Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan

TNI AL Gagalkan Upaya Perompakan Kapal Asing

KRI Sembilang-850 tengah berlayar di Selat Philips, Senin (29/6). Foto: Armabar

Jakarta (MI) : Kapal Perang (KRI) Sembilang-850 milik Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) TNI AL berhasil menggagalkan upaya percobaan perompakan terhadap MV Levan, kapal kargo berbendera Bahama yang tengah berlayar di Selat Philips, Senin ini.

"Penggagalan upaya perompakan terhadap MV Levan ini bermula saat KRI Sembilang-850 melaksanakan patroli laut di sekitar perairan Selat Philips pada pukul 03.00 WIB tadi," kata Kepala Dinas Penerangan Armabar, Letkol Ariris Miftachurrahman, dalam siaran tertulisnya, Senin (29/6/2015).

Saat itu, personel KRI Sembilang menerima informasi melalui telepon dari Western Fleet Quick Response (WFQR) Koarmabar yang berada di Batam tentang adanya upaya percobaan perompakan kapal asing tersebut.


Informasi yang diterima WFQR ini diperoleh dari Maritime Security Task Force (MSTF) ME3 KEITH Singapura yang menyatakan MV Levan, saat berlayar pada posisi 01° 07’ 474’’ U - 103° 45’ 581’’ T, didekati boat tak dikenal dengan tiga orang pengawak.

Setelah menerima informasi tersebut, KRI Sembilang-850 segera bergerak menuju sasaran guna melaksanakan pengecekan. "Kurang lebih 30 menit KRI Sembilang-850 mendeteksi adanya sebuah obyek berupa kapal," jelasnya.


Guna memastikan kapal yang dicari, KRI Sembilang-850 mendekati kapal tersebut dengan jarak 500 yard. Setelah disorot dengan lampu, diketahui kapal tersebut adalah MV Levan yang sedang didekati sebuah boat.

Mengetahui kehadiran kapal perang, kata Ariris, boat yang berusaha mendekat MV Levan akhirnya melarikan diri menuju selatan ke arah barat Pulau Pemping dan selanjutnya hilang dari pantauan radar.


Setelah memastikan Kapal kargo MV Levan dalam keadaan aman, KRI Sembilang-850 melanjutkan patroli laut. KRI Sembilang-850 secara rutin melaksanakan pengecekan serta pemantauan terhadap kapal-kapal yang melintasi di sekitar perairan Selat Philips. Selat Philips (Singapura) berada di titik tersempit di Selat Malaka. Selat ini merupakan salah satu jalur terpadat laut dunia.
 







Sumber : Metrotvnews
readmore »»  

Kapal Perang Koarmatim Selesai Latihan Dengan AL Thailand


Jakarta (MI) : Dua Kapal Perang Koarmatim masing-masing KRI Usman Harun–359 dengan komandan Kolonel Laut (P) Didong Rio Duto dan KRI Sultan Hasanuddin–366 dengan komandan Letkol Laut (P) Endra Hartono selesai melaksanakan Latihan Latma Sea Garuda 18 AB-15” dari RTN (Royal Thai Navy) ,Selasa.( 09 /06).

Latihan bersama antara TNI Angkatan Laut dengan RTN Sea Garuda 18 AB-15 yang melibatkan dua kapal perang dari jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Koarmatim ini, juga  melibatkan satu buah Helikopter jenis BO-105, NV 412 Skuadron 400 dan satu Pesud Intai maritim CN-235, Skuadron 800 dari jajaran Wing Udara I Puspenerbal

Upacara penutupan latihan militer bersama Sea Garuda 18 AB-15” berlangsung di Geladak Royal Thai Navy  HTMS Makut Rajakumarn (Fregate) yang  sedang bersandar di Pangkalan AL Sattahip, X di kawasan teluk Thailand  ( 09 /06), bertindak selaku Irup Capt Paisam Meesri, chief of staff Fregate Skuadron I Royal Thai Navy (RTN), mewakili Commander Frigate Squadron One RTF: Rear Admiral Sarnon Phaaem.Senin (08/06). Kegiatan Latma itu sendiri  berlangsung selama 8 hari di kawasan Teluk Thailand dan Sattahip

Selanjutnya dua kapal perang Koarmatim tersebut meninggalkan Sattahip Thailand untuk menuju tanah air Indonesia.  Keberangkatan ke dua kapal tersebut di lepas dengan barisan jajar kehormatan militer oleh RTN (Royal Thai Navy) di Dermaga Sattahip, dengan Irup chief of staff Fregate Skuadron I Royal Thai Navy (RTN), Capt Paisam Meesri.

Turut melepas Keberangkatan kapal, rombongan perwakilan dari KBRI ,Wakil Dubes RI untuk perwakilan Bangkok, Bpk Bebet Junjungan, Atase Pertahanan (ATHAN) RI Kolonel Zeni Edy Lumintang,   Atase Pertahanan Angkatan Laut Kolonel laut (P) Adrian Syah,  dan Kolonel Udara Bayu, Atase pertahanan Angkatan Udara untuk konjen RI di Bangkok. 







Sumber : TNI AL
readmore »»  

DPR Sebut Perlunya Penguatan Pertahanan Udara dan Laut

DPR Sebut Perlunya Penguatan Pertahanan Udara dan Laut

Jakarta (MI) : Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq‎ mengatakan perlunya penguatan Tentara Nasional Indonesia di bidang Angkatan Udara dan Angkatan Udara. Hal tersebut disampaikannya usai melakukan rapat kerja bersama dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

"Dilihat dari sisi prioritas, ada di laut dan udara. Yang masih banyak titik loophole itu di laut dan udara," ujar Mahfudz di Gedung DPR‎, Jakarta.
"Terkait kemampuan surveillance dan terkait dengan pasukan reaksi cepat untuk laut dan udara," ucapnya.

Lebih lanjut, Mahfudz pun mengaitkan prioritas tersebut dengan proses jelang pergantian Panglima TNI yang akan dilakukan setelah Jenderal Moeldoko pensiun pada 1 Agustus mendatang. Menurutnya, prioritas itu tidak akan berpengaruh banyak akan siapa yang nantinya akan menjadi TNI

"Seorang kepala staf di kepalanya bukan hanya berpikir sektoral angkatan yang dia urus. Tapi dia sudah berfikir trimatra terpadu," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera ini.

Oleh karena itu menurut Mahfudz, seorang Kepala Staf Angkatan Udara harus menguasai konsep pertahanan laut dan darat. Begitu juga kepala Staf Angkatan Laut yang juga harus menguasai konsep pertahanan darat dan udara.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriyatna mengatakan dirinya siap apabila dipercayakan untuk menjabat sebagai Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo. Memang, melihat urutannya, sudah giliran angkatan udara mengisi posisi panglima TNI.

Dalam Pasal 13 ayat 4 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, disebutkan panglima dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap-tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan.

Panglima TNI saat ini Jenderal Moeldoko berasal dari Angkatan Darat dipilih untuk menggantikan Laksamana Agus Suhartono yang berasal dari Angkatan Laut. Sebelum Agus Suhartono ada nama Marsekal Djoko Suyanto, perwira ‎Angkatan Udara yang menjabat jadi Panglima TNI. 








Sumber : CNN 
readmore »»  

KSAL: Sebanyak 64 KRI Amankan Perairan Barat Indonesia

KSAL Laksamana Ade Supandi usai meninjau KRI Rigel 933 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (15/5).

TANJUNGPINANG (MI) : Sebanyak 64 unit KRI mengamankan perairan di wilayah barat Indonesia sehingga nelayan lokal tidak perlu merasa tidak dilindungi dari ancaman nelayan asing. "Perairan Kepri ini salah satu yang diamankan. Selama ini aman-aman saja," kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi di gedung Daerah Tanjungpinang, Batam, Senin (25/5).

Ade Supandi yang pernah menjabat komandan Guskamlabar itu menjelaskan, TNI AL memiliki kapal cepat untuk mengamankan perairan di Kepri maupun perairan di wilayah barat Indonesia lainnya. Kapal cepat itu dipergunakan untuk merespons laporan bila ada ancaman atau gangguan dari pihak-pihak tertentu maupun dari pihak asing.
"Jadi kalau ditemukan pelanggaran di perairan, kami langsung dapat merespons segera," ujar mantan kepala staf umum TNI tersebut.

Dia mengimbau nelayan tidak merasa takut dengan adanya gangguan dari nelayan asing. Jika nelayan asing mengganggu nelayan lokal, TNI AL berada di depan untuk mengejar dan menangkap nelayan asing tersebut. "Kalau ada nelayan kita yang diuber-uber pihak asing, kita akan uber kembali mereka, sampai dapat," katanya seusai melakukan pertemuan singkat dengan Gubernur Kepri HM Sani.
Namun, Ade mengingatkan, nelayan untuk tidak memasuki wilayah negara tetangga. Nelayan hanya diperbolehkan menangkap ikan di wilayah Indonesia. Nelayan juga tidak diperbolehkan menggunakan pukat harimau saat menangkap ikan. "Nelayan harus mengantungi izin sebelum menangkap ikan," ujarnya.






Sumber : REPUBLIKA
readmore »»  

Danguspurlatim Pimpin Simulasi Penembakan Rudal Exocet MM-40


Surabaya (MI) : Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Timur (Danguspurlatim) Laksamana Pertama TNI ING. Ariawan, S.E memimpin Latihan Pos dan Komando (Latposko) simulasi  penembakan senjata strategis TNI AL Rudal Exocet MM-40 Blok II di Tactical Team Trainer Pusat Latihan Elektronika dan Pengendalian Senjata (Puslatlekdalsen) Kobangdikal Bumimoro, Surabaya, Kamis (21/5).
Latihan simulasi ini melibatkan seluruh pelaku yang terlibat, baik prajuirt yang bertugas di kapal maupun staf pendukung lainnya. Latihan uji coba penembakan senjata strategis TNI AL ini, akan melibatkan 10 kapal perang jajaran Koarmatim. Sedangkan yang menembakkan rudal tersebut adalah KRI Bung Tomo-357, yaitu kapal perang terbaru yang dimiliki TNI AL yang saat ini masuk jajaran Satuan Kapal Eskorta Koarmatim, dengan Komandan Kapal Kolonel Laut (P) Yayan Sofian, ST
Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II tersebut, akan dilakukan disekitar laut jawa dalam waktu dekat ini dengan sasaran eks KRI Kupang. Penembakan senjata stragis tersebut, akan disaksikan langsung oleh pejabat TNI diatas KRI Surabaya-591, yang dalam latihan ini sebagai kapal markas.
Dilaksanakannya  penembakan senjata strategis Rudal Exocet MM-40 Blok II ini, yaitu untuk mewujudkan hasil pembinaan serta meningkatkan kesiapan dan kesiapsiagaan operasional serta mengukur kemampuan  Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL terbaru yang dimiliki TNI AL, yaitu Kapal Multi Role Light Frigate (MRLF) KRI Bung Tomo-357.
Penembakan senjata tersebut juga dalam rangka penyiapan KRI Bung Tomo-357 yang akan tergabung pada Satgas MTF XXVIII-H UNIFIL di Lebanon dalam waktu dekat ini. Penembakan Rudal Exocet MM-40 Blok II, selain untuk meningkatkan kemampuan tempur unsur-unsur TNI AL juga diharapkan mampu menimbulkan dampak penangkalan (Deterrence Effect) baik bagi Negara maupun non negara (State Actor and Non State Actor) yang akan mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).








Sumber : TNI AL
readmore »»  

TNI Tembak dan Tenggelamkan 35 Kapal Asing



JAKARTA (MI)Pemberantasan aksi illegal fishing terus dilanjutkan Pemerintah Indonesia. TNI Angkatan Laut (AL) berhasil menenggelamkan 35 kapal berbendera asing yang kedapatan mencuri hasil laut di perairan Indonesia, Rabu (20/5/2015). 
Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Manahan Simorangkir merinci lokasi penenggelaman 35 kapal tersebut. Ada lima lokasi, yakni 15 kapal di Bitung, 17 kapal di Ranai, 1 kapal di Belawan, 1 kapal di Tanjung Balai Asahan, dan 1 kapal di Lhokseumawe.
"Prosesnya itu diawali dengan peledakan oleh prajurit Komando Pasukan Katak TNI AL. Lalu, kita tunggu sampai kapal itu tenggelam," ujar Manahan melalui siaran persnya, Rabu siang.
Manahan melanjutkan, penenggelaman kapal tersebut telah didasarkan atas persetujuan pihak pengadilan negeri setempat. Manahan juga mengatakan, penenggelaman itu dilegitimasi dengan Pasal 69 ayat 4 Undang-Undang Perikanan Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
"Undang-undang itu menyebut, benda atau alat yang digunakan atau yang dihasilkan dari tindak pidana perikanan dapat dirampas atau dimusnahkan setelah mendapat persetujuan kepala pengadilan negeri," ujar Manahan.

Kronologi penangkapan

Sebanyak 35 kapal yang ditenggelamkan itu tertangkap radar kapal perang Indonesia. Kapal ikan yang dieksekusi di Bitung merupakan hasil tangkapan KRI Slamet Riyadi pada 22 Februari lalu.
Setelah dikawal menuju Dermaga Mamburungan, Lanal Tarakan, kapal-kapal tersebut terbukti telah menangkap hasil laut di Indonesia tanpa ada dokumen yang lengkap. Semua awak kapal yang merupakan warga negara asing pun dibawa ke pengadilan.
Pengadilan Negeri Tarakan mengeluarkan putusannya pada Senin (18/5/2015) lalu. Kapal-kapal sebagai barang bukti tersebut langsung dibawa ke lima lokasi tersebut untuk ditenggelamkan. "Proses yang kurang lebih sama juga berlaku di kapal-kapal yang ditenggelamkan di empat lokasi lainnya selain Bitung," ujar Manahan.
Acara penenggelaman yang dihadiri oleh Manahan sendiri berada di Bitung, Sulawesi Utara. Turut hadir dalam acara itu Panglima Armada Timur Laksamana Muda TNI Darwanto, Dirjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan Laksamana Muda TNI Asep Burhanudin, Komandan Pangkalan Utama Angkatan Laut (Dan Lantamal) VIII Manado Laksamana Pertama TNI Sulaeman Bandjarnahor, dan para pejabat Pemda beserta para pejabat TNI dan Polri di wilayah Bitung, Sulawesi Utara. Para pejabat menyaksikan penenggelaman dari geladak KN Singa Laut.




Sumber : KOMPAS
readmore »»  

IMDEX 2015: Indonesia confirms deployment of C-705 missiles on KCR-60M class


Changi (MI) : Seorang pejabat senior dari Indonesia Angkatan Laut (Tentera Nasional Indonesia - Angkatan Laut, atau TNI-AL) telah mengkonfirmasi penyebaran buatan Cina C-705 permukaan-ke-permukaan rudal di KCR-60M serangan rudal layanan ini kerajinan.
Pejabat itu berbicara kepada IHS Jane pada 19 Mei selama kunjungan ke kedua di kelas KCR-60M kapal KRI Tombak di Changi Naval Base selama IMDEX 2015 pameran di Singapura. TNI-AL mengirim dua kapal untuk expo - yang lainnya adalah Bung Tomo kelas korvet KRI John Lie (358).      
Tombak  , dibangun oleh BUMN pembuat kapal PT PAL Indonesia dan ditugaskan pada bulan Agustus 2014, adalah yang kedua dari tiga kapal KCR-60M saat ini dalam pelayanan. Kapal ini dilengkapi dengan empat (dua kembar) peluncur rudal. The KCR-60M kelas awalnya diyakini menyebarkan baik C-705 atau C-802 rudal, tapi ada laporan yang saling bertentangan dari Jakarta mengenai pilihan dikonfirmasi rudal.
"Ini adalah C-705 untuk saat ini. Tidak ada rencana untuk menyebarkan C-802 yang belum," kata pejabat TNI-AL. The KCR-60M kelas juga dipersenjatai dengan satu 57 mm meriam utama di geladak muka dan dua senjata 20 mm memanjang.
Dalam sebuah wawancara di Jakarta pada 13 Agustus 2014, maka TNI-AL Kepala Staf Laksamana Marsetio mengatakan IHS Jane bahwa angkatan laut sedang mencari untuk mendapatkan setidaknya 16 kapal KCR-60M pada 2018, tunduk pada pendanaan. Platform ini dipandang sebagai komponen inti dari strategi 'Angkatan Minimum Essential' negara bahwa pihaknya berencana untuk memberikan pada tahun 2024.  





Sumber: Janes
readmore »»  

Kapal Perang Koarmatim Ikuti IMDEX ASIA 2015 di Singapura


Changi (MI) : Setelah berlayar mengarungi Laut Jawa dan Selat Karimata selama tiga hari serta melaksanakan Bekal Ulang (Bekul) di Fasharkan Mentigi Tanjung Uban Kepulauan Riau, KRI John Lie-358 yang dikomandani Kolonel Laut (P) Antonius Widyoutomo, S.H. bersama KRI Tombak-629 yang dikomandani Letkol Laut (P) Dikry Rizzany Nurdiansyah, merapat di Changi Naval Base Singapura.
Operasi yang diberi sandi “Singa Malaka 2015” ini mengemban tugas untuk mengikuti ajang pameran, latihan bersama dan konferensi pertahanan maritim  bertaraf internasional yaitu The International Maritime Defence Exhibition and Conference (IMDEX Asia) 2015 yang digelar di Changi Naval Base Singapura (18/5).
Terjangan ombak dan tingginya gelombang pada saat operasi tidak menggetarkan semangat seluruh personel KRI John Lie-358 untuk melaksanakan latihan-latihan antara lain latihan Visit Board Search and Seizure (VBSS), latihan Pusat Informasi Tempur (PIT), dan pentas seni dalam rangka menghadapi even pameran bertaraf internasional tersebut.
Dalam IMDEX Asia yang diselenggarakan mulai tanggal 19 Mei sampai dengan 21 Mei 2015 ini, Indonesia mengirimkan kapal perang dari jajaran Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) jenis Multi Role Light Fregate (MRLF) yaitu KRI John Lie-358 buatan BAE Inggris dan jenis Kapal Cepat Rudal (KCR)-60 yaitu KRI Tombak-629 produksi putra-putri terbaik bangsa Indonesia PT. PAL Indonesia untuk berpartisipasi dalam pameran kapal perang sekawasan Asia Pasifik tersebut. Kedua kapal perang itu akan bergabung dengan kapal perang dari Australia, Bangladesh, Jerman, India, Malaysia, Selandia Baru, Peru, Filipina, Afrika Selatan, Sri Lanka, Swedia, Uni Emirat Arab, Inggris, Uruguay, dan Vietnam.
Selama tiga hari IMDEX Asia 2015 berlangsung seluruh peserta akan mengikuti beberapa kegiatan seminar dan Cocktail Party. Pada saat acara Cocktail Party, KRI John Lie-358 dan KRI Tombak-629 akan menampilkan pentas seni budaya Indonesia tari Saman dari Aceh, tari Reog Ponorogo, tari Perang dari Papua, serta pentas band yang akan dibawakan oleh personel dari kedua KRI tersebut.







Sumber : TNI AL
readmore »»  

Besok, TNI AL Tenggelamkan 35 Kapal Pencuri Ikan



JAKARTA (MI) : Jajaran TNI AL akan menenggelamkan setidaknya 35 kapal pencuri ikan di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Operasi penenggelaman kapal pencuri ikan ini merupakan bentuk kerjasama antara TNI AL, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Satuan Polairud Polri.


Menurut Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AL, Laksamana Pertama TNI Manahan Simorangkir, penenggelaman kapal pencuri ikan yang akan dilakukan TNI AL rencananya bakal dilakukan pada esok hari, Rabu (20/5), bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Meski tersebar di lima lokasi berbeda, tapi penenggalaman kapal itu pun akan dilakukan waktunya secara bersamaan, yaitu pada pukul 10.00 WIB.



Manahan menjelaskan, dari 35 kapal pencuri ikan atau Kapal Ikan Asing (KIA) yang bakal ditenggelamkan itu, lokasinya tersebar dan akan dilakukan oleh jajaran Komando Armada Kawasan Timur RI (Koarmatim) dan Komando Armada Kawasan Barat RI (Koarmabar). "Ada 15 kapal yang ditenggelamkan di Timur, dan ada sekitar 20 kapal di Barat," ujar Manahan saat dihubungi Republika, Selasa (19/5).



Untuk lokasi-lokasinya, Manahan menyebutkan, 15 KIA bakal ditenggelamkan di wilayah perairan Bitung, Sulawesi Utara, 17 kapal di perairan Ranai, Kepulauan Natuna, satu kapal di Belawan, Medan, satu kapal lagi di Lhoksumawe, Nangroe Aceh Darussalam, dan satu kapal berikutnya di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara. Dalam melaksanan operasi penenggelaman kapal ini, TNI AL pun sudah menyiapkan sejumlah Kapal Perang Republik Indonesia (KRI).



"Dari Koarmatim sudah disiapkan tiga KRI, sedangkan Koarmabar akan menyiapkan enam KRI," tutur Manahan. 



Manahan pun memastikan, nakhoda-nakhoda dari kapal itu juga akan melanjutkan proses hukum yang sesuai dengan perundang-undangan. Sementara untuk kru kapal ataupun Anak Buah Kapal (ABK) dari kapal-kapal tersebut akan segera dideportasi ke negara asalnya masing-masing. 



Lebih lanjut, Manahan mengungkapkan, rata-rata kapal pencuri ikan itu berasal dari negara-negara di kawasan ASEAN. ''Banyak yang datang dari Vietnam, Thailand, dan Filipina,'' ujarnya. 








Sumber : REPUBLIKA
readmore »»  

Bagaimana Perkembangan PKR Sigma 10514?


JKGR (MI) : Sejauh apa perkembangan Frigate PKR Sigma 10514 Indonesia ?. @erichsaumeth, lewat twitternya sempat memposting gambar pembangunan frigare buatan Damen Belanda tersebut. Gambar ini diposting tanggal 15/04/2015 dan 6/04/2015.
Erich mengatakan, PKR Sigma 10514 Indonesia sedang dalam konstruksi.

image

image


image








Sumber : JKGR
readmore »»  

TNI Sudah Siap Mengusir tapi Dicegah Kemenlu


JAKARTA (MI) : Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersikap tegas terkait pencari suaka dari suku Rohingya asal Myanmar. TNI memastikan bakal berupaya mencegah siapa pun masuk wilayah negara tanpa dokumen resmi. Sikap ini berbeda dengan kebijakan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).
Kepala Pusat Penerangan TNI Fuad Basya menegaskan, tugas pokok TNI adalah menjaga kedaulatan wilayah negara Indonesia, termasuk wilayah laut.
”Kalau bicara soal kedaulatan, tidak ada satu orang pun yang boleh masuk wilayah Indonesia tanpa izin dan dokumen resmi,” tandasnya di Jakarta Sabtu (16/5).
Soal pengungsi, Fuad menjelaskan bahwa keputusan tersebut ada di tangan Kemenlu. Sebab, hal itu berkaitan dengan diplomasi luar negeri. Namun, Fuad menerangkan bahwa TNI bakal terus menggunakan prosedur semula jika tak ada permintaan khusus dari Kemenlu.
”Kami tetap tegas mencegah warga asing masuk perairan Indonesia secara ilegal. Kecuali memang ada restu dari Kemenlu,” ucapnya.
Fuad mencontohkan kasus 582 orang dari suku Rohingya yang terdampar di Aceh Utara. Saat itu pihak TNI pun sudah siap untuk mengusir mereka. Namun, pihak Kemenlu mencegah dan merestui para pengungsi untuk ditampung. ”Setelah itu kami pun langsung menyerahkan penanganan ke pihak imigrasi,” ujar dia.
Hal tersebut berbeda dengan upaya pencegahan kapal untuk masuk Indonesia. Menurut Fuad, sampai saat ini tidak ada permintaan resmi dari Kemenlu agar TNI membiarkan masuk kapal pengungsi ke wilayah Indonesia.
Karena itu, dia pun sempat menggiring keluar kapal yang memang mengaku tak ingin ke wilayah Indonesia. ”Kami berikan bantuan bahan bakar dan logistik, lalu menggiring mereka keluar,” jelasnya.
Fuad tak menampik mendengar sikap Kemenlu di publik. Namun, hal tersebut belum bisa menjadi pertimbangan TNI untuk melakukan pengecualian. ”Kami tidak mau salah langkah hanya karena berita di media. Jadi, sampai saat ini kami tetap melakukan penyisiran,” tambahnya
Pernyataan tersebut menguatkan sikap Panglima TNI Jenderal Moeldoko sehari sebelumnya. Pucuk pimpinan TNI itu bahkan membentuk tim khusus dalam rangka mencegah masuknya kapal pengungsi. Tim tersebut bakal berpatroli di sepanjang Selat Malaka yang sering dilalui pengungsi.
”Diusahakan tidak masuk ke wilayah kita agar tak memunculkan persoalan sosial. Kalau (akses laut) dibuka, bisa-bisa ada eksodus ke sini,” tutur Moeldoko. Namun, dia mengaku tetap memberikan bantuan selama para pengungsi itu melewati Selat Malaka.





Sumber : JPNN
readmore »»  

TNI AL Kembali Selamatkan 200 Pengungsi di Dekat Aceh


Banda Aceh (MI) : Setelah sekitar 750 orang pengungsi Rohingya dan Bangladesh diselamatkan, pada Jumat (16/5/2015). Kali ini 200 orang pengungsi lainnya diselamatkan oleh TNI Angkatan Laut.
ABC Australia, Sabtu (16/5/2015) menyebutkan bahwa TNI AL menyelamatkan 200 pengungsi yang sudah menggapai perairan Aceh. Pengungsi yang diselamatkan itu, berada di perairan sama dengan 750 pengungsi sebelumnya yang diselamatkan.
Menurut Mayor Jenderal Fuad Basya, 200 pengungsi itu ditemukan oleh nelayan pada Jumat (15/5/2015) pagi. Kemudian pihak TNI AL mengirim kapal untuk menjemput mereka.
Sebelumnya pada Minggu 10 Mei 2015 terdapat 582 orang Rohingya yang masuk ke Aceh. Meskipun bukan negara yang meratifikasi perjanjian Konvensi Tentang Pengungsi, namun Indonesia menerima prinsip non-refoulement atau praktik tidak memaksa pengungsi atau pencari suaka untuk kembali ke negara di mana mereka bertanggung jawab untuk sasaran penganiayaan.
Sementara pada Jumat (15/5/2015) nelayan menarik dua kapal pengungsi Rohingya, ke Provinsi Aceh. Satu kapal berisi sekitar 700 orang, sementara kapal lainnya berisi 47 orang.
  
Untuk saat ini, para pengungsi itu ditempat di sebuah gudang untuk ditumpang sementara. Belum diketahui langkah selanjutnya yang akan diambil untuk mengurus para pengungsi ini. 
Sementara pihak Myanmar yang asal dari pengungsi Rohingya tersebut, seperti tidak ada niatan untuk mengatasi diskriminasi yang dialami oleh kelompok Rohingya. 
Wakil Menteri Luar Negeri Myanmar Thant Kyaw mengatakan, Pemerintah Myanmar belum siap membahas pengungsi dari Bangladesh dan Etnis Arakan di Myanmar, dalam kerangka isu Rohingya.
Kyaw pun menambahkan, pemerintahnya akan memeriksa apakah pengungsi yang keluar dari Myanmar itu adalah warga mereka. Jika mereka bisa memberikan bukti kewarganegaraan Myanmar, maka pemerintahan Presiden Thein Sein akan mempertimbangkan isu ini.
Pertanyaan terbesar muncul, bagaimana mungkin para pengungsi ini bisa menunjukkan bukti? Pemerintah Myanmar justru tidak pernah mengakui keberadaan mereka dan etnis Rohingya ini pun diletakan dalam sebuah tempat penampungan yang terkonsentrasi.







Sumber : Metrotvnews
readmore »»  

Ini Canggihnya KRI Rigel 933, Kapal Buatan Prancis yang Perkuat TNI AL



Jakarta (MI) : Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (Dishidros) bertugas menyediakan data dan informasi Hidro-oseanografi berupa peta laut untuk navigasi pelayaran. Guna memperkuat pencarian hasil survei, TNI AL meluncurkan kapal baru yakni KRI Rigel 933.


Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade supandi mengklaim KRI Rigel 933 merupakan kapal perang jenis Bantu Hidro-Oseanografi (BHO) yang tercanggih se-Asia. 

Kapal perang tersebut dibangun di Prancis dan untuk berlabuh ke Indonesia, KRI Rigel 933 bertolak dari dermaga Les Sables d'Olonne, Perancis pada 26 Maret dan tiba hari ini di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

"Ini (KRI Rigel 933) dari negara Perancis untuk memperkuat jajaran TNI AL, tentunya kapal ini memiliki berbagai kemampuan dalam melakukan survei dan pemetaan, dan mampu melakukan pengumpulan data," ujar Ade di Dermaga JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jumat (15/5/2015).

Untuk menempuh perjalanan selama 50 hari dari Perancis ke Indonesia, kapal ini dipimpin oleh komandan Letkol Laut M. Wirda Prayogo dan diawaki 30 orang prajurit TNI AL. KRI Rigel 933 dibangun atas kerja sama Kemenhan dengan pihak galangan kapal OCEA Perancis.

"Paling tidak kapal ini bisa memenuhi kebutuhan kapal-kapal survei dalam rangka pemuktahiran data-data perairan kita, baik untuk kepentingan laut maupun kepentingan navigasi. Beberapa produk peta laut membutuhkan keberadaan kapal-kapal survei," jelasnya.

Adapun, kapal tersebut terbuat dari alumunium dengan bobot 560 ton dengan panjang 60,1 meter dan lebar 11,5 meter. 



Dilengkapi dengan peralatan AUV (Autonomous Underwater Vehicle) yang berfungsi melaksanakan pencitraan bawah laut sampai dengan kedalaman 1.000 meter dan mengirimkan kembali data secara periodik ke kapal utama dalam hal ini kapal BHO.


Selain itu, kapal ini juga dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), SSS (Side Scan Sonar), Laser Scaner untuk mendapatkan gambaran daratan, AWS (Automatic Weather Station), Echosounder Multibeam laut dalam dan Singlebeam, Peralatan CTD (Conductivity Temperatureand Depth), Gravity Cores, kelengkapan Laboratorium serta kemampuan survei perikanan.

Kapal ini juga dilengkapi dengan persenjataan mitraliur kaliber 20 mm dan kaliber 12,7 mm. KRI Rigel 933 akan masuk dalam jajaran satuan survei Dishidros TNI Angkatan Laut yang bermarkas di Jakarta. 



KRI Rigel merupakan jenis MPRV (Multi Purpose Research Vessel), yang merupakan sejarah baru di jajaran kapal-kapal TNI AL dalam memodernisasi armada kapal, khususnya kapal survei hidro-oseanograf.










Sumber : Detik

readmore »»  

KSAL: Kapal Canggih KRI Rigel 933 Perkuat TNI AL Lakukan Survei Pemetaan Laut



Jakarta (MI)TNI AL kehadiran amunisi baru untuk memperkuat penyediaan data dan informasi Hidro-oseanografi berupa peta laut dengan datangnya KRI Rigel 933 di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakut, Jumat (15/5/2015) pagi ini. Kapal tersebut diklaim sebagai kapal survei tercanggil se-Asia.


"Ini (KRI Rigel 933) dari negara Perancis untuk memperkuat jajaran TNI AL, tentunya kapal ini memiliki berbagai kemampuan dalam melakukan survei dan pemetaan, dan mampu melakukan pengumpulan data," ujar KSAL Laksamana Madya TNI Ade Supandi di Dermaga JICT 2, Pelabuhan Tanjung Priok.



KRI Rigel 933 berada di bawah kendali Dinas Hidro Oseanografi TNI AL (Dishidros). Dishidrof sendiri dalam hal ini bertanggung jawab untuk menyediakan data dan informasi Hidro-oseanografi yang akurat sebagai data dasar yang digunakan sebagai bahan analisa strategi pertahanan nasional.



"Paling tidak kapal ini (KRI Rigel 933) bisa memenuhi kebutuhan kapal-kapal survei dalam rangka pemuktahiran data-data perairan kita, baik untuk kepentingan laut maupun kepentingan navigasi. Beberapa produk peta laut membutuhkan keberadaan kapal-kapal survei," jelasnya.



Ade menjelaskan, misi utama KRI Rigal 933 dalam waktu dekat ini akan melakukan updeting peta-peta laut. "Bahwa dengan perkembangan nasional khususnya di daerah perairan pantai ada reklamasi, ada pembangunan dermaga, ada pelabuhan itu harus kita update semua," terang Ade.



Menurutnya, sekarang TNI AL telah dituntut untuk membuat peta secara elektronik. Dalam waktu 5 tahun ke depan, TNI AL akan melakukan pengamanan untuk perairan-perairan yang memiliki potensi perkembangan ekonomi.



"Apalagi sekarang ada tuntutan peta laut ini harus secara elektronik, itulah tugas-tugas kami (TNI AL) dalam waktu dekat ini. Paling tidak dalam waktu 5 tahun ke depan beberapa alur-alur perairan yang berpotensi untuk perkembangan ekonomi harus betul-betul aman. Kami akan memberikan rekomendasi perubahan laut dimana saja," tutupnya.








Sumber : Detik
readmore »»  

Dukung TNI AL, Politisi Gerindra Harap Permintaan 500 Kapal Dipenuhi


JAKARTA (MI) : Anggota Komisi I DPR RI Rachel Maryam menilai wajar adanya permintaan 500 kapal dari Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi. Hal itu sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo yang menjadikan Indonesia sebagai negara maritim.
"Negara Indonesia adalah negara yang luas. Terdiri dari banyak pulau dan lautan serta berbatasan wilayah laut dengan banyak negara. Pernyataan KSAL merupakan sesuatu yang wajar dalam kerangka upaya mewujudkan visi Presiden," kata Rachel melalui pesan singkat, Jumat (15/5/2015).

Politisi Gerindra itu menegaskan menjaga kedaulatan negara adalah hal yang mutlak. Apalagi, marak Ilegal loging dan ilegal fishing sangat merugikan APBN. Kemudian bahaya peredaran narkoba dan human trafficking yang dalam pelaksanaannya sering kali menggunakan jalur laut.
"Namun disisi lain kita harus memahami bahwa kondisi ekonomi negara kita saat ini sedang dalam posisi yang kurang baik. Sehingga postur anggaran yang ada dalam APBN kita yang terbatas harus benar-benar digunakan scara seefektif dan seefisien mungkin," ungkapnya.
Rachel pun mendukung armada kapal yang disampaikan oleh KSAL dapat bisa segera dipenuhi. Namun tetap harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran negara. Oleh karenanya untuk mensiasati keterbatasan anggaran negara yang ada, maka perlu dipertimbangkan pula pembelian secara bertahap dan memaksimalkan industri strategis nasional yang menunjang pencapaian tersebut.
Ia mendorong agar Kementerian Pertahanan untuk membuat Rencana strategi alat Utama Sistem persenjataan yang visioner. "Yaitu dengan melihat potensi ancaman secara jangka panjang dan bukan hanya berdasarkan kebutuhan saat ini saja. Agar tercipta renstra alutsista yang tepat, efisien dan bermanfaat untuk jangka panjang," katanya.
Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengakui bahwa tidak mudah untuk menjaga keamanan di seluruh wilayah perairan Indonesia. Kesulitan tersebut lantaran keterbatasan jumlah kapal patroli yang dimiliki TNI AL.
"Kendalanya, garis pantai kita itu sepanjang 81 ribu kilometer. Tapi kapal patroli kita belum cukup untuk menjaga semua titik kepualauan," ujar Ade saat ditemui di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (13/5/2015).
Ade mengatakan, untuk mengawasi setiap pulau-pulau di Indonesia, setidaknya harus disiagakan sekitar 500 kapal patroli. Menurut Ade, idealnya satu kapal patroli mengawasi wilayah perairan seluas 30 mil.
Sementara saat ini, jumlah kapal patroli yang dimiliki TNI AL tidak lebih dari 40 unit. Menurut Ade, TNI AL akan mempunyai 151 kapal perang berbagai jenis hingga 2024. Namun, dalam beberapa waktu ke depan, direncanakan akan ada 44 unit kapal patroli yang akan didatangkan.









Sumber : TRIBUNNEWS
readmore »»  

TNI AL Sambut Rigel 933, Kapal Tercanggih se-Asia


JAKARTA (MI) : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) hari ini menyambut kedatangan KRI Rigel 933 di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kapal perang jenis bantu hidro-oseanografi (BHO) yang dibuat digalangan kapal OCEA Perancis ini memiliki ukuran panjang 60,1 meter, lebar 11,5 meter dan bobot 560 ton. Kapal yang dilengkapi dengan berbagai teknologi modern ini dianggap sebagai kapal tercanggih se-Asia.

"Kapal ini akan memperkuat alutsista (alat utama sistem persenjataan) TNI AL karena mampu melakukan pemetaan dan pendataan bawah laut. Teknologi terus berkembang, memang sekarang Indonesia lebih dulu memiliki, negara lain belum," ujar Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Ade Supandi di Tanjung Priok, Jumat (15/5/2015).

Menurut KSAL, kelebihan lain kapal ini adalah kemampuan manuver yang sangat baik dan dilengkapi dengan robot bawah air yang bisa mengambil sampel bawah laut dan mampu menyelam sampai kedalaman 1.000 meter.

"Kapal inilah yang diperlukan hidro oseanografi khususnya dan TNI AL pada umumnya demi kepentingan pertahanan negara sekaligus memenuhi kebutuhan kapal-kapal survei dalam pemutakhiran data-data perairan baik untuk navigasi maupun survei kedalaman," jelasnya.

Ade berharap, keberadaan kapal Rigel yang diambil dari nama bintang paling terang ini mampu menambah eksistensi peran TNI AL. Sekaligus menjadi konektivitas maritim dan tol laut. 

"Dalam program MEF kita ajukan dua kapal, satu sudah sampai di sini (Indonesia) dan satunya lagi pada Juli-Agustus akan selesai," ucapnya. 






Sumber : Sindonews

readmore »»  

TNI AL Berencana Kembangkan Traffic Management Center di Laut


SURABAYA (MI) : TNI Angkatan Laut berencana mengembangkan traffic management center (TMC) untuk lalu lintas laut. Hal itu dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kepadatan jalur laut.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma TNI Manahan Simorangkir, saat meresmikan "Media Center" Dispen Koarmatim di Surabaya, Jatim, Rabu (13/5) mengatakan, rencana pembentukan TMC seperti yang dimiliki Polri memang ada, dan masih terus dikembangkan.

"Arah ke sana memang ada, sebab tujuan kita adalah untuk memberikan rasa aman bagi masyarakat kita sendiri atau internasional. Contoh seperti di Selat Malaka, Selat Sunda atau di tempat yang trafiknya padat atau berbahaya adanya perompakan dan kecelakaan navigasi, perlu sekali adanya semacam TMC," ucapnya.

Terkait rencana itu pula, Manahan mengaku pernah ada penjual alat/jaringan komunikasi menawarkan kepada TNI AL sebuah alat canggih yang bisa digunakan untuk siaran langsung, namun masih dalam penjajakan.

"Rencana itu memang ada, namun prioritas kami saat ini masih melengkapi peralatan dan mengembangkan yang ada. Tentunya, setiap informasi yang akan dikeluarkan juga harus dipilah, mana yang untuk publik dan mana yang merupakan rahasia negara," tuturnya.

Ia mengatakan, upaya yang dilakukan saat ini adalah mengembangkan keberadaan media center untuk Dispen Koarmatim dan beberapa jajaran lainnya, sehingga bisa terintegrasi dan melaksanakan monitoring terkait pemberitaan mengenai Angkatan Laut.

"Awal pengembangan media center karena pesatnya media saat ini, sehingga menuntut penyesuaian dan peningkatan jajaran penerangan TNI Angkatan Laut dalam rangka membangun opini dan merebut hati dan pikiran rakyat agar mendukung tugas TNI AL," tuturnya.

Ia berharap, dengan adanya pengembangan teknologi di bidang penerangan dapat membentuk lingkungan informasi yang sesuai dengan kepentingan TNI AL, sehingga mendukung tugas-tugas TNI AL.








Sumber : REPUBLIKA
readmore »»  

Tangkal Narkoba, TNI AL Butuh 500 Kapal Patroli


Jakarta (MI) : Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengatakan bukan hal yang mudah untuk memberantas penyelundupan narkoba di perairan Indonesia. Musababnya, wilayah perairan Indonesia sangat luas dan memiliki ribuan pulau kecil.

"Garis pantai Indonesia saja sepanjang lebih dari 81 ribu kilometer. Belum lagi ribuan dermaga 'tikus' yang bisa dimanfaatkan penyelundupan narkoba," kata Ade kepada wartawan di Markas Besar TNI, Jakarta, Rabu, 13 Mei 2015.


Sayangnya, kata Ade, luas wilayah Indonesia itu tak diimbangi dengan armada kapal patroli yang mencukupi. Walhasil, penyelundupan barang-barang ilegal dari luar negeri banyak yang tak terpantau oleh instansi yang menjaga wilayah laut, termasuk TNI AL.


"Misalnya narkoba dari utara, seperti India dan Malaysia, mudah masuk ke Sumatera Barat, bisa juga ke Kepulauan Riau dan Natuna yang banyak sekali pulaunya," ujarnya.

Berdasarkan kajian TNI AL, setidaknya Angkatan Laut memerlukan 500 unit kapal patroli untuk membentengi wilayah laut Indonesia. Dengan begitu, setiap 30 mil laut disiagakan satu unit kapal patroli. Kapal patroli tersebut berukuran panjang 60 meter dengan senjata tak terlalu berat. "Karena untuk patroli saja, bukan untuk perang," kata Ade.


Saat ini jumlah kapal patroli TNI AL tak lebih dari 40 unit. Bahkan Ade menilai jumlah keseluruhan kapal perang TNI AL masih dirasa kurang. Sesuai program modernisasi alat utama sistem persenjataan, TNI AL akan mempunyai 151 kapal perang berbagai jenis hingga 2024. "Untuk kapal patroli sesuai rencana akan ada 44 unit," ujar Ade.


Sebagai solusi kekurangan armada kapal, TNI AL akan menggandeng seluruh instansi yang memiliki kapal patroli, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Keamanan Laut, serta Polisi Air dan Udara. Selain itu, pelaksanaan operasi patroli gabungan harus efektif dan efisien. "Sebelum operasi harus menghimpun data intelijen, jadi sudah tahu sasaran yang akan ditangkap," kata Ade.
Sumber :  TEMPO
readmore »»  

KRI Sultan Iskandar Muda Berlatih di Laut Mediterania



Laut Mediterania (MI) : Memasuki on task ke-20, KRI Sultan Iskandar Muda (SIM)-367 dan helikopter BO-105 NV-410 onboard yang tergabung dalam satuan gugus tugas Maritime Task Force (MTF) Konga XXVIII-G/ UNIFIL Lebanon melaksanakan beberapa materi latihan bersama dengan unsur-unsur kapal perang MTF UNIFIL lainnya di Area Of Maritime Operation (AMO) di perairan Lebanon.

Dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa (12/5/2015), pada tanggal 9 Mei 2015 atau hari pertama on task, KRI SIM-367 melaksanakan serial latihan Deck Landing Qualificatoin (DLQ) dan Anti Asymetric Warfare Exercise (AASYWEX) 005 Low Slow Flyer (LSF) dengan FGS Erfurt F-262 (kapal perang kelas Korvet Jerman). Tujuan utama latihan DLQ adalah melatih tim helideck party untuk mampu menerima, mengarahkan dan melepas helicopter yang melaksanakan terbang landas di kapalnya, sedangkan tujuan latihan AASYWEX 005 Low Slow Flyer adalah untuk meningkatkan kemampuan unsur terhadap situational awareness semua penerbangan yang melintas di wilayah operasinya dalam upaya mengantisipasi adanya kemungkinan ancaman asimetris dari pesawat udara dengan ketinggian dan kecepatan rendah (Low Slow Flyer/LSF).

Pelaksanaan latihan DLP yang dimulai pukul 14.30 Local Time (LT) diawali dengan menerbangkan helikopter BO-105 NV410 dari KRI SIM-367 untuk melaksanakan beberapa sortie landing di geladak heli FGS Erfurt F-262. Setelah DLP selesai, latihan diteruskan dengan materi AASYWEX, di mana heli BO 105 NV 410 berperan sebagai Low Slow Flyer (LSF) yang disimulasikan melaksanakan penerbangan yang mengancam FGS Erfurt F-262 yang sedang melaksanakan patroli maritim.

KRI Sultan Iskandar Muda Berlatih di Laut Mediterania

Pada pagi hari tanggal 10 Mei 2015, KRI SIM-367 melaksanakan latihan dengan salah satu kapal MTF UNIFIL lainnya yaitu HS Xenos P-27 (Yunani) dengan materi latihan Miscellaneous Exercise (MISCEX) 805 Mailbag Transfer. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian personel kapal dalam hal mengirim dan menerima barang logistik ataupun material lain yang dikirim antar kapal di laut. 


Siang harinya, KRI SIM-367 kembali melaksanakan latihan dengan FGS Erfurt F-262 dengan materi latihan yang sama seperti sebelumnya, yaitu Deck Landing Qualificatoin (DLQ) dan Anti Asymetric Warfare Exercise (AASYWEX) 005 Low Slow Flyer (LSF).


Adapun seluruh kegiatan latihan berjalan dengan aman dan lancar. Selesai pelaksanaan latihan, KRI SIM-367 dan unsur-unsur MTF UNIFIL lain kembali menuju ke zona patroli masing-masing di AMO.







Sumber : Detik
readmore »»  

TNI AL Lepas Perahu Pengungsi Rohingya ke Laut


Banda Aceh (MI) : Ratusan pengungsi Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh dikembalikan oleh TNI Angkatan Laut ke perairan untuk menuju ke Malaysia. Sebelum dikembalikan ke perairan, mereka diberi makanan dan air pada Senin kemarin, 11 Mei 2015.

Stasiun berita Channel News Asia, Selasa, 12 Mei 2015 melansir pernyataan juru bicara TNI AL, Manahan Simorangkir, yang membenarkan informasi itu. Manahan membantah perahu mereka diarahkan ke Malaysia, tujuan para pengungsi Rohingya itu semula.

"Perahu itu kembali didorong keluar dari perairan Indonesia. Kami telah memberikan mereka bahan bakar dan meminta mereka agar segera meninggalkan Indonesia," ujar Manahan.

Dia menambahkan tidak memaksakan para pengungsi itu untuk pergi ke Malaysia atau Australia.

"Itu bukan urusan kami. Yang menjadi kepentingan kami yaitu mereka tidak masuk ke perairan Indonesia, karena RI bukanlah tujuan mereka," kata Manahan.

Namun, tidak diketahui perahu yang mana yang didorong oleh TNI AL. Sebab, terdapat dua gelombang kedatangan. Pertama, pada akhir pekan lalu, sebuah perahu berisi 600 imigran gelap asal Myanmar terdampar di wilayah perairan Indonesia.

Kedua, pada Senin kemarin, terdapat tambahan 400 orang imigran gelap lainnya.

Menurut koresponden BBC, para pelaku penyelundupan pengungsi Rohingya enggan menggunakan rute biasa melalui Thailand. Sebab, mereka sadar Pemerintah Negara Gajah Putih tengah gencar melakukan kampanye untuk menghalau kedatangan mereka.

Sebelum dilepas, Manahan memastikan, kondisi para pengungsi Rohingya itu masih hidup dan dalam keadaan baik.

Terkejut

Tetapi, kebijakan yang ditempuh oleh TNI AL itu membuat terkejut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM). Juru bicara IOM, Jow Lowry, mengatakan seandainya dorong perahu itu benar, maka mereka benar-benar mengejutkan.

Para pengungsi itu justru butuh untuk berada di daratan. Sebab, banyak laporan yang mengatakan para penumpang di dalam perahu seperti itu justru membutuhkan bantuan darurat karena ada laporan mereka menderita penyakit beriberi, yakni sebuah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin.

"Beriberi akan menyebabkan bagian tubuh Anda yang tersisa hanya tulang belulang belaka. Mereka akan membutuhkan bantuan kemanusiaan secepatnya," kata Lowry.

Mereka mengatakan orang-orang seperti pengungsi Rohingya banyak yang menjadi korban perdagangan manusia. Bahkan, tidak sedikit yang dijadikan sandera oleh para penyelundup mereka.

"Ada beberapa contoh yang sudah berada di laut sejak awal Maret lalu menanti perahu untuk memindahkan mereka dan menanti uang tebusan," kata Lowry.

Dia menambahkan, para pengungsi itu tentu diberi makanan dan air. Tetapi, tidak diketahui dengan jelas kandungan nutrisi di dalamnya. 








Sumber : VIVA
readmore »»