, dikalikan jadi 700 juta. Itu belum pasukan khusus yang bisa 30.000,” jelas Silmy.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pindad pelu meningkatkan kapasitas produksinya dari satu shift menjadi tiga shift, di samping modernisasi alat-alat produksi. Silmy mengatakan, saat ini Pindad masih mengoperasikan mesin yang dibuat sejak zaman kolonial.

“Peralatan kita masih ada yang tahun 1930, zaman Belanda. Itu membuktikan Pindad bisa merawat sesepuh. Kalau tahun depan masih bekerja, siap-siap kuwalat,” seloroh Silmy.
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : KOMPAS
readmore »»  

Prajurit Yonif 521/DY amankan perbatasan Indonesia-Malaysia

Prajurit Yonif 521/DY amankan perbatasan Indonesia-Malaysia

Nunukan (MI) : Prajurit TNI AD dari Batalyon Infantri 521/Dadaha Yudha (Yonif 521/DY) Komando Daerah Militer (Kodam) V Brawijaya, Jawa Timur, mengamankan wilayah perbatasan menempati 19 pos yang berada di antara Republik Indonesia dan Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Sebanyak 19 pos perbatasan tersebut berada sepanjang perbatasan dari Pulau Sebatik hingga Kecamatan Sebuku, yang berbatasan dengan Negeri Sabah, Malaysia, kemudian dari Kecamatan Lumbis Ogong hingga Kecamatan Krayan Selatan yang berbatasan dengan Negeri Sarawak, Malaysia.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif 521/DY Letkol Inf Slamet Winarto saat tiba di Kabupaten Nunukan, Sabtu (20/6) sekitar pukul 14.00 Wita, menyatakan bahwa tugas dan tanggungjawab yang akan diemban sama dengan Batalion Infantri Lintas Udara Koamdo Cadangan Strategis TN AD (Yonif Linud Kostrad) 433/Julu Siri yang akan digantikannya.

Hanya saja, lanjut dia, wilayah penugasannya lebih luas dan panjang karena pengamanan perbatasan sebelumnya hanya dari Pulau Sebatik hingga Kecamatan Sebuku dengan menempati 15 pos perbatasan.

Ia mengungkapkan, misi utama yang akan dilakukan pertama adalah melanjutkan apa yang telah dilaksanakan prajurit Yonif Linud Kostrad 433/Julu Siri sekaligus menata internal prajuritnya selama bulan suci Ramadhan 1436 Hijriyah.

"Misi kami yang pertama adalah melanjutkan apa yang telah dilakukan batalion sebelumnya sambil menata kondisi prajurit selama bulan puasa ini," sebut Slamet Winarto.

Slamet Winarto juga menambahkan, bertambahnya pos perbatasan yang akan dijaga membuat jangkauan wilayahnya lebih luas, karena ada 4.000 patok perbatasan RI-Malaysia harus diamankan, sedangkan sebelumnya hanya menjaga 1.971 patok perbatasan.







Sumber : ANTARA
readmore »»  

Usai di Perbatasan, Yonif Linud 433/Julu Siri Berangkat ke Sudan

Usai di Perbatasan, Yonif Linud 433/Julu Siri Berangkat ke Sudan

NUNUKAN (MI) : Yonif Linud 433/Julu Siri Kostrad Makassar di bawah pimpinan Letkol (Inf) Agustatius Sitepu melakukan serah terima tugas pengamanan perbatasan Republik Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan kepada Yonif 521/ Dadaha Yudha dibawah pimpinan Letkol (Inf) Slamet Gunarso.

Acara ini digelar Minggu (21/6/2015) malam di Mako Satgas Pamtas RI-Malaysia Jalan Fatahillah, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Agustatius mengatakan, usai melaksanakan tugas menjaga perbatasan, pihaknya Senin (22/6/2015) bertolak kembali ke Makassar.
“Kita akan mempersiapkan diri berangkat menjadi pasukan penjaga perdamaian di Sudan, Afrika,” ujarnya.

Selama 10 bulan bertugas menjaga perbatasan, Yonif Linud 433/Julu Siri Kostrad Makassar telah menorehkan sejumlah prestasi. Keberadaan pasukan ini sangat ditakuti para pelaku penyelundupan terutama minuman keras, sabu-sabu dan TKI illegal. Pasalnya, pasukan ini tak mengenal kompromi terhadap pelaku kejahatan.
Selama bertugas di Kabupaten Nunukan, tercatat sebanyak kurang lebih 13.000 botol minuman keras telah ditangkap dalam 53 kali operasi.

Selain itu 1,3 kilogram sabu-sabu dengan 20 pelaku ditangkap dari 18 kali operasi. Sebanyak 8 pucuk senapan laras panjang dan 2 pucuk pistol rakitan juga berhasil diamankan.
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal tak luput dari pantauan Yonif Linud 433/Julu Siri Kostrad Makassar selain tugas utamanya melakukan pengawasan 1.987 patok perbatasan.
Agustatius menjelaskan, dari sisi teritorial pihaknya juga memiliki andil yang signifikan.
“Dari sisi pendidikan kami menugaskan 30 prajurit sebagai guru bagi anak-anak sekolah yang tersebar di 10 sekolah di Nunukan,” ujarnya.
Anggota TNI Angkatan Darat ikut terlibat menjadi tenaga bantuan medis bagi pustu dan posko kesehatan.

Pihaknya berupaya berbaur dengan masyarakat melalui ajang pertandingan olahraga seperti bola voli dan tenis yang selalu diiringi dengan menularkan wawasan kebangsaan bagi masyarakat.
Tak cukup di tingkat lokal, di tingkat internasional, pihaknya ikut mengantar Pramuka Nunukan menjadi juara umum di Tawau, Malaysia.

''Kami bersyukur keberadaan kami bisa mengantar mereka sampai ke sana, menjadi motivasi dan penyemangat bagi pelajar,'' katanya.
Bertugas di Kabupaten Nunukan memberikan kesan yang baik bagi Agustatius dan anak buahnya. Daerah ini sudah dianggap sebagai rumah, karena respon positif dari pemerintah setempat dan masyarakatnya.

Bagi mereka, bertugas menjadi penjaga perbatasan merupakan energi untuk menjadi tentara tangguh, menjadi pelopor barisan terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun disadari, dalam melaksanakan tugas-tugas di perbatasan tak semuanya bisa berjalan dengan mulus. Tugas sebagai tentara mengharuskan mereka memiliki fisik prima saat menempuh medan berat saat berpatroli. Risiko dipatok ular hingga kematian menjadi sahabat saat bertugas.
''Karena medan berat, ada anggota sakit, terlambat ditangani sampai meninggal di Seliku kemarin,'' katanya.

Duka yang dialami ini sepenuhnya dianggap sebagai ujian. Kedaulatan negara yang dipikul dipundaknya dirasakan lebih berat dari sekedar duka atas kehilangan salah satu prajurit terbaiknya.
Sitepu berpesan, pengganti pasukannya akan lebih baik dari mereka dengan terus menjaga keakraban sesama organisasi, pemda, seluruh lapisan masyarakat dan wartawan.

'Mereka merupakan mitra, menjadi kepanjangan tangan kami, terutama wartawan dari mereka sumber informasi bisa didapat dan dipelajari,'' ujarnya.







Sumber : TRIBUNKALTIM


readmore »»  

Tiba di Martapura, Jokowi Berseragam TNI



MARTAPURA (MI)Presiden RI Joko Widodo tiba bersama rombongan di titik pantau Pusat Latihan Tempur Kodiklat Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, Selasa (16/6/2015) sekitar pukul 10.36. Jokowi dan rombongan tiba dengan menggunakan mobil.


Kedatangannya lebih lama dari jadwal sebelumnya, yaitu pukul 09.30. Saat tiba, Jokowi tiba di Puslatpur, Jokowi mengenakan seragam TNI lengkap. Dia didampingi oleh sejumlah petinggi TNI.



Rencananya, hari ini, Jokowi akan menyaksikan demonstrasi latihan tempur TNI Angkatan Darat.

Sebelumnya diberitakan, latihan demonstrasi tempur melibatkan ribuan prajurit dan alat utama sistem senjata (Alutsista) yang digunakan dalam pelatihan.



Beberapa alutsista dikerahkan dalam mendukung latihan tersebut, seperti kendaraan tempur (Ranpur) berupa Tank Scorpion, Tank AMX 13, Tank Marder, Stormer, M113A1, Tank Jembatan Scorpion, AVLB dan Tank Leopard ditambah dengan Panser Anoa dan Panser Tarantula.



Selain itu dikerahkan juga puluhan unit pesawat udara dari penerbangan AD, seperti heli bolkow 105, 14 heli bell, 2 heli M1-17, 4 unit M135, dan 1 unit Cassa 212.



Latihan yang digelar TNI AD kali ini mengangkat tema "Brigade Tim Pertempuran (BTP) melaksanakan demonstrasi taktik pertempuran guna meningkatkan profesionalime prajurit dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI".







Sumber : KOMPAS
readmore »»  

Soal Imigran, Menhan Minta Australia Bertanggung Jawab


Jakarta (MI) : Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu ingin agar Australia bicara dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia untuk berdiskusi memecahkan masalah imigran.

Sebab menurut dia, negara-negara ASEAN sudah banyak memberikan bantuan untuk imigran, padahal tidak masuk dalam negara yang menandatangani ratifikasi imigran. Apalagi para imigran itu tujuannya adalah Australia.

"Mereka itu semua tujuannya ke Australia. Semuanya. Kalau kami berunding dulu dengan negara-negara ASEAN, gimana nih pengungsi bagi-bagi kan gitu. Mosok kita semua," kata Ryamizard di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 15 Juni 2015.

Kata dia, Indonesia tak masalah menampung pencari suaka itu demi kemanusiaan. Namun, banyak negara-negara ASEAN yang menampung imigran lebih banyak dari Indonesia.

"Kalau kita kan sudah cukup banyak, Malaysia juga sudah lebih banyak lagi di sana itu, yang lain ganti-ganti. Kemudian yang penting adalah bagaimana Myanmar atau Bangladesh di sana mengeremlah," ujar dia.

Untuk itulah, Ryamizard minta agar Australia juga ikut bertanggung jawab atas pencari suaka ini.

"Kalau orang warga negara kita, ya kita terima. Kalau warga negara lain ya marilah Australia dan ASEAN berembuklah bagaimana ini. Ini manusia. Kita menegakkan HAM, mari kita bersama-sama Australia dengan ASEAN, termasuk Indonesia," kata dia.

Ryamizard juga mengatakan dalam keadaan seperti ini, seharusnya Australia tidak menyalahkan Indonesia.

"Bagi-bagilah jangan sampai ada negara terlalu berat dan terbebani. Bagaimana nih cara mengatasi, sama-sama diatasi kan enak kalau begitu," ujar Menhan.







Sumber :  VIVA
readmore »»  

AS Cari Tentara Hilang di Indonesia Saat Perang Dunia II


Jakarta (MI) : Upaya Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mencari jejak prajuritnya yang hilang di Perang Dunia II menemui titik terang. Bersama Pemerintah Indonesia, AS, resmi menyepakati kerja sama pertahanan baru.

Kerja sama tersebut meliputi kesepakatan, penelitian bersama untuk menyelidiki dan mengekskavasi peninggalan serta jasad personil tentara AS di Tanah Air.

Kerja sama terjadi setelah United States Defense Prisoners of War/Missing in Action (POW/MIA), Accounting Agency (DPAA), Defense Attaché Office (DAO) Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta bersama TNI dan Pusjarah TNI sepakat DPAA akan mencari lebih dari 2.000 personel AS yang hilang saat Perang Dunia II di Indonesia.

Kesepakatan ini pun disambut oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert Blake. Menurut dia, pencarian jejak sejarah ini penting bagi anggota keluarga militer AS yang menunggu kepastian nasib anggota keluarganya yang hilang lebih dari setengah abad ini.
“Kesepakatan ini merupakan penghormatan terhadap kenangan warga negara Amerika dan Indonesia yang membela negara mereka. Kerja sama AS-Indonesia kini lebih erat dan komprehensif," kata Dubes Blake dalam keterangan Persnya kepada Liputan6.com, Senin (15/6/2015).

"Kami sangat berterima kasih atas kerja sama ini dan atas pertimbangan untuk mengizinkan kami untuk menemukan kembali personil Amerika yang hilang pada masa PD II,” sambung dia.

Selain Dubes Blake, ucapan terima kasih juga datang dari pejabat Deputi Direktur DPAA, Mayor Jenderal Kelly McKeague. Pejabat tinggi Militer AS ini menyebut Indonesia sudah mengambil langkah tepat untuk memperat hubungan kedua negara terutama dalam bidang militer.

“Misi kemanusiaan ini tidak mungkin terlaksana tanpa persetujuan dan dukungan pemerintah dan masyarakat Indonesia. Penandatanganan kesepakatan ini membangun kemitraan yang memungkinkan kita mencapai misi yang mulia ini dan membantu memberikan kepastian bagi para keluarga yang masih menanti,"

"Atas nama keluarga Amerika yang anggota keluarganya hilang di Indonesia saat Perang Dunia II, saya mengucapkan terima kasih kepada Brigjen TNI Zaedun dan tim Pusjarah atas kesediaannya untuk membantu kami. Persetujuan ini merupakan cermin persahabatan antara Republik Indonesia dan Amerika Serikat," pungkas dia. 
Sumber : Liputan6
readmore »»  

Jokowi Akan Saksikan Latihan Tempur TNI di Martapura





PALEMBANG (MI) : Presiden Joko Widodo akan menyaksikan latihan demonstrasi pertempuran TNI Angkatan Darat di Pusat Latihan Tempur Kodiklat Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Selasa (16/6/2015).

Menurut Kapendam II/Sriwijaya Kolonel Arh Saepul Mukti Ginanjar, Presiden direncanakan akan menyaksikan langsung latihan demonstrasi pertempuran tersebut. Dalam latihan demonstrasi tempur itu mengikutsertakan ribuan prajurit dan alat utama sistem senjata (Alutsista) yang digunakan dalam pelatihan.

 
 
Beberapa alutsista dikerahkan dalam mendukung latihan tersebut, seperti kendaraan tempur (Ranpur) berupa Tank Scorpion, Tank AMX 13, Tank Marder, Stormer, M113A1, Tank Jembatan Scorpion, AVLB dan Tank Leopard ditambah dengan Panser Anoa dan Panser Tarantula.
Selain itu dikerahkan juga puluhan unit pesawat udara dari penerbangan AD, seperti heli bolkow 105, 14 heli bell, 2 heli M1-17, 4 unit M135, dan 1 unit Cassa 212.


Latihan yang digelar TNI AD kali ini mengangkat tema "Brigade Tim Pertempuran (BTP) melaksanakan demonstrasi taktik pertempuran guna meningkatkan profesionalime prajurit dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI".
Sementara dalam jadwal yang diterima Antara, Presiden akan menghadiri latihan tempur tersebut sekaligus memberikan pengarahan. Acara itu juga akan dihadiri Wakil Gubernur Sumsel H Ishak Mekki serta pejabat dalam jajaran Pemerintah Provinsi Sumsel lainnya.








Sumber : KOMPAS
readmore »»  

Australia Salahkan RI Tak Bisa Jaga Wilayah Perbatasan

Australia Salahkan RI Tak Bisa Jaga Wilayah Perbatasan

Darwin (MI) : Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, melontarkan komentar pedas terhadap Indonesia.
Hal ini untuk menanggapi tuntutan Indonesia agar diberikan penjelasan mengenai laporan adanya pembayaran kru kapal pencari suaka agar bersedia kembali membawa imigran ilegal itu ke perairan Indonesia.

Menurut Bishop, justru Indonesia sendiri yang kecolongan dengan tak menerapkan pengawasan ketat terhadap area perbatasan. Sehingga, para pencari suaka bisa terus lolos dan berlayar menuju ke Negeri Kanguru dan Selandia Baru.

Harian The Australian, Senin, 15 Juni 2015, melansir ini merupakan komentar pertama Bishop, setelah pada pekan lalu, Perdana Menteri Tony Abbott menolak untuk membantah bahwa laporan tersebut tidak benar.

Dalam pengakuan kapten dan kru kapal pembawa imigran ilegal itu ke Kepolisian Rote, masing-masing dari mereka dibayar AUD$5.000 atau setara Rp51 juta. 

Pembayaran dilakukan dengan uang tunai dalam pecahan uang AUD$100. Bishop pun mengatakan siap menanti hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Indonesia terkait laporan penerimaan uang oleh kru kapal pencari suaka. Saat ini, kapten dan kru kapal telah ditahan oleh Polisi Rote untuk dimintai keterangan. 

"Cara paling baik bagi Indonesia menyikapi kekhawatiran Operasi Kedaulatan Perbatasan yaitu Indonesia melakukan operasi perbatasannya sendiri," kata Bishop. 

Dia menambahkan operasi kedaulatan perbatasan perlu dilakukan karena kapal dari Indonesia dengan kru yang juga orang Indonesia berhasil meninggalkan teritori Indonesia dengan tujuan untuk mengarah ke Australia.

Sementara itu, di saat yang bersamaan sindikat tersebut turut membawa para pencari suaka. 

Pernyataan itu diduga akan kian membuat tegang hubungan kedua negara usai sebelumnya diterpa isu hukuman mati terhadap dua bandar narkoba, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Komentar keras Bishop karena Australia yakin tak ada perbuatan yang mereka langgardi atas laut.

Sementara, otoritas Australia yang terlibat dalam aksi dorong perahu telah memastikan keselamatan para penumpang di dalam kapal. Selain itu, media Australia memperoleh informasi dari sumber terpercaya Polisi Indonesia turut terlibat dalam aksi sindikat pencari suaka. 

Mereka diduga menerima suap agar bisa meloloskan kapal pencari suaka berlayar ke Australia.

Menurut media Australia, pernyataan seorang pejabat kepolisian Indonesia yang kerap mengatakan mereka prihatin dengan keselamatan para pencari suaka tidak konsisten dengan fakta banyaknya personel kepolisian yang terlibat dan menerima suap dari sindikat tersebut.

Di dalam negeri Australia, isu ini menjadi santapan empuk bagi kelompok oposisi untuk terus mendesak pemerintahan Abbott agar memberikan penjelasan mengenai laporan tersebut. Partai oposisi, Buruh, justru menilai Abbott salah langkah jika selama ini bersikap diam terkait laporan tersebut. 

Pemimpin Partai Buruh, Bill Shorten pada hari Minggu kemarin menuding Menteri Imigrasi, Peter Dutton, yang justru menyelesaikan masalah dengan menambah isu baru. 

"Ini waktunya bagi Abbott untuk membuat jelas, apakah uang rakyat dari pembayar pembajak telah dibayarkan oleh pemerintahan Abbott ke para kriminal sindikat pencari suaka atau tidak? Warga Australia layak diberi penjelasan," tanya Shorten. 

Dari Brisbane, Menteri Imigrasi, Peter Dutton mengubah pernyataannya pada pekan lalu. 

"Pemerintah akan selalu melakukan yang terbarik bagi warga Australia dan akan bertindak sesuai dengan hukum dan aturan internasional. Namun, sejak awal kami telah mengatakan tak akan mengomentari operasi tertentu secara khusus," kata Dutton. 

Abbott sendiri pada Jumat pekan lalu juga menolak untuk menjelaskan secara detail apakah laporan itu benar. Baginya yang terpenting, kapal pencari suaka berhasil dicegat, walau harus menghalalkan berbagai cara.

"Apa yang kami lakukan adalah kami menghentikan kapal dengan berbagai upaya. Saya hanya tak ingin menjelaskan lebih jauh bagaimana itu dilakukan, karena banyak hal yang harus dilakukan oleh badan penegakkan hukum. Saya pikir itu perlu, karena hal tersebut sulit dan di waktu tertentu pekerjaan ini berbahaya," kata pemimpin Partai Liberal itu saat diwawancarai di radio 3AW.

Abbott malah yakin dengan berhasil menghentikan kapal, artinya Australia berhasil mencegah tak ada lagi pencari suaka yang tewas di laut. 

"Justru dengan menghentikan kapal, kami berhasil meningkatkan hubungan kami dengan Indonesia," Abbott menambahkan.
Sumber : VIVA
readmore »»  

Pemerintah Akan Kucurkan Rp1,4 Triliun untuk Bangun Pulau Sebatik

Presiden Joko Widodo meninjau Pos Perbatasan Sei Pancang (Patok 1) Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik, 16 Desember 2014. Foto: Setpres
Nunukan (MI) : Pemerintah segera mengucurkan anggaran Rp1,4 triliun untuk membangun sarana dan prasarana di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Hal itu merupakan bentuk perhatian pemerintah ke wilayah perbatasan.
"Dana sebesar Rp1,4 triliun segera dikucurkan untuk membangun sejumlah fasilitas infrastruktur di wilayah perbatasan di Kabupaten Nunukan. Dana ini khusus untuk pembangunan di Pulau Sebatik," kata Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno di Nunukan, kemarin.

Selain dana itu, katanya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga telah mengalokasikan dana untuk membangun wilayah perbatasan di Kabupaten Nunukan dengan jumlah yang lebih besar.
Dia menegaskan Presiden Joko Widodo komitmen membangun wilayah perbatasan yang selama ini masih banyak mengalami kendala dan keterbatasan. Dia menyatakan, Presiden serius ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan.

Langkah awal yang dilakukan, lanjutnya, adalah membangun fasilitas yang dapat memperlancar transportasi seperti jalanan, pelabuhan, dan kapal angkutan, serta ketersediaan sarana lainnya seperti pasar dan sekolah.
Dia juga menyampaikan, pemerintah intensif berkunjung ke wilayah perbatasan untuk melihat langsung kondisi masyarakat di wilayah perbatasan. Dengan cara itu, keterbatasan dan penyebab ketergantungan warga Indonesia dengan negara tetangga bisa diketahui.

Tedjo berharap, melalui pembangunan sejumlah fasilitas yang dianggap mendesak itu, tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan semakin membaik. Ketergantungan dengan negara lain mulai berkurang.
Sumber : Metrotvnews

readmore »»  

Australia Suap Penyelundup Manusia, Moeldoko: Modus Baru

 Australia Suap Penyelundup Manusia, Moeldoko: Modus Baru

Jakarta (MI) : Pemerintah Australia diduga melakukan penyuapan kepada awak kapal pencari suaka agar kembali ke Indonesia. Terkait hal ini, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyebut dugaan kasus suap itu sebagai modus baru dalam kasus para pencari suaka.

"Kayaknya model baru ya. Model baru," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6).

Moeldoko menilai kasus seperti itu menjadi domain Kementerian Luar Negeri untuk menyelesaikan, karena terkait dengan kebijakan luar negeri kedua negara. Meski demikian, Moeldoko berjanji pihaknya tetap melakukan pengamanan di wilayah perairan perbatasan.

"Tapi karena keterbatasan dan keluasan wilayah, kadang-kadang ada yang kosong ya. Itu masalahnya. Tetap pengamanan berjalan," kata dia meyakinkan.

Menurut dia, TNI tidak mampu mendeteksi praktik-praktik seperti ini lantaran kasus ini terjadi di wilayah Australia. "Ya kalau keberadaannya di wilayah mereka (Australia) juga sulit," ujar Moeldoko.

Tuduhan suap yang merebak sejak pekan lalu ini menyusul laporan dari Kapolres Rote, AKBP Hidayat, yang mengatakan enam awak kapal pencari suaka mengaku telah dibayar masing-masing US$5 ribu, atau sekitar Rp66 juta oleh pejabat Australia. Para penyulundup diminta memutar kapal mereka sehingga mereka tidak memasuki perairan Australia.

Dugaan penyuapan juga menguat menyusul laporan juru bicara badan pengungsi PBB, James Lynch, pekan lalu yang menyatakan bahwa staf UNHCR telah mewawancarai 65 manusia perahu, "dan mereka menyatakan bahwa para awak kapal menerima pembayaran."

Sejak tuduhan ini merebak, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri RI telah meminta penjelasan kepada pemerintah Australia. Juru bicara Kemenlu RI, Arrmanatha Nasir sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah Australia melakukan tindakan “paling rendah” jika tuduhan ini benar adanya.

Menlu RI, Retno Marsudi juga telah menanyakan masalah ini kepada duta besar Australia di Indonesia, Paul Grigson, yang baru kembali ke Jakarta sejak dipanggil pulang ke Australia pasca eksekusi mati duo Bali Nine, dua warga Australia dalam kasus narkoba.

Namun, pada Ahad (14/6), Abbott kembali menolak memberikan penjelasan yang rinci soal kebenaran tuduhan tersebut. Abbott hanya meminta Indonesia dan warga Australia meyakini bahwa pemerintahannya "siap melakukan apapun yang diperlukan" untuk menghentikan para penyelundup membawa ribuan pencari suaka ke Australia.







Sumber : CNN
readmore »»  

DPR: Alutsista TNI di Wilayah Perbatasan Masih Minim


Nunukan (MI) : Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengakui kondisi alutsista bagi prajurit TNI dan kepolisian di wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih sangat minim.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI yang membidangi Hukum dan Keamanan, Desmond J Mahesa di Nunukan, Senin (15/6), mengutarakan kunjungannya di daerah itu dalam rangka melihat langsung kondisi keamanan dan pertahanan negara di perbatasan RI-Malaysia termasuk kemampuan alutsista yang dimiliki.
Berkaitan dengan itu, untuk membuktikan kekurangan peralatan tersebut, dia mengatakan, persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah masih minimnya peralatan perang dan pengamanan perbatasan.
"Saya sengaja datang disini (Nunukan) untuk melihat langsung kondisi peralatan yang dimiliki aparat pengamanan TNI dan kepolisian di perbatasan," ujar legislator Partai Gerindra ini seraya menambahkan Polda Kaltim telah melaporkan soal kekurangan pesawat dan persenjataan bagi penjaga wilayah perbatasan sehingga perlu direspon.
Persoalan pengamanan perbatasan, lanjut Desmond J Mahesa, tentunya dibutuhkan alutsista yang memadai termasuk jumlah personil semua jajaran TNI dan kepolisian di Kabupaten Nunukan yang luas wilayahnya berbatasan dengan Negeri Sabah hingga Negeri Sarawak, Malaysia.
Desmond J Mahesa juga menanggapi soal pesawat dan kapal perang Malaysia sering ditemukan memasuki wilayah Indonesia di daerah itu karena kemungkinan ingin menguji kemampuan aparat keamanan.
Oleh karena itu, apabila kondisi alutsista kita masih sangat minim di wilayah perbatasan maka tidak tertutup kemungkinan akan melakukan langkah yang sama pada masa yang akan datang yang berdampak pada kewibawaan NKRI.
Berkaitan dengan persoalan yang dialami di wilayah perbatasan ini, Komisi III DPR RI tentu akan membicarakannya dengan pemerintah untuk menemukan solusi agar negara tetangga tidak serta merta melakukan tindakan-tindakan yang provokatif.
Sumber :  Harianterbit
readmore »»  

TNI akan Ingatkan Pesawat Malaysia untuk Tak Masuk Ambalat


Jakarta (MI) : Pesawat militer Malaysia beberapa kali kedapatan melanggar dan masuk ke wilayah Indonesia. Dari hasil evaluasi TNI, diduga terdapat unsur kesengajaan bagi pesawat asal Negeri Jiran itu ketika memasuki dan melihat wilayah Nusantara, khususnya di wilayah sengketa Ambalat.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan dengan mengingatkan pimpinan tertinggi tentara Malaysia agar tak melakukan hal itu.

"Pasti nanti akan diingatkan ya," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6).

Moeldoko menyampaikan pihaknya sebenarnya telah bersepakat dengan panglima tentara Malaysia untuk tidak membuat hubungan antara kedua negara kembali memanas akibat isu perselisihan di sekitar Ambalat.

"Sebenarnya kami sudah bersepakat dengan panglima mereka (Malaysia) untuk masalah Ambalat jangan lagi. Kita ada di sana, kita saling menjaga saja. Kalian menjaga, saya juga menjaga. Kami sudah sepakat," kata dia.

Moeldoko mengaku belum tahu apakah akan memberikan teguran atau tidak. Pasalnya, menurut dia, dalam melakukan diplomasi harus diawali dengan peringatan halus.

"Dalam dunia diplomasi ada yang diawali dari soft dulu. Kenapa kalian mesti begitu? Kan begitu," ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meyakini hubungan Indonesia dan Malaysia tidak akan memanas akibat isu perselisihan di sekitar Ambalat yang luasnya mencapai 15 ribu kilometer itu.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini menegaskan TNI tidak menggelar kekuatan di sekitar Blok Ambalat. "Tidak ada gelar kekuatan. Saya barusan dari sana. Tidak ada masalah," ujar Ryamizard di Garut, Jawa Barat, Jumat (12/6).

Pemerintah, menurut Ryamizard, mengedepankan dialog dalam menyelesaikan isu pertahanan dan keamanan. Apalagi, hal ini diamanatkan dalam perjanjian di antara negara ASEAN.

"Kita harus jaga persahabatan, kan sudah sepakat, 48 tahun lalu (saat pendirian ASEAN). Kalau ada perselisihan, selesaikan dengan dialog untuk mencari solusi. Tidak main tembak-tembak begitu," kata Ryamizard.

Saat ini TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara sedang menggelar Operasi Sakti di sekitar Blok Ambalat. Keduanya menurunkan alutsista mereka, seperti tiga KRI, dua pesawat Sukhoi 27/30, dan tiga F16 Fighting Falcon.

Sementara itu, petugas Landasan Udara Tarakan, Kalimantan Timur, sejak Januari hingga Mei tahun ini mencatat, terdapat sembilan pesawat berbendera Malaysia yang telah memasuki wilayah udara Indonesia, tepatnya di atas Blok Ambalat.

Sejak dekade 1960-an, Indonesia dan Malaysia memang kerap bersitegang terkait Blok Ambalat. Puncak perseteruan terjadi pada tahun 2002, ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia pada sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang berada di Blok Ambalat. 







Sumber : CNN
readmore »»  

Panglima TNI Tawarkan Australia & Amerika Dilatih AD


JAKARTA (MI) : Usai prajurit Angkatan Darat (AD) menjuarai pelombaan menembak dalam ajang Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2015 beberapa waktu lalu, pihak tuan rumah, yakni Australia dan Amerika, memprotes senjata yang digunakan prajurit Angkata Darat Indonesia.

Meski demikian, Panglima TNI, Jenderal Moeldoko menanggapi dengan santai komplain yang dilakukan kedua negara maju itu.

"Mereka (Australia dan Amerika) komplain senjata buatan Pindad dan minta senjata dibuka," kata Moeldoko di kawasan latihan Kostrad, Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat, Jumat 11 Juni 2015.

Moeldoko menegaskan, hasil yang diperoleh prajuritnya berasal dari latihan dan bukan karena senjata yang digunakan. Bahkan, pihaknya mengaku pernah mengirim seorang sersan guna melatih prajurit Brunei Darussalam untuk ajang serupa.

"Perlombaan Bisam (lomba tembak), seluruh ASEAN diundang. Brunei tidak pernah dapat medali, kita kirim sersan untuk melatih. Tidak sampai setahun, dapat medali," imbuhnya.

Sebab itu, Moeldoko menawarkan jasa serupa kepada pihak Australia dan Amerika jika mereka masih tidak rela kalah dari Indonesia. Seperti diketahui, dari 50 medali emas yang diperebutkan, TNI AD memperoleh 30 emas. Selain itu, 16 perak, dan 10 perunggu juga berhasil diraih dari event yang digelar pada 20-23 Mei di Packpunyal, Australia.

"Bukan senjata, tapi berlatihnya. Kalau Amerika dan Australia perlu dilatih, ya kita latih," tegasnya. 



Moeldoko Ingin Buktikan Prajurit TNI Lebih Tangguh

Moeldoko Ingin Buktikan Prajurit TNI Lebih Tangguh (Foto: Ilustrasi)

Tawaran Panglima TNI Jenderal Moeldoko agar TNI melatih prajurit Australia dan Amerika Serikat menyusul kemenangan yang diraih TNI dalam perlombaan menembak menandakan kalau tentara di Tanah Air memiliki kemampuan yang optimal kendati belum dilengkapi alutsista yang memadai.

Meskipun kemenangan prajurit TNI ini sempat diprotes oleh Australia dan Amerika Serikat yang merasa keberatan dengan senjata buatan Pindad.

“Enggak apa-apa, itu menandakan TNI punya banyak keunggulan terutama dalam perang di hutan. Kelebihan TNI itu banyak sekali salah satunya perang di hutan itu,” ujar pengamat militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati kepada Okezone, Minggu (14/6/2015).
Nuning sapaan akrabnya menambahkan, saat ini perlengkapan TNI memang belum 100 persen bila dibandingkan dengan persenjataan yang dimiliki negara maju lainnya. Tetapi dengan prestasi yang didapat TNI dan kemudian menawarkan untuk mengajari prajurit negara lain itu mencerminkan kemampuan TNI tidak kalah dengan prajurit lainnya.

“TNI itu banyak ilmunya, sementara tentara bule punya ilmu dan alutsista canggih, maksudnya TNI memiliki ketangguhan meski belum mendapat penguatan alusista 100 persen,” pungkasnya.

Diketahui, prajurit Angkatan Darat (AD) menjuarai pelombaan menembak dalam ajang Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2015 beberapa waktu lalu. Pihak tuan rumah, yakni Australia dan Amerika Serikat, memprotes senjata yang digunakan prajurit Angkata Darat Indonesia yang berasal dari Pindad.

Namun, protes tersebut ditanggapi santai Jenderal Moeldoko dan justru menawarkan agar prajurit Amerika dan Australia dilatih TNI supaya bisa menang.









Sumber : Okezone
readmore »»  

Militer Amerika Serikat Bingung Pasukan Raider Latihan Berat


GARUT (MI) Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu berbagi pengalaman ketika pasukan Raider TNI AD terbentuk. Adanya pasukan Raider yang memiliki kualifikasi setara tiga prajurit infanteri biasa ternyata mengagetkan militer Amerika Serikat (AS). Pasalnya, masa pendidikan dan latihan yang dijalani pasukan Raider lebih berat ketimbang pasukan khusus AS.

"Amerika bingung, ini latihan apa. Mereka (AS) latihan 2,5 bulan. Dulu saya latihan enam bulan, (pasukan Raider) tiga bulan saya tambah lagi. Tentara itu latihan, latihan, latihan terus," kata Ryamizard ketika berkunjung ke Markas Batalyon Infantri 303/Raider Setia Sampai Mati, Garut, Jumat (12/6) petang WIB.

Batalyon Raider dibentuk pada 22 Desember 2003 ketika Ryamizard menjadi kepala staf Angkatan Darat (KSAD). Sebagai kekuatan penindak, satu batalyon raider ketika diterjunkan ke medan peperangan setara dengan tiga batalyon infanteri biasa.
Menurut Ryamizard, pasukan Raider harus terus menjaga motivasi tempur demi menjaga marwah sebagai pasukan khusus. "Tanpa semangat, itu seperti orang mati. Semangat menggebu-gebu itu melebihi alutsista," ujar Ryamizard.

Hanya, ia berpesan, agar latihan yang dijalani pasukan Raider perlu mendapat tambahan lagi. Misalnya, saran dia, pasukan Raider bisa bertahan di hutan dengan memakan ular cobra berbisa. Menurut mantan panglima Kostrad tersebut, latihan tambahan itu penting dilakukan demi menjaga kualifikasi pasukan khusus agar memiliki keunggulan dibandingkan militer negara lain.

Ryamizard pun menyebut, pasukan khusus Jepang ketika menjalani Perang Dunia ke-II melawan Barat, yang mengedepankan semangat membela negaranya dengan penuh ketulusan hati. "Saya terobsesi tentara Jepang saat Perang Dunia ke-II. Lebih baik mati daripada kalah perang. Yang baik apa pun dari negara lain kita contoh. Tak baik dari negara kita pun, tak perlu kita contoh," katanya.

Dia melanjutkan, pantang menyerah orang Jepang harus ditiru. Kehebatan tersebut sangat layak diterapkan oleh prajurit Raider. "Kalau boleh, Raider ini harus harakiri saja. Sanggup?" Seratusan prajurit Raider kompak menjawab, "Sanggup." 



Menhan Ryamizard: Satu Pasukan Raider Setara Tiga Tentara Infanteri


Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan, di dalam satu batalyon pasukan Raider itu kemampuan dan keterampilannya setara dengan tiga pasukan batalyon infanteri biasa. Hal itu lantaran pasukan Raider termasuk bagian dari pasukan khusus, yang dilatih secara keras. Menurut dia, saat ini terdapat 20 batalyon Raider di seluruh Indonesia, di bawah naungan Kostrad.

"Satu batalyon Raider itu setara tiga batalyon. Kalau 20 batalyon itu benar-benar Raider, bangsa ini tak perlu takut lagi. Bayangkan, 60 batalyon digerakkan, itu luar biasa," kata Ryamizard saat mengunjungi Markas Batalyon Infanteri 303/Raider SSM di Cikajang, Garut, Jumat (12/6) petang WIB.

Ryamizard menjelaskan, pasukan Raider itu adalah pasukan Raid yang melaksanakan operasi penyergapan, penghancuran komando musuh, dan pembebasan tawanan dengan cepat dan senyap. Sehubungan dengan kemampuan pelaksanaan tugas tersebut, kata dia, pasukan khusus bukan hanya untuk menjadi kesombongan dan gagahan saja.

"Pasukan ini diperlukan untuk melaksanakan tugas yang sangat berbahaya yang tidak bisa dilakukan oleh pasukan infanteri biasa," kata mantan kepala staf Angkatan Darat (KSAD) tersebut.

Menurut dia, profesionalisme dan sikap dari pasukan Raider harus tetap dijaga dengan terus mengadakan latihan-latihan yang terampil. “Pasukan khusus dilatih sesuai dengan kemampuannya. Jadi latihan pasukan raid jangan sampai dicampurkan dan dengan latihan pasukan konvensional. Karena ini menjadi akan tidak professional,“ kata pendiri pasukan Raider itu.

Di depan seratusan prajurit yang dipimpin komandan Letkol Iwan Setiawan, Ryamizard berpesan bahwa dalam memenangkan peperangan, hal itu bukan lah dihitung dari kehebatan alutsista yang dimiliki. Dia melanjutkan, semangat kemenangan yang tercipta dari setiap pasukan militer bisa menjadi penentu kemenangan melawan lawan.

”Saya agak kecewa, jika semangat menggebu-gebu memaksakan alutsista yang besar-besar tanpa adanya semangat dari personelnya. Karena kalau tidak ada semangat dari orangnya, itu alutsista tidak akan berguna,” katanya.

Ryamizard juga menekankan kepada pasukan Raider untuk memegang teguh disiplin tempur. Terkait disiplin tempur, ia mengingatkan, pasukan Raider tidak boleh mempergunakan alat komunikasi di sembarang tempat saat melaksanakan tugas.
Contoh lain disiplin tempur yang dimaksud adalah faktor keamanan dalam penggunaan senjata tempur. Kalau ada pasukan Raider ketika mengosongkan senjata malah meledak, ia mempertanyakan pendidikan yang dijalaninya.






Sumber : REPUBLIKA
readmore »»  

Menhan: Pesawat Asing Masuk Wilayah RI, Jangan Dikhawatirkan

Menhan: Pesawat Asing Masuk Wilayah RI, Jangan Dikhawatirkan

Jakarta (MI) : Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, menanggapi santai laporan militer yang mendeteksi sejumlah pesawat militer/sipil asing yang memasuki tanpa izin wilayah Indonesia di perairan Ambalat. Pesawat asing yang dilaporkan adalah milik militer negara Malaysia.

Menurut Menteri, masyarakat tak perlu khawatir dan terprovokasi dengan laporan itu. Indonesia dan Malaysia, katanya, sudah menjalin persahabatan selama 48 tahun. Kedua negara juga bersepakat untuk menempuh jalan diplomasi kalau terjadi permasalahan atau sengketa.

"Kita sudah sepakat 48 tahun lalu jika ada perselisihan harus diselesaikan secara diplomatis," ujar Menteri kepada wartawan di Komplek Korps Bela Negara Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat, 12 Juni 2015.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan), kata Ryamizard, sudah berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada intinya, Kemenhan meminta peristiwa seperti itu tak perlu diributkan, apalagi kalau cuma ada pesawat melintas.

"Jangan khawatir, saya baru pulang dari Ambalat, memang tidak apa-apa, hanya lewat saja," kata Ryamizard.

Ryamizard menambahkan, tidak ada langkah yang mengarah kepada tidakan kekerasan untuk mengatasi pelanggaran kesepakatan tentang teritorial, seperti masuknya pesawat asing ke wilayah perairan Indonesia.

"Tidaklah. Kita jangan sampai menodai perjanjian 48 tahun lalu, kita tidak ingin perang, karena kasihan masyarakat," katanya.

Sembilan pesawat asing

Tiga pesawat tempur F-16 milik TNI disiagakan di Pangkalan Udara (Lanud) Tarakan, Kalimantan Utara, pada Kamis, 11 Juni 2015. Pesawat-pesawat itu didatangkan langsung dari Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur.

TNI menyiagakan jet-jet tempur itu menyusul laporan bahwa ada peningkatan pelanggaran wilayah kedaulatan Indonesia, terutama di perairan Ambalat, kawasan sengketa. Radar TNI mendeteksi sedikitnya sembilan pesawat sipil dan militer asing tanpa izin memasuki wilayah Indonesia sejak Januari sampai Mei 2015.

Menurut Komandan Lanud Tarakan, Letnan Kolonel Penerbang Tiopan Hutapea, ragam modus pelanggaran batas oleh pesawat sipil atau militer asing itu. Ada yang sengaja melintas dengan alasan patroli, melenceng dari jalur seharusnya dan dibelokan ke Ambalat, dan lain-lain.

Tiopan menjelaskan, setelah mengetahui pesawat asing tak dikenal itu, dia langsung berkoordinasi dengan Mabes TNI Angkatan Udara. Sehari kemudian, pesawat tempur Sukhoi dan F16 langsung berpatroli di kawasan sengketa itu.

Namun, Tiopan menambahkan, sehari tak dipatroli dengan pesawat tempur, pesawat asing milik negara tetangga kembali mengudara di Ambalat. Kurangnya pesawat intai di Tarakan menjadi salah satu hal yang membuat TNI Angkatan Udara tidak bisa bertindak cepat saat pesawat militer negara tetangga memasuki kawasan terlarang.

"Sekarang, pesawat tempur hanya ada di Madiun dan Makassar, dan itu jauh dari Ambalat. Butuh 20-30 menit hingga sampai di lokasi tempat pesawat asing itu berada. Kami tetap berkoordinasi dengan pimpinan untuk selanjutnya disiagakan pesawat intai di Tarakan agar lebih mudah menyergap musuh," kata Tiopan.

Tiopan menjelaskan, ada dua tindakan yang dilakukan jika pesawat asing masuk ke Indonesia. Pertama, mengirim surat melalui diplomatik dan kedua menghancurkan.

"Selama ini dengan cara diplomatik dinilai tidak ampuh, sebab akan diulang terus. Buktinya masih ada yang melintas dengan sengaja meski sudah tahu itu kawasan sengketa. Kan, sama saja provokasi," ujarnya.

Cara kedua adalah penghancuran pesawat asing dengan pesawat intai bisa saja dilakukan dengan Sukhoi. Tetapi cara kedua ini belum bisa dilakukan mengingat tidak ada pesawat di Tarakan yang bisa dengan cepat mengeksekusi target.

Ambalat

Ambalat adalah blok laut luas mencakup 15.235 kilometer persegi yang terletak di Laut Sulawesi atau Selat Makassar dan berada di dekat perpanjangan perbatasan darat antara Sabah, Malaysia, dan Kalimantan Timur, Indonesia.

Penamaan blok laut ini didasarkan atas kepentingan eksplorasi kekayaan laut dan bawah laut, khususnya dalam bidang pertambangan minyak.








Sumber : VIVA
readmore »»