Tampilkan postingan dengan label ARMADA TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARMADA TNI AL. Tampilkan semua postingan

TNI AL Gagalkan Upaya Perompakan Kapal Asing

KRI Sembilang-850 tengah berlayar di Selat Philips, Senin (29/6). Foto: Armabar

Jakarta (MI) : Kapal Perang (KRI) Sembilang-850 milik Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) TNI AL berhasil menggagalkan upaya percobaan perompakan terhadap MV Levan, kapal kargo berbendera Bahama yang tengah berlayar di Selat Philips, Senin ini.

"Penggagalan upaya perompakan terhadap MV Levan ini bermula saat KRI Sembilang-850 melaksanakan patroli laut di sekitar perairan Selat Philips pada pukul 03.00 WIB tadi," kata Kepala Dinas Penerangan Armabar, Letkol Ariris Miftachurrahman, dalam siaran tertulisnya, Senin (29/6/2015).

Saat itu, personel KRI Sembilang menerima informasi melalui telepon dari Western Fleet Quick Response (WFQR) Koarmabar yang berada di Batam tentang adanya upaya percobaan perompakan kapal asing tersebut.


Informasi yang diterima WFQR ini diperoleh dari Maritime Security Task Force (MSTF) ME3 KEITH Singapura yang menyatakan MV Levan, saat berlayar pada posisi 01° 07’ 474’’ U - 103° 45’ 581’’ T, didekati boat tak dikenal dengan tiga orang pengawak.

Setelah menerima informasi tersebut, KRI Sembilang-850 segera bergerak menuju sasaran guna melaksanakan pengecekan. "Kurang lebih 30 menit KRI Sembilang-850 mendeteksi adanya sebuah obyek berupa kapal," jelasnya.


Guna memastikan kapal yang dicari, KRI Sembilang-850 mendekati kapal tersebut dengan jarak 500 yard. Setelah disorot dengan lampu, diketahui kapal tersebut adalah MV Levan yang sedang didekati sebuah boat.

Mengetahui kehadiran kapal perang, kata Ariris, boat yang berusaha mendekat MV Levan akhirnya melarikan diri menuju selatan ke arah barat Pulau Pemping dan selanjutnya hilang dari pantauan radar.


Setelah memastikan Kapal kargo MV Levan dalam keadaan aman, KRI Sembilang-850 melanjutkan patroli laut. KRI Sembilang-850 secara rutin melaksanakan pengecekan serta pemantauan terhadap kapal-kapal yang melintasi di sekitar perairan Selat Philips. Selat Philips (Singapura) berada di titik tersempit di Selat Malaka. Selat ini merupakan salah satu jalur terpadat laut dunia.
 







Sumber : Metrotvnews
readmore »»  

KSAL: Sebanyak 64 KRI Amankan Perairan Barat Indonesia

KSAL Laksamana Ade Supandi usai meninjau KRI Rigel 933 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (15/5).

TANJUNGPINANG (MI) : Sebanyak 64 unit KRI mengamankan perairan di wilayah barat Indonesia sehingga nelayan lokal tidak perlu merasa tidak dilindungi dari ancaman nelayan asing. "Perairan Kepri ini salah satu yang diamankan. Selama ini aman-aman saja," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi di gedung Daerah Tanjungpinang, Batam, Senin (25/5).

Ade Supandi yang pernah menjabat komandan Guskamlabar itu menjelaskan, TNI AL memiliki kapal cepat untuk mengamankan perairan di Kepri maupun perairan di wilayah barat Indonesia lainnya. Kapal cepat itu dipergunakan untuk merespons laporan bila ada ancaman atau gangguan dari pihak-pihak tertentu maupun dari pihak asing.
"Jadi kalau ditemukan pelanggaran di perairan, kami langsung dapat merespons segera," ujar mantan kepala staf umum TNI tersebut.

Dia mengimbau nelayan tidak merasa takut dengan adanya gangguan dari nelayan asing. Jika nelayan asing mengganggu nelayan lokal, TNI AL berada di depan untuk mengejar dan menangkap nelayan asing tersebut. "Kalau ada nelayan kita yang diuber-uber pihak asing, kita akan uber kembali mereka, sampai dapat," katanya seusai melakukan pertemuan singkat dengan Gubernur Kepri HM Sani.
Namun, Ade mengingatkan, nelayan untuk tidak memasuki wilayah negara tetangga. Nelayan hanya diperbolehkan menangkap ikan di wilayah Indonesia. Nelayan juga tidak diperbolehkan menggunakan pukat harimau saat menangkap ikan. "Nelayan harus mengantungi izin sebelum menangkap ikan," ujarnya.






Sumber : REPUBLIKA
readmore »»  

Kapal Perang Koarmatim Ikuti IMDEX ASIA 2015 di Singapura


Changi (MI) : Setelah berlayar mengarungi Laut Jawa dan Selat Karimata selama tiga hari serta melaksanakan Bekal Ulang (Bekul) di Fasharkan Mentigi Tanjung Uban Kepulauan Riau, KRI John Lie-358 yang dikomandani Kolonel Laut (P) Antonius Widyoutomo, S.H. bersama KRI Tombak-629 yang dikomandani Letkol Laut (P) Dikry Rizzany Nurdiansyah, merapat di Changi Naval Base Singapura.
Operasi yang diberi sandi “Singa Malaka 2015” ini mengemban tugas untuk mengikuti ajang pameran, latihan bersama dan konferensi pertahanan maritim  bertaraf internasional yaitu The International Maritime Defence Exhibition and Conference (IMDEX Asia) 2015 yang digelar di Changi Naval Base Singapura (18/5).
Terjangan ombak dan tingginya gelombang pada saat operasi tidak menggetarkan semangat seluruh personel KRI John Lie-358 untuk melaksanakan latihan-latihan antara lain latihan Visit Board Search and Seizure (VBSS), latihan Pusat Informasi Tempur (PIT), dan pentas seni dalam rangka menghadapi even pameran bertaraf internasional tersebut.
Dalam IMDEX Asia yang diselenggarakan mulai tanggal 19 Mei sampai dengan 21 Mei 2015 ini, Indonesia mengirimkan kapal perang dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) jenis Multi Role Light Fregate (MRLF) yaitu KRI John Lie-358 buatan BAE Inggris dan jenis Kapal Cepat Rudal (KCR)-60 yaitu KRI Tombak-629 produksi putra-putri terbaik bangsa Indonesia PT. PAL Indonesia untuk berpartisipasi dalam pameran kapal perang sekawasan Asia Pasifik tersebut. Kedua kapal perang itu akan bergabung dengan kapal perang dari Australia, Bangladesh, Jerman, India, Malaysia, Selandia Baru, Peru, Filipina, Afrika Selatan, Sri Lanka, Swedia, Uni Emirat Arab, Inggris, Uruguay, dan Vietnam.
Selama tiga hari IMDEX Asia 2015 berlangsung seluruh peserta akan mengikuti beberapa kegiatan seminar dan Cocktail Party. Pada saat acara Cocktail Party, KRI John Lie-358 dan KRI Tombak-629 akan menampilkan pentas seni budaya Indonesia tari Saman dari Aceh, tari Reog Ponorogo, tari Perang dari Papua, serta pentas band yang akan dibawakan oleh personel dari kedua KRI tersebut.







Sumber : TNI AL
readmore »»  

Ini Canggihnya KRI Rigel 933, Kapal Buatan Prancis yang Perkuat TNI AL



Jakarta (MI) : Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (Dishidros) bertugas menyediakan data dan informasi Hidro-oseanografi berupa peta laut untuk navigasi pelayaran. Guna memperkuat pencarian hasil survei, TNI AL meluncurkan kapal baru yakni KRI Rigel 933.


Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade supandi mengklaim KRI Rigel 933 merupakan kapal perang jenis Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) yang tercanggih se-Asia. 

Kapal perang tersebut dibangun di Prancis dan untuk berlabuh ke Indonesia, KRI Rigel 933 bertolak dari dermaga Les Sables d'Olonne, Perancis pada 26 Maret dan tiba hari ini di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

"Ini (KRI Rigel 933) dari negara Perancis untuk memperkuat jajaran TNI AL, tentunya kapal ini memiliki berbagai kemampuan dalam melakukan survei dan pemetaan, dan mampu melakukan pengumpulan data," ujar Ade di Dermaga JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (15/5/2015).

Untuk menempuh perjalanan selama 50 hari dari Perancis ke Indonesia, kapal ini dipimpin oleh komandan Letkol Laut M. Wirda Prayogo dan diawaki 30 orang prajurit TNI AL. KRI Rigel 933 dibangun atas kerja sama Kemenhan dengan pihak galangan kapal OCEA Perancis.

"Paling tidak kapal ini bisa memenuhi kebutuhan kapal-kapal survei dalam rangka pemuktahiran data-data perairan kita, baik untuk kepentingan laut maupun kepentingan navigasi. Beberapa produk peta laut membutuhkan keberadaan kapal-kapal survei," jelasnya.

Adapun, kapal tersebut terbuat dari alumunium dengan bobot 560 ton dengan panjang 60,1 meter dan lebar 11,5 meter. 



Dilengkapi dengan peralatan AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang berfungsi melaksanakan pencitraan bawah laut sampai dengan kedalaman 1.000 meter dan mengirimkan kembali data secara periodik ke kapal utama dalam hal ini kapal BHO.


Selain itu, kapal ini juga dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), SSS (Side Scan Sonar), Laser Scaner untuk mendapatkan gambaran daratan, AWS (Automatic Weather Station), Echosounder Multibeam laut dalam dan Singlebeam, Peralatan CTD (Conductivity Temperatureand Depth), Gravity Cores, kelengkapan Laboratorium serta kemampuan survei perikanan.

Kapal ini juga dilengkapi dengan persenjataan mitraliur kaliber 20 mm dan kaliber 12,7 mm. KRI Rigel 933 akan masuk dalam jajaran satuan survei Dishidros TNI Angkatan Laut yang bermarkas di Jakarta. 



KRI Rigel merupakan jenis MPRV (Multi Purpose Research Vessel), yang merupakan sejarah baru di jajaran kapal-kapal TNI AL dalam memodernisasi armada kapal, khususnya kapal survei hidro-oseanograf.










Sumber : Detik

readmore »»  

KSAL: Kapal Canggih KRI Rigel 933 Perkuat TNI AL Lakukan Survei Pemetaan Laut



Jakarta (MI)TNI AL kehadiran amunisi baru untuk memperkuat penyediaan data dan informasi Hidro-oseanografi berupa peta laut dengan datangnya KRI Rigel 933 di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakut, Jumat (15/5/2015) pagi ini. Kapal tersebut diklaim sebagai kapal survei tercanggil se-Asia.


"Ini (KRI Rigel 933) dari negara Perancis untuk memperkuat jajaran TNI AL, tentunya kapal ini memiliki berbagai kemampuan dalam melakukan survei dan pemetaan, dan mampu melakukan pengumpulan data," ujar KSAL Laksamana Madya TNI Ade Supandi di Dermaga JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok.



KRI Rigel 933 berada di bawah kendali Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (Dishidros). Dishidrof sendiri dalam hal ini bertanggung jawab untuk menyediakan data dan informasi Hidro-oseanografi yang akurat sebagai data dasar yang digunakan sebagai bahan analisa strategi pertahanan nasional.



"Paling tidak kapal ini (KRI Rigel 933) bisa memenuhi kebutuhan kapal-kapal survei dalam rangka pemuktahiran data-data perairan kita, baik untuk kepentingan laut maupun kepentingan navigasi. Beberapa produk peta laut membutuhkan keberadaan kapal-kapal survei," jelasnya.



Ade menjelaskan, misi utama KRI Rigal 933 dalam waktu dekat ini akan melakukan updeting peta-peta laut. "Bahwa dengan perkembangan nasional khususnya di daerah perairan pantai ada reklamasi, ada pembangunan dermaga, ada pelabuhan itu harus kita update semua," terang Ade.



Menurutnya, sekarang TNI AL telah dituntut untuk membuat peta secara elektronik. Dalam waktu 5 tahun ke depan, TNI AL akan melakukan pengamanan untuk perairan-perairan yang memiliki potensi perkembangan ekonomi.



"Apalagi sekarang ada tuntutan peta laut ini harus secara elektronik, itulah tugas-tugas kami (TNI AL) dalam waktu dekat ini. Paling tidak dalam waktu 5 tahun ke depan beberapa alur-alur perairan yang berpotensi untuk perkembangan ekonomi harus betul-betul aman. Kami akan memberikan rekomendasi perubahan laut dimana saja," tutupnya.








Sumber : Detik
readmore »»  

Dukung TNI AL, Politisi Gerindra Harap Permintaan 500 Kapal Dipenuhi


JAKARTA (MI) : Anggota Komisi I DPR RI Rachel Maryam menilai wajar adanya permintaan 500 kapal dari Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi. Hal itu sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo yang menjadikan Indonesia sebagai negara maritim.
"Negara Indonesia adalah negara yang luas. Terdiri dari banyak pulau dan lautan serta berbatasan wilayah laut dengan banyak negara. Pernyataan KSAL merupakan sesuatu yang wajar dalam kerangka upaya mewujudkan visi Presiden," kata Rachel melalui pesan singkat, Jumat (15/5/2015).

Politisi Gerindra itu menegaskan menjaga kedaulatan negara adalah hal yang mutlak. Apalagi, marak Ilegal loging dan ilegal fishing sangat merugikan APBN. Kemudian bahaya peredaran narkoba dan human trafficking yang dalam pelaksanaannya sering kali menggunakan jalur laut.
"Namun disisi lain kita harus memahami bahwa kondisi ekonomi negara kita saat ini sedang dalam posisi yang kurang baik. Sehingga postur anggaran yang ada dalam APBN kita yang terbatas harus benar-benar digunakan scara seefektif dan seefisien mungkin," ungkapnya.
Rachel pun mendukung armada kapal yang disampaikan oleh KSAL dapat bisa segera dipenuhi. Namun tetap harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran negara. Oleh karenanya untuk mensiasati keterbatasan anggaran negara yang ada, maka perlu dipertimbangkan pula pembelian secara bertahap dan memaksimalkan industri strategis nasional yang menunjang pencapaian tersebut.
Ia mendorong agar Kementerian Pertahanan untuk membuat Rencana strategi alat Utama Sistem persenjataan yang visioner. "Yaitu dengan melihat potensi ancaman secara jangka panjang dan bukan hanya berdasarkan kebutuhan saat ini saja. Agar tercipta renstra alutsista yang tepat, efisien dan bermanfaat untuk jangka panjang," katanya.
Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengakui bahwa tidak mudah untuk menjaga keamanan di seluruh wilayah perairan Indonesia. Kesulitan tersebut lantaran keterbatasan jumlah kapal patroli yang dimiliki TNI AL.
"Kendalanya, garis pantai kita itu sepanjang 81 ribu kilometer. Tapi kapal patroli kita belum cukup untuk menjaga semua titik kepualauan," ujar Ade saat ditemui di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (13/5/2015).
Ade mengatakan, untuk mengawasi setiap pulau-pulau di Indonesia, setidaknya harus disiagakan sekitar 500 kapal patroli. Menurut Ade, idealnya satu kapal patroli mengawasi wilayah perairan seluas 30 mil.
Sementara saat ini, jumlah kapal patroli yang dimiliki TNI AL tidak lebih dari 40 unit. Menurut Ade, TNI AL akan mempunyai 151 kapal perang berbagai jenis hingga 2024. Namun, dalam beberapa waktu ke depan, direncanakan akan ada 44 unit kapal patroli yang akan didatangkan.









Sumber : TRIBUNNEWS
readmore »»  

TNI AL Sambut Rigel 933, Kapal Tercanggih se-Asia


JAKARTA (MI) : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) hari ini menyambut kedatangan KRI Rigel 933 di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kapal perang jenis bantu hidro-oseanografi (BHO) yang dibuat digalangan kapal OCEA Perancis ini memiliki ukuran panjang 60,1 meter, lebar 11,5 meter dan bobot 560 ton. Kapal yang dilengkapi dengan berbagai teknologi modern ini dianggap sebagai kapal tercanggih se-Asia.

"Kapal ini akan memperkuat alutsista (alat utama sistem persenjataan) TNI AL karena mampu melakukan pemetaan dan pendataan bawah laut. Teknologi terus berkembang, memang sekarang Indonesia lebih dulu memiliki, negara lain belum," ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi di Tanjung Priok, Jumat (15/5/2015).

Menurut KSAL, kelebihan lain kapal ini adalah kemampuan manuver yang sangat baik dan dilengkapi dengan robot bawah air yang bisa mengambil sampel bawah laut dan mampu menyelam sampai kedalaman 1.000 meter.

"Kapal inilah yang diperlukan hidro oseanografi khususnya dan TNI AL pada umumnya demi kepentingan pertahanan negara sekaligus memenuhi kebutuhan kapal-kapal survei dalam pemutakhiran data-data perairan baik untuk navigasi maupun survei kedalaman," jelasnya.

Ade berharap, keberadaan kapal Rigel yang diambil dari nama bintang paling terang ini mampu menambah eksistensi peran TNI AL. Sekaligus menjadi konektivitas maritim dan tol laut. 

"Dalam program MEF kita ajukan dua kapal, satu sudah sampai di sini (Indonesia) dan satunya lagi pada Juli-Agustus akan selesai," ucapnya. 






Sumber : Sindonews

readmore »»  

Tangkal Narkoba, TNI AL Butuh 500 Kapal Patroli


Jakarta (MI) : Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengatakan bukan hal yang mudah untuk memberantas penyelundupan narkoba di perairan Indonesia. Musababnya, wilayah perairan Indonesia sangat luas dan memiliki ribuan pulau kecil.

"Garis pantai Indonesia saja sepanjang lebih dari 81 ribu kilometer. Belum lagi ribuan dermaga 'tikus' yang bisa dimanfaatkan penyelundupan narkoba," kata Ade kepada wartawan di Markas Besar TNI, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2015.


Sayangnya, kata Ade, luas wilayah Indonesia itu tak diimbangi dengan armada kapal patroli yang mencukupi. Walhasil, penyelundupan barang-barang ilegal dari luar negeri banyak yang tak terpantau oleh instansi yang menjaga wilayah laut, termasuk TNI AL.


"Misalnya narkoba dari utara, seperti India dan Malaysia, mudah masuk ke Sumatera Barat, bisa juga ke Kepulauan Riau dan Natuna yang banyak sekali pulaunya," ujarnya.

Berdasarkan kajian TNI AL, setidaknya Angkatan Laut memerlukan 500 unit kapal patroli untuk membentengi wilayah laut Indonesia. Dengan begitu, setiap 30 mil laut disiagakan satu unit kapal patroli. Kapal patroli tersebut berukuran panjang 60 meter dengan senjata tak terlalu berat. "Karena untuk patroli saja, bukan untuk perang," kata Ade.


Saat ini jumlah kapal patroli TNI AL tak lebih dari 40 unit. Bahkan Ade menilai jumlah keseluruhan kapal perang TNI AL masih dirasa kurang. Sesuai program modernisasi alat utama sistem persenjataan, TNI AL akan mempunyai 151 kapal perang berbagai jenis hingga 2024. "Untuk kapal patroli sesuai rencana akan ada 44 unit," ujar Ade.


Sebagai solusi kekurangan armada kapal, TNI AL akan menggandeng seluruh instansi yang memiliki kapal patroli, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Keamanan Laut, serta Polisi Air dan Udara. Selain itu, pelaksanaan operasi patroli gabungan harus efektif dan efisien. "Sebelum operasi harus menghimpun data intelijen, jadi sudah tahu sasaran yang akan ditangkap," kata Ade.
Sumber :  TEMPO
readmore »»  

KRI Sultan Iskandar Muda Berlatih di Laut Mediterania



Laut Mediterania (MI) : Memasuki on task ke-20, KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 dan helikopter BO-105 NV-410 onboard yang tergabung dalam satuan gugus tugas Maritime Task Force (MTF) Konga XXVIII-G/ UNIFIL Lebanon melaksanakan beberapa materi latihan bersama dengan unsur-unsur kapal perang MTF UNIFIL lainnya di Area Of Maritime Operation (AMO) di perairan Lebanon.

Dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (12/5/2015), pada tanggal 9 Mei 2015 atau hari pertama on task, KRI SIM-367 melaksanakan serial latihan Deck Landing Qualificatoin (DLQ) dan Anti Asymetric Warfare Exercise (AASYWEX) 005 Low Slow Flyer (LSF) dengan FGS Erfurt F-262 (kapal perang kelas Korvet Jerman). Tujuan utama latihan DLQ adalah melatih tim helideck party untuk mampu menerima, mengarahkan dan melepas helicopter yang melaksanakan terbang landas di kapalnya, sedangkan tujuan latihan AASYWEX 005 Low Slow Flyer adalah untuk meningkatkan kemampuan unsur terhadap situational awareness semua penerbangan yang melintas di wilayah operasinya dalam upaya mengantisipasi adanya kemungkinan ancaman asimetris dari pesawat udara dengan ketinggian dan kecepatan rendah (Low Slow Flyer/LSF).

Pelaksanaan latihan DLP yang dimulai pukul 14.30 Local Time (LT) diawali dengan menerbangkan helikopter BO-105 NV410 dari KRI SIM-367 untuk melaksanakan beberapa sortie landing di geladak heli FGS Erfurt F-262. Setelah DLP selesai, latihan diteruskan dengan materi AASYWEX, di mana heli BO 105 NV 410 berperan sebagai Low Slow Flyer (LSF) yang disimulasikan melaksanakan penerbangan yang mengancam FGS Erfurt F-262 yang sedang melaksanakan patroli maritim.

KRI Sultan Iskandar Muda Berlatih di Laut Mediterania

Pada pagi hari tanggal 10 Mei 2015, KRI SIM-367 melaksanakan latihan dengan salah satu kapal MTF UNIFIL lainnya yaitu HS Xenos P-27 (Yunani) dengan materi latihan Miscellaneous Exercise (MISCEX) 805 Mailbag Transfer. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian personel kapal dalam hal mengirim dan menerima barang logistik ataupun material lain yang dikirim antar kapal di laut. 


Siang harinya, KRI SIM-367 kembali melaksanakan latihan dengan FGS Erfurt F-262 dengan materi latihan yang sama seperti sebelumnya, yaitu Deck Landing Qualificatoin (DLQ) dan Anti Asymetric Warfare Exercise (AASYWEX) 005 Low Slow Flyer (LSF).


Adapun seluruh kegiatan latihan berjalan dengan aman dan lancar. Selesai pelaksanaan latihan, KRI SIM-367 dan unsur-unsur MTF UNIFIL lain kembali menuju ke zona patroli masing-masing di AMO.







Sumber : Detik
readmore »»  

Jaga Perairan Timur Indonesia, TNI AL Butuh 150 Kapal Perang


Jayapura (MI) : Untuk menjaga kedaulatan perairan di wilayah timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) setiap hari mengerahkan sekitar 30 kapal perang Indonesia atau KRI.

Sayangnya, 30 kapal perang yang dioperasikan itu masih belum cukup mengawasi seluruh perairan di wilayah Timur Indonesia. Karenanya, harus dilakukan penambahan kapal perang demi penegakkan kedaulatan NKRI di wilayah perairan.

"Sesuai dengan rencana strategi TNI AL, idealnya dibutuhkan 150 kapal dalam kondisi siap dan standby. Namun, kondisi sekarang tidak banyak yang siap karena kondisi kapal yang sudah tua tetapi masih layak operasi," kata Panglima Armada Timur, Laksamana Muda TNI Darwanto di Jayapura, Papua, Jumat (8/5) siang diatas kapal KRI dr Soeharso 990.

Darwanto mengatakan, kekuatan kapal perang yang digelar di wilayah perairan Timur Indonesia bertujuan untuk menjaga keamanan laut dari akitivitas ilegal, semisal illegal fishing, illegal mining dan ancaman terhadap kapal-kapal asing yang masuk tanpa ijin ke wilayah NKRI.

Meski kapal perang yang dikerahkan belum sesuai kebutuhan, kata Darwanto, angka pelanggaran di perairan sudah mengalami penurunan sejak dikeluarkanya moratorium perizinan kapal oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

"Karena disinyalir banyak yang melakukan tindakan ilegal, sehingga dengan adanya moratorium itu sendiri, pemerintah bisa mengetahui pelaku-pelaku illegal fishing itu," ujarnya.








Sumber : Beritasatu
readmore »»  

KAA 2015, 6 Kapal Perang TNI AL Jaga Laut Cina Selatan


Jakarta (MI) :  Komando Armada Kawasan Barat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut memperketat penjagaan di sekitar Laut Cina Selatan. Panglima Koarmabar Laksamana Muda TNI A. Taufiq R. mengatakan penjagaan ini dilakukan menjelang acara akbar Peringatan Konferensi Asia-Afrika pada 19-24 April 2015 di Jakarta dan Bandung.

"Laut Cina Selatan di utara kita ada konflik enam negara. Kita tidak terlibat. Tapi kalau ada apa-apa bisa berdampak ke kita," ujar Taufiq di Markas Koarmabar, Jakarta Pusat, Sabtu, 18 April 2015. Karena itu, dia menerjunkan enam kapal perang untuk berjaga di sekitar Laut Cina Selatan.

Dia mengatakan hingga saat ini tidak ada indikasi ancaman dari sektor laut. Meski demikian, Taufiq tetap meminta pasukannya tidak lengah karena Peringatan Konferensi Asia-Afrika ini menjadi pertaruhan harga diri dan martabat Indonesia. Sebab, banyak pemimpin negara yang hadir.

Koarmabar menyiapkan seribu pasukan yang akan tersebar di tiga pangkalan, yakni Jakarta, Bandung, dan Cirebon. Taufiq selaku Komandan Satuan Tugas Laut juga melibatkan beberapa satuan lain, yakni Danguspurlaarmabar, Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut III, Pangkalan Angkatan Laut, Satuan Komando Pasukan Katak, dan kapal perang. Kapal yang dikerahkan adalah KRI John Lie-358, KRI Oswald Siahaan-354, KRI Imam Bonjol-383, KRI Pati Unus-384, KRI Beladau-643, KRI Makassar-590, satu pesawat U-618, dua heli, dan dua sea rider.














 Sumber : TEMPO
readmore »»  

Jaga KAA, TNI AL kerahkan kapal perang berpeluru kendali

Jaga KAA, TNI AL kerahkan kapal perang berpeluru kendali

Jakarta (MI) : Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan pihaknya sudah menyiapkan operasi laut untuk mengamankan peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA). Operasi laut tersebut memantau kapal-kapal yang masuk di perairan Indonesia.

"Kita siapkan kapal KRI, operasi lautnya menyekat di daerah akses Laut Jawa dan Selat Sunda," kata Ade di Lapangan Monas, Jakarta, Rabu (15/4).

Dia menambahkan, selama pengamanan perairan laut di Indonesia telah diserahkan kepada Panglima Komando Armada Kawasan Barat Laksamana Muda TNI Ahmad Taufiqurohman. Sebab, kawasan perairan laut di sekitar Jakarta dan Bandung merupakan tanggung jawab Armada Barat.

"Pangarmabar yang menyiapkan kapal-kapal perang ini semuanya," katanya.

Sementara di kesempatan yang sama, Pangarmabar Laksamana Muda TNI Ahmad Taufiqurohman mengatakan pihaknya menyiapkan kapal perang yang mempunyai peluru kendali. Bahkan prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska) juga sudah akan dikerahkan mengamankan perairan selama Konferensi Asia Afrika pada pekan depan.

"Dua tim pasukan Katak dan penyelam. Selain itu pesawat intai maritim dan helikopter Super Belt juga disiapkan," kata Taufiq.


F-16 dan Sukhoi dikerahkan amankan Konferensi Asia Afrika

F-16 dan Sukhoi dikerahkan amankan Konferensi Asia Afrika

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Agus Supriatna mengatakan pihaknya menyiapkan pesawat F-16 untuk mengamankan wilayah udara selama acara Konferensi Asia Afrika. Saat ini pesawat F-16 juga sudah mulai beroperasi.

"Ada satu flight F-16 di Halim, kemudian di Madiun disiapkan satu flight jadi semuanya sudah beroperasi. Hanya sayang karena pesawat jadi nggak kelihatan, setiap hari terbang," kata Agus di Lapangan Monas, Jakarta, Rabu (15/4).

Selain itu, dia mengatakan pesawat Sukhoi juga dikerahkan untuk mengamankan wilayah udara luar Jakarta dan Bandung. Namun dia tak menyebutkan jumlah pesawat tempur yang dikerahkan untuk pengamanan Konferensi Asia Afrika.

"Pesawat Sukhoi sudah siap di Lanud luar Jakarta dan Bandung. Rahasia dong entar ketahuan gimana," katanya.

Dia juga menambahkan, saat ini belum ada gangguan pesawat komersil yang melintasi wilayah pengamanan udara selama Konferensi Asia Afrika. Sebab, radar-radar milik TNI AU belum menangkap sinyal gangguan dari luar.

"Semua radar dan kita pantau terus, karena ini demi bangsa dan negara, bayangkan berapa banyak kepala negara yang hadir, jelas keamanannya harus betul-betul diprioritaskan," ujarnya.







 Sumber : Merdeka
readmore »»  

TNI AL dan Militer Malaysia Jaga Selat Malaka dari Perompak


Batam (MI) : Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut bekerja sama dengan militer Malaysia dalam menjaga perairan Selat Malaka dari kejahatan perompakan.
TNI telah membentuk Satuan Tugas Angkatan Laut (AL) yang disebut Elang Laut. Satuan ini terdiri dari unsur marinir, intelijen AL, dan satuan khusus AL.


Menurut Komandan Batalyon Infanteri 10/Marinir, Letnan Kolonel Marinir Kresno Pratowo, keberadaan satuan tugas itu selain untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, juga untuk mengamankan Selat Malaka. Terutama dari kejahatan perompakan. 



TNI sudah mendapatkan informasi tentang titik atau lokasi perompakan yang meresahkan. TNI bekerja sama dengan militer Malaysia akan memperketat patroli di laut.



"Banyaknya isu perompakan di Selat Malaka dan pelabuhan tikus (pelabuhan ilegal untuk penyelundupan), menjadi target kita dalam memberikan keamanan bagi yang melintasinya," kata Kresno Pratowo kepada VIVA.co.id di Batam, Kepulauan Riau, Jumat, 27 Maret 2015.



Dalam kesempatan itu, sebanyak 350 personel marinir Batalyon Infanteri 10 berlatih mengarungi laut dengan arus deras di bawah jembatan I Barelang, Batam. Kegiatan itu untuk menjaga kewaspadaan dan kesiapsiagaan para personel.



Kresno Pratowo mengatakan bahwa sebagai prajurit mereka siap menjaga lautan NKRI, apalagi Kepulauan Riau berbatasan langsung dengan negara luar.



"Peralatan kita paling lengkap dari batalyon yang ada di Indonesia, seperti amfibi, altileri, sudah siap. Maka itu prajurit prajurit saya, harus siap di setiap waktu untuk menjaga kedaulatan Republik Indonesia," kata Kresno.



Batalyon Infanteri 10/Marinir bermarkas di Pulau Setoko, Batam, Kepulauan Riau. Berdiri di atas lahan seluas 37 hektare.



Batalyon Infanteri 10/Marinir adalah sebuah pasukan pendarat amfibi Korps Marinir TNI AL yang merupakan bagian dari Korps Marinir. Batalyon itu merupakan Batalyon Infanteri Marinir pertama yang mendapat fasilitas terlengkap, juga diperkuat tank amfibi, kendaraan tempur antiserangan udara, unit peluncur roket multilaras, dan unit kendaraan taktis.



Sea Rider dan Combat Boat dilengkapi dermaga sandarnya dibangun di belakang Markas Komando Batalyon. 









Sumber : VIVA
readmore »»  

TNI AL Tutup Pergerakan ISIS



DEPOK (MI) : Ancaman warga negera Indonesia (WNI) menyebrang ke Timur Tengah untuk bergabung dalam kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) diantisipasi pemerintah dari seluruh jalur. Di laut, Mabes TNI AL memperketat jalur-jalur rawan yang dikhawatirkan digunakan sebagai jembatan penghubung kelompok radikal.
Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Ade Supandi mengatakan untuk mengantisipasi gerakan ISIS, TNI AL menjalankan patroli laut. Patroli ditingkatkan dengan menambah jumlah armada.
"Kami kan ada patroli laut, berarti integritas patrolinya akan lebih diperbanyak," katanya usai memberikan kuliah umum di Kampus UI, Depok, Kamis (26/3/2015).
Ade menegaskan, pihaknya menutup akses melalui laut dan selat. Hingga kini belum ditemukan adanya indikasi kelompok radikal menyebrang melalui jalur laut.
"Kami tutup, Selat Malaka, Laut Natuna, laut Jawa, Sunda, kami pantau patroli awasi terus," katanya.
Peningkatan patroli juga dilakukan dengan menambah kapal. "Panglima TNI operasikan kapal-kapal, kami di bawah Mabes TNI berperan untuk operasi menutup jalur-jalurnya," tegasnya.







Sumber : Okezone
readmore »»  

Kekuatan Kapal Pemukul Milik TNI AL



JAKARTA (MI)TNI Angkatan Laut (AL) memiliki beberapa armada sesuai dengan fungsinya untuk mengamankan luasnya perairan Indonesia. Mulai dari armada kapal pemukul, patroli, pendukung dan armada lainnya.


Armada pemukul memiliki keunggulan masing-masing. Berikut keunggulannya yang dihimpun dari beberapa sumber, Selasa (17/3/2015).

Kapal perusak kawal rudal, masing-masing diberi nama KRI Ahmad Yani, KRI Slamet Riyadi, KRI Yos Sudarso, KRI Oswald Siahaan, KRI Abdul Halim Perdanakusuma, dan KRI Karel Satsuit Tubun. Kapal ini merupakan kapal eks kelas Van Speijk milik AL Kerajaan Belanda yang dimodifikasi, baik navigasi maupun persenjataannya. Salah satunya memasang rudal P-800 Oniks/Yakhont dan C802.

Kapal perusak kawal rudal berikutnya diberi nama CIGMA 10514. Kapal buatan Belanda ini sedang dibangun. Targetnya sudah beroperasi awal tahun 2017 mendatang.

Kapal fregat ringan berpeluru kendali yang diberi nama KRI Fatahillah, KRI Malahayati dan KRI Nala adalah buatan Belanda. Kapal ini memiliki keunggulan sebagai perusak berpeluru kendali.

Kapal Korvet diberi nama KRI Bung Tomo, KRI John Lie dan KRI Usman-Harun. Kapal buatan Britania Raya ini telah beroperasi di perairan Indonesia tahun 2013-2014. Salah satu penamaan kapal ini, KRI Usman-Harun, sempat mendapatkan penolakan keras dari Singapura.

Kapal Korvet berpeluru kendali diberi nama KRI Diponegoro, KRI Sultan Hasanuddin, KRI Sultan Iskandar Muda, dan KRI Frans Kaisiepo. Kapal buatan Belanda ini merupakan Korvet jenis Ship Integrated Geometrical Modularity Approach (SIGMA) dan mulai bertugas tahun 2007-2009.

Kapal Korvet antikapal selam diberi nama KRI Kapitan Patimura, KRI Untung Suropati, KRI Nuku, KRI Lambung Mangkurat, KRI Cut Nyak Dien, KRI Sultan Thaha Syaifuddin, KRI Sutanto, KRI Sutedi Senoputra, KRI Wiratno, KRI Tjiptadi, KRI Imam Bonjol, KRI Pati Unus, KRI Teuku Umar, KRI Silas Papare, dan KRI Hasan Basri. Kapal produksi Jerman ini bagian dari pembelian 39 kapal eks AL Jerman Timur oleh BJ Habibie pada tahun 1990-an pada masa pemerintahan Presiden Suharto.

Jenis armada pemukul lainnya adalah kapal selam yang diberi nama KRI Cakra dan KRI Nanggala merupakan kapal selam tipe 209/1300 buatan Jerman. Berikutnya adalah kapal selam dengan type 209/1400 adalah kelas Changbogo dari Korea Selatan. Kapal ini akan dikirim antara tahun 2015-2018.

Jenis armada pemukul berikutnya adalah, kapal cepat rudal 40 meter diberi nama KRI Clurit, KRI Kujang, KRI Beladau, KRI Alamang, KRI Surik, KRI Siwar, KRI Parang, dan KRI Terapang. Kapal buatan Indonesia ini merupakan KCR yang dibuat oleh galangan lokal PT Palindo yang dipersenjatai rudal C-705.

Kapal cepat rudal diberi nama KRI Mandau, KRI Rencong, KRI Badik, dan KRI Keris. Kapal cepat rudal dengan panjang 50 meter ini adalah buatan Korea Selatan. 

Kapal cepat rudal selanjutnya diberi nama KRI Sampari, KRI Tombak, KRI Halasan.  Kapal cepat rudal dengan panjang 60 meter juga buatan Indonesia dibangun oleh PT PAL.









Sumber : Sindonews
readmore »»  

Ikut Kerahkan Kapal, TNI AL: Nusakambangan Dekat Pulau Christmas



Cilacap (MI) : TNI AL menerjunkan 4 Kapal perangnya untuk menjaga pengamanan laut terkait eksekusi mati gembong narkoba termasuk 2 warga negara Australia. Meski TNI belum menemukan adanya indikasi penyerangan, TNI AL tetap akan siagakan kapal perangnya hingga eksekusi selesai dilakukan.

"Sampai saat ini belum terlihat ada indikasi unsur-unsur yang melakukan penyerangan," Kepala Bidang Hukum TNI AL Laksma IG Putu Wijamahaadi usai pemusnahan sabu oleh BNN Garbage Plants Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Selasa (10/3/2015).

Meski begitu TNI AL tak mau mengendurkan penjagaannya. Pasalnya lokasi eksekusi mati di LP Nusakambangan letaknya dekat dengan pulau terluar Australia di mana seperti diketahui, pemerintah negeri Kanguru itu keras meminta pembatalan hukuman mati terhadap 2 warga negaranya duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

"Kita hanya antisipasi karena ada Pulau Christmas, pulau terluar Australia. Dekat sekali kan dengan Nusakambangan, itu di selatan Cilacap," kata Putu.

TNI AL sendiri sebelumnya mengerahkan 4 kapal perangnya yaitu KRI Diponegoro, KRI Lambung Mangkurat, KRI Pulau Rimau dan KRI Welling untuk menjaga kawasan perairan di sekitar Pulau Bali. Selanjutnya, usai melaksanakan bekal ulang, keempat KRI tersebut meninggalkan Pulau Bali untuk menuju ke daerah operasi, termasuk salah satunya menuju Pulau Nusakambangan untuk pengamanan jelang eksekusi mati.

Saat ini 9 orang terpidana mati yang grasinya ditolak Presiden Joko Widodo sudah berada di Nusakambangan, termasuk duo Bali Nine. Sementara 1 lainnya, WN Filipina bernama Mary Jane Fiesta Veloso masih berada di LP Wirogunan, Yogyakarta.

"Kapal akan terus beroperasi di sekitar Perairan Nusakambangan sampai proses eksekusi selesai," pungkas Putu.








Sumber : Detik
readmore »»  

Akan Ada 3 Komando Armada TNI AL, Pangarmatim Jadi Armada Pusat RI



Jakarta (MI)TNI akan menambah komando pertahanannya, termasuk di jajaran Angkatan Laut. TNI AL pun ke depan akan memiliki 3 komando armada dari yang sebelumnya hanya 2, plus 1 komando armada pusat.


"Iya nanti akan ada 3 (Komando) Armada. Yang Surabaya (jadi) Armada RI, akan jadi pusat," ujar Kadispen TNI AL Laksma Manahan Simorangkir di Mabes AL, Cilangkap, Jaktim, Jumat (27/2/2015).



Saat ini TNI AL memiliki 2 Komando Armada, yaitu Komando Armada Barat (Koarmabar) yang berada di Jakarta dan Komando Armada Timur (Koarmatim) yang berada di Surabaya, Jawa Timur. Di mana Koarmabar kini berada di bawah pimpinan Panglima Armada Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda Taufiqurrahman dan Koarmatim di bawah pimpinan Pangarmatim Laksamana Muda Arie H Sembiring.



Informasi yang diungkap Manahan, markas Armada Barat tetap berada di Jakarta, Armada Tengah di Makassar, dan Armada Timur di Papua. Penambahan Komando Armada TNI AL tersebut disebutnya sejalan dengan pembentukan Kogabwilhan (Komando Gabungan Wilayah Pertahanan).



"Itu sejalan pembentukan tiga Kogabwilhan. Itu perencanaannya sudah di Panglima TNI, panglima sudah berkomunikasi dengan presiden," kata Manahan.



"(Armada) Timur di Papua, mungkin nanti di Sorong. Nanti Lantamal-nya pindah, dari Makassar ke Tarakan. Lanal Tarakan jadi Lantamal," sambungnya.



Infrastruktur di Makassar dan Sorong sendiri sudah dalam tahap persiapan. TNI AL pun siap jika ketiga Armada tersebut segera direalisasikan.



"Sudah siap, tinggal go, walaupun belum sempurna sudah bisa jalan," sambungnya.


Peningkatan pertahanan ini disebut Manahan salah satunya adalah terkait dengan pengamanan Laut Cina Selatan. Panglima TNI Jenderal Moeldoko sempat menyatakan ada kemungkinan pembentukan Kogabwilhan akan dilakukan di wilayah Sumatera agar Laut Cina Selatan semakin terjaga pengamanannya.



"Mungkin iya seperti itu, karena di Laut Cina Selatan kan luas dan sering terjadi pencurian ikan. Dulu (Kogabwilhan) memang direncanakan di Pekanbaru, di Sumatera," jelas Laksamana Bintang 1.



Untuk permasalahan pencurian ikan, TNI AL juga meningkatkan patroli di wilayah Laut Cina Selatan demi menjaga kedaulatan perairan NKRI. "Kita operasi pasti. Karena itu laut penting. Itu wilayah penangkapan ikan," pungkas Manahan.










Sumber : Detik
readmore »»  

TNI AL Tangkap 4 Kapal Pencuri Ikan dari Filipina di Laut Sulawesi




Jakarta (MI) : TNI AL kembali menangkap kapal asing yang mencuri ikan di wilayah perairan Indonesia. Kali ini personel KRI Slamet Riyadi berhasil meringkus 4 kapal asal Filipina yang sedang mengambil ikan di Laut Sulawesi.


"4 kapal Filipina ditangkap di laut di Sulawesi kejadiannya kemarin Minggu tanggal 22 Februari 2015 pas lagi mengambil ikan. KRI Slamet Riyadi yang menangkap ya," ujar Kadispen TNI AL Laksamana Pertama Manahan Simorangkir, Rabu (25/2/2015) malam.


Menurut Manahan, 4 kapal yang ditangkap ini berjenis kapal kecil dengan kapasitas 16-20 GT (gross ton). Saat ditangkap, kapal-kapal ini sudah mengangkut ikan-ikan hasil curian mereka.


"Kapal nggak terlalu besar, sekitar 16-20 GT. Mereka tanpa dokumen karena di atas 7 GT kan harus ada surat-suratnya. Ada ikannya (pas ditangkap). Kalau kita nangkap kapal itu kan nggak sembarangan. Apa ada ikannya, atau jaringnya ada di laut, itu bisa dilihat," jelas Manahan.


Keempat Kapal berbendera Filipina tersebut adalah Van Boat (VB) Vien 09, VB Saint Thomas, VB Saint Jose, dan VB Santa Cruz. Masing-masing kapal dengan 2 ABK yang merupakan warga negara Filipina.


"Kapal Slamet Riyadi ketika kejadian lagi patroli di daerah sana. Mereka ditangkapnya di 295 mil sebelah timur Tarakan. Sudah hampir di utaranya Gorontalo," jelas Perwira Tinggi TNI AL Bintang 1 itu.


Saat ini keempat kapal tersebut sudah dibawa ke Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Tarakan, Kalimatan Utara, bersama para ABK-nya. TNI AL masih menunggu proses administrasi mengenai pelanggaran ini selesai untuk langkah selanjutnya.


"Sekarang ada di Lanal Tarakan, dengan ABK nya juga. Sedang diproses sekarang ini, kami masih menunggu hasil persidangan," tutup Manahan.








Sumber : Detik
readmore »»