Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan

Ini kerugian besar untuk negara jika seorang pilot TNI AU tewas

Ini kerugian besar untuk negara jika seorang pilot TNI AU tewas

kapten sandy

Jakarta (MI) : Pesawat Hercules C-130 milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) jatuh di Medan, Sumatera Utara. Peristiwa ini menewaskan 122 orang di dalamnya, yang terdiri atas 12 awak, 10 anggota Korpaskhas dan 100 anggota TNI dan keluarganya.

Pesawat dengan registrasi A1310 ini dipiloti oleh Kapten Penerbang Sandy Permana. Sandy merupakan anggota dari Skadron 32 Abdul Rahman Saleh, Malang, Jawa Timur. Tak hanya itu, dia juga siswa terbaik Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) angkatan 97.

Tentu, tewasnya salah satu penerbang terbaik merupakan sebuah kehilangan besar. Bukan hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tapi juga bagi TNI. Apalagi, tak mudah untuk mendidik seorang pilot pesawat militer. Butuh biaya besar untuk mendapatkannya.

Direktur Utama Bandung Pilot Academy, Nasrun Natsir mengungkapkan biaya untuk mendidik seorang calon pilot mencapai jutaan dolar AS. Sebuah angka yang sangat besar, di mana seluruhnya dihitung berdasarkan beban operasional sebuah pesawat tempur.

"Secara pasti untuk apa, kita lihat dari peralatan alutsista yang digunakan untuk operasi pesawat terbang, berapa besar untuk mendidik pilot? Dari peralatan yang digunakan dan harga, kemudian prosesikan berapa jam dibutuhkan pilot militer untuk operasi. Secara visual kita bisa mengerti berapa biaya F-16 saat terbang, di mana sejamnya memakan biaya USD 6 ribu. Kalau pesawat asing hampir sama, kalau sekarang militer ada jet turboprop, mungkin ya USD 2-3 ribuan. Untuk dukungan operasi, dan lain-lain, biaya pendidikan militer besar sekali, lebih dari USD 1 juta," ujar Nasrun saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (1/7) malam.

Biaya 1 juta USD atau sekitar Rp 1,3 miliar itu tentu bukan biaya yang kecil. Apalagi, untuk mendukung pendidikan tersebut, TNI AU telah memiliki sejumlah peralatan pendukung, seperti simulasi, alat instruksi dan lain-lain.

"Jadi alat instruksi, alat pendidikan militer lebih lengkap dan canggih. Sipil kalah, militer jauh lebih mahal," tandasnya.

Kerugian lain adalah TNI AU kehilangan kandidat calon pemimpin di masa depan. Apalagi rata-rata pilot dan copilot yang gugur saat penerbangan pesawat TNI biasanya masih berusia sangat muda. Sebagian malah berusia di bawah 30 tahun. Karir mereka seharusnya masih jauh terbentang.

Karena itu secara tegas Presiden Jokowi meminta jangan sampai ada kecelakaan alutsista TNI yang memakan korban putra-putri terbaik bangsa. Jokowi memerintahkan kasus kecelakaan di Medan ini segera diinvestigasi.

"Dicari penyebabnya dan jangan sampai terulang lagi," tegas Jokowi.









Sumber : Merdeka
readmore »»  

TNI AU Dukung Penerjunan Pasukan Latihan Tempur TNI AD Di Baturaja

http://tni-au.mil.id/sites/default/files/imagecache/body/2015-06/2015-06-15-plg.jpg

Palembang (MI) : 6 pesawat TNI Angkatan Udara terdiri 5 pesawat C-130 Hercules Skadron Udara 31 dan 1 pesawat CN.295 Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta, tiba di Lanud Palembang untuk melakukan pengisian bahan bakar usai dukung penerjunan pasukan dalam rangka gladi latihan tempur antar kecabangan TNI Angkatan Darat, di Martapura, Baturaja, Sumatra Selatan, Sabtu (13/6) kemarin.
Kedatangan pesawat disambut langsung Komandan Lanud (Danlanud) Palembang, Letkol Pnb. M.R.Y. Fahlefie, S.Sos.psc. di Apron Bravo dan Alva Lanud Palembang.

Diperoleh informasi bahwa latihan yang melibatkan Prajurit dan Satuan jajaran TNI Angkatan Darat dari berbagai macam Kecabangan tersebut merupakan latihan terbesar dan pertama kali digelar TNI AD adalah dalam rangka memelihara dan meningkatkan kemampuan satuan tempur yang diorganisir dengan memadukan kerjasama antar kecabangan dengan berbagai macam alutsista yang ada. Diantara persenjataan yang digunakan adalah Tank Scorpion, Tank AMX 13, Tank Marder, Stormer, M113A1, Tank Jembatan Scorpion, AVLB, Tank Leopard, Panser Anoa dan Tarantula yang akan di uji coba seperti di medan sesungguhnya.







Sumber : TNI AU
readmore »»  

TNI akan Ingatkan Pesawat Malaysia untuk Tak Masuk Ambalat


Jakarta (MI) : Pesawat militer Malaysia beberapa kali kedapatan melanggar dan masuk ke wilayah Indonesia. Dari hasil evaluasi TNI, diduga terdapat unsur kesengajaan bagi pesawat asal Negeri Jiran itu ketika memasuki dan melihat wilayah Nusantara, khususnya di wilayah sengketa Ambalat.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan dengan mengingatkan pimpinan tertinggi tentara Malaysia agar tak melakukan hal itu.

"Pasti nanti akan diingatkan ya," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (15/6).

Moeldoko menyampaikan pihaknya sebenarnya telah bersepakat dengan panglima tentara Malaysia untuk tidak membuat hubungan antara kedua negara kembali memanas akibat isu perselisihan di sekitar Ambalat.

"Sebenarnya kami sudah bersepakat dengan panglima mereka (Malaysia) untuk masalah Ambalat jangan lagi. Kita ada di sana, kita saling menjaga saja. Kalian menjaga, saya juga menjaga. Kami sudah sepakat," kata dia.

Moeldoko mengaku belum tahu apakah akan memberikan teguran atau tidak. Pasalnya, menurut dia, dalam melakukan diplomasi harus diawali dengan peringatan halus.

"Dalam dunia diplomasi ada yang diawali dari soft dulu. Kenapa kalian mesti begitu? Kan begitu," ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meyakini hubungan Indonesia dan Malaysia tidak akan memanas akibat isu perselisihan di sekitar Ambalat yang luasnya mencapai 15 ribu kilometer itu.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini menegaskan TNI tidak menggelar kekuatan di sekitar Blok Ambalat. "Tidak ada gelar kekuatan. Saya barusan dari sana. Tidak ada masalah," ujar Ryamizard di Garut, Jawa Barat, Jumat (12/6).

Pemerintah, menurut Ryamizard, mengedepankan dialog dalam menyelesaikan isu pertahanan dan keamanan. Apalagi, hal ini diamanatkan dalam perjanjian di antara negara ASEAN.

"Kita harus jaga persahabatan, kan sudah sepakat, 48 tahun lalu (saat pendirian ASEAN). Kalau ada perselisihan, selesaikan dengan dialog untuk mencari solusi. Tidak main tembak-tembak begitu," kata Ryamizard.

Saat ini TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara sedang menggelar Operasi Sakti di sekitar Blok Ambalat. Keduanya menurunkan alutsista mereka, seperti tiga KRI, dua pesawat Sukhoi 27/30, dan tiga F16 Fighting Falcon.

Sementara itu, petugas Landasan Udara Tarakan, Kalimantan Timur, sejak Januari hingga Mei tahun ini mencatat, terdapat sembilan pesawat berbendera Malaysia yang telah memasuki wilayah udara Indonesia, tepatnya di atas Blok Ambalat.

Sejak dekade 1960-an, Indonesia dan Malaysia memang kerap bersitegang terkait Blok Ambalat. Puncak perseteruan terjadi pada tahun 2002, ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia pada sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan yang berada di Blok Ambalat. 







Sumber : CNN
readmore »»  

Menjaga Ambalat dengan Pesawat F16



Menjaga Ambalat dengan Pesawat F16

Ambalat (MI) Pagi itu, pangkalan udara Tarakan, Kalimantan Utara terlihat berbeda. Pangkalan diguyur hujan dengan intensitas sedang. Namun, cuaca kembali cerah setelah tiga puluh menit kemudian.
Belasan prajurit dari satuan angkatan udara mulai bersiap. Mereka akan menggelar operasi rutin selama satu tahun yang diberi sandi Perisai Sakti 2015.

Tiga pesawat tempur F16 milik TNI AU juga sudah terparkir di tempatnya. Hari itu, Kamis 11 Juni 2015 jadwal prajurit patroli menggunakan pesawat tempur tersebut. Tujuannya, untuk mengamankan kawasan Ambalat yang masih menjadi sengketa. Tarakan merupakan kawasan yang paling dekat dengan daerah yang menjadi perbatasan RI dengan Malaysia.

Dua pilot F16 dari Skadron Udara III Madiun mulai mendekati pesawat yang akan mereka tunggangi. Dengan berbagai persiapan sebelumnya, keduanya mulai menaiki pesawat menggunakan tangga bantuan yang sudah disediakan oleh crew pesawat.
Menggunakan helm dan perlengkapan lainnya, pesawat siap dioperasikan. Mesin pesawat tempur dinyalakan dan berjalan ke runway selanjutnya lepas landas.

Selama kurang lebih satu jam, pesawat buatan Amerika ini mengelilingi Ambalat. Kali ini tak ada pesawat pengintai dari Malaysia yang masuk ke daerah sengketa. Salah satu pilot F16, Kapten Ferry Rahman mengatakan, setelah dilakukan patroli tidak ditemukan ada pesawat maupun kapal yang sengaja melintas di kawasan itu.

"Hasilnya nihil, meski demikian kami tetap melakukan patroli selama satu tahun penuh," ujar Ferry saat ditemui VIVA.co.id usai patroli di Bandara Juwata Tarakan, Kalimantan Utara.
Selama patroli, kata Ferry, pantauannya tidak lepas dari hal-hal kecil. Meski hanya lewat udara tetapi gangguan tidak boleh masuk sedikitpun. Tak hanya F16, patroli saat itu juga dibantu dengan pesawat tempur Sukhoi dari markas pertahanan Makassar. Namun pesawat buatan Rusia itu tidak mendarat di Tarakan, hanya melintas saja.

Komandan Pangkalan Udara Tarakan, Letkol Penerbang Tiopan Hutapea mengatakan, sepanjang tahun 2015 sejak Januari hingga Mei 2015 sudah ada sembilan pesawat Malaysia yang masuk ke daerah sengketa.
Pesawat yang melanggar dari militer, sipil maupun pesawat tanpa awak. Modus yang mereka gunakan juga biasanya mengaku patroli, sengaja melintas namun bukan jalur semestinya dan masih banyak lagi. Dia sudah melaporkan kasus tersebut ke Mabes AU untuk selanjutnya diserahkan ke pemerintah.








Sumber :  VIVA
readmore »»  

Dengan Rudal QW-3, 99,99% Sasaran Pasti Hancur

http://img2.bisnis.com/jogja/posts/2015/06/12/213/rudal.jpg

SLEMAN (MI) : Korps Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU kini didukung oleh rudal QW-3 berikut radar Smart Hunter. Bagaimana keampuhan alutista tersebut menurut para penggunanya?

Dilihat sekilas, bentuk rudal QW-3 terlihat sangat sederhana. Bahkan saking sederhananya, bentuk senjata ini lebih menyerupai batang bambu petung. Senjata sepanjang dua meter ini juga dilengkapi dengan tali seperti layaknya tas gendong.

Tapi kesederhanaan itu ternyata menyimpan daya menghancur yang luar biasa. Rudal QW-3 buatan Tiongkok ini mampu menghancurkan pesawat apapun dalam jarak delapan kilometer. Paskhas TNI AU kini memiliki 100 unit rudal yang disebar di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) 474 Paskhas yang bermarkas di Berbah, Sleman.

Salah satu prajurit yang piawai mengoperasikan rudal antipesawat itu adalah Kopral Dua (Kopda) Eko Supriyanto. Pria asal Kulonprogo itu telah menjadi penembak rudal dalam lima kali latihan gabungan TNI, seperti di Garut, Jawa Barat, di Palembang, Kupang dan Pacitan, Jawa Timur.

Ia mengakui, akurasi tembakan rudal QW-3 nyaris 99,99%. Itu dibuktikan dari pengalamannya menembak drone dengan ketinggian 3.000 meter berjarak sekitar empat kilometer. Objek flare yang dilepas dari helikopter saat latihan juga berhasil dihancurkan dengan jarak tiga kilometer. "Dari lima kali saya memakai, 99,99 persen semua tepat sasaran," ujar Kopda Eko saat ditemui Harian Jogja saat latihan, beberapa waktu lalu.

Sebagai penembak, Eko hanya langsung menggunakan. Soal pengisian misil telah dilakukan prajurit lain yang bertanggungjawab di arsenal (gudang). Daya luncur misil dituntun oleh infrared dengan mencari sasaran panas ground to air atau dari permukaan ke udara, namun tidak bisa dikecoh oleh flare pesawat musuh. Rudal dengan kecepatan 600 meter/detik menggunakan baterai sebagai daya peluncur. Baterai itu terletak di sisi depan tubuh rudal.

Eko biasa memanggul rudal itu di pundak kanan. Secara manual ia mencari sasaran dengan indera mata mengacu pada dua rangkaian sejenis indikator pembidik yang berada di bagian atas rudal. Bagian rudal berbentuk bundar berukuran kecil itu sekaligus menjadi penentu bahwa pesawat musuh sudah terkunci dengan baik atau siap tembak. "Jika lampu menyala, maka pesawat musuh sudah ter-lock 100 persen," ujarnya.

Dalam hal pertahanan udara, rudal satu unit seharga Rp1 miliar itu tidak sepenuhnya bisa bekerja sendiri. Rudal ini harus didukung oleh radar Smart Hunter. Perangkat itu terdiri atas pemancar radar, genset sebagai pembangkit listrik dan dua layar komputer pendeteksi. Layar satu berfungsi mendeteksi pesawat dan layar kedua sebagai fungsi transfer informasi kepada pembawa rudal. Prajurit Paskhas lainnya, Kopda Agus Riyanto, yang piawai mengoperasikan radar itu mengakui mampu mendeteksi pergerakan pesawat musuh pada ketinggian empat kilometer dan jarak 30 kilometer dari lokasi. Setelah mengetahui kecepatan pesawat, Agus merekomendasikan kepada penembak rudal atau dalam layar radar disebut dengan shooter.

"Saat pesawat musuh terdeteksi di ketinggian dan kecepatannya. Nanti saya langsung rekomendasi ke shooter yang terdekat melalui radio untuk menembak," ujar Agus sembari menunjukkan peralatannya.









Sumber : Bisnis
readmore »»  

TNI AU Siap Tambah Radar di Nunukan


Tarakan (MI) : Panglima Komando Operasi TNI AU 2, Marsekal Muda Barhim, mengatakan bahwa Angkatan Udara serius memperkuat pengawasan di kawasan Ambalat. Komitmen tersebut ditempuh TNI AU usai sembilan pesawat asing masuk ke wilayah Ambalat tanpa izin. Salah satu cara yang ditempuh TNI AU adalah menambah radar udara di Nunukan, Kalimantan Utara.

"Komando Pertahanan Udara Nasional punya radar baru yang siap dikirim dari Jakarta," kata Barhim kepada wartawan di Pangkalan Udara Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis, 11 Juni 2015.

Sayangnya Barhim masih merahasiakan jenis radar yang akan dipasang di Nunukan. Dia hanya mengatakan jika radar baru tersebut punya kemampuan seperti radar militer pada umumnya, yakni mampu mendeteksi pesawat sipil dan pesawat militer.

Angkatan Udara berharap tambahan radar tersebut mampu meningkatkan pengawasan di wilayah Ambalat yang masih menjadi sengketa antara Indonesia dan Malaysia. Saat ini TNI AU memiliki Satuan Radar 225 yang berada di Tarakan, Kalimantan Utara. Sebagai senjata andalan radar Plessy AR 325 Commander yang berdiri kokoh di bukit di Kecamatan Tarakan Timur. Radar tersebut mampu melihat sejauh 250 mil laut atau 400 kilometer dari Tarakan.

Walhasil satuan radar yang dikomandani Mayor Suwarma Hasal itu berhasil mendeteksi sembilan pesawat asing yang masuk wilayah Indonesia tanpa izin sejak Januari 2015. Mereka pun berhasil mengidentifikasi sembilan pesawat tersebut terdiri dari pesawat militer, pesawat sipil, hingga pesawat tanpa awak atau drone.

Satuan Radar 225 juga pernah mencatat sebuah pesawat yang terbang dari Labuan di Utara Sabah menuju Tawau, Malaysia, yang berjarak tak terlalu jauh. Namun sayangnya pesawat asing tersebut malah bablas menuju Ambalat sebelum mendarat ke Tawau. "Pesawat asing itu sempat berputar di Ambalat selama 30 menit sebelum mendarat ke Tawau," kata Suwarma.









Sumber : TEMPO
readmore »»  

Pesawat F-16 Skadron Udara 3, Laksanakan Operasi Perisai Sakti Di Tarakan

http://tni-au.mil.id/sites/default/files/imagecache/body/2015-06/2015-06-11-Iwj-perisai-sakti.jpg

Tarakan (MI) : Pastikan dan cek kembali peralatan pendukung yang akan dibawa, sehingga apa yang diperlukan dalam mendukung tugas operasi “Perisai Sakti” dapat berjalan dengan aman dan lancar, demikian penekanan Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Donny Ermawan T. M.D.S, pada briefing pagi, sebelum satu flight F-16 berangkat menuju Lanud Suharnoko Harbani di Tarakan Kalimantan Utara. Rabu (10/6).

Satu flight pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 3 Letkol Pnb M. Anjar Legowo, untuk melaksanakan operasi menjaga wilayah perbatasan di Tarakan Kalimantan Utara, dengan sandi Perisai Sakti, hingga tanggal 13 juni 2015.

Dalam melaksanakan misi operasi perisai sakti tersebut Komandan Lanud Iswahjudi berpesan agar melaksanakan misi operasi sesuai prosedur yang yang telah ditetapkan serta jaga keamanan individu selama pelaksanaan misi operasi.









Sumber : TNI AU
readmore »»  

Pindad Tandatangani Nota Kesepahaman dengan TNI AU



Bandung (MI) : PT Pindad (Persero) menandatangani Nota Kesepahaman dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) di bidang penelitian, pengembangan, dan pembuatan alat utama sistem senjata dan pendukungnya. Nota Kesepahaman ini ditandatangani oleh Direktur Utama PT Pindad (Persero) Silmy Karim dan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Agus Supriatna pada hari Selasa, 9 Juni 2015 di Markas Besar Angkatan Udara Cilangkap, Jakarta Timur.

Direktur Utama PT Pindad (Persero), Silmy Karim mengatakan bahwa Nota Kesepahaman dengan TNI AU ini merupakan peluang yang baik bagi Pindad untuk terus memaksimalkan kapasitas perusahaan sekaligus meningkatkan kualitas produk pertahanan dan keamanan yang diproduksi Pindad. “Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan peluang yang baik untuk Pindad untuk terus berkembang. Sebelumnya, Pindad sudah memulai untuk membuka jalur komunikasi dengan pengguna terkait proses penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan produk dengan spesifikasi dan kualitas yang sesuai dengan keinginan pengguna. Dengan adanya penandatanganan Nota Kesepahaman ini, proses ini akan berjalan semakin lancar,” tuturnya.

“Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara pun sempat mengunjungi Pindad dan menyatakan bahwa merekapun siap untuk memaksimalkan produk dalam negeri guna membangun kekuatan pertahanan nasional yang lebih real. Semoga penandatanganan Nota Kesepahaman ini akan menjadi simbol komitmen yang lebih baik untuk membangun kekuatan pertahanan tersebut,” lanjut Silmy.

Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan bahwa penandatanganan Nota Kesepahaman ini adalah langkah awal dalam mewujudkan kemandirian alutsista dalam negeri. “Dalam pembinaan kemampuan dan kekuatan TNI dalam mewujudkan kekuatan pokok minimum, Mabes TNI telah melakukan langkah-langkah strategis untuk mewujudkan kemandirian alutsista dengan bekerjasama dengan industri pertahanan nasional dan mengurangi ketergantungan kebutuhan alutsista pada negara lain. Untuk tujuan itulah, Nota Kesepahaman ini ditandatangani,” ujarnya. 

Kasau menambahkan, bahwa nota kesepahaman ini ditandatangani bukan hanya untuk memaksimalkan potensi industri dalam negeri tetapi juga untuk membangun kekuatan pertahanan Indonesia. “Konsep pengadaan alustsita, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan pokok minimum tetapi juga untuk membangun kekuatan TNI sebagai kekuatan yang disegani dengan tetap mengedepankan kemandirian industri pertahanan nasional,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, TNI AU juga menandatangani Nota Kesepahaman bersama dengan beberapa perusahaan nasional, baik BUMN maupun swasta yang bergerak di bidang pertahanan. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT LEN Industri (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero), PT Garda Persada, PT Eka Bina Sarana, PT Info Global Teknologi Semesta, PT Bina Sahabat Sejati, PT Indo Pacific Communication and Defence, PT Langit Biru Parasut, dan PT Sari Bahari.
Sumber : PINDAD
readmore »»  

DPR Sebut Perlunya Penguatan Pertahanan Udara dan Laut

DPR Sebut Perlunya Penguatan Pertahanan Udara dan Laut

Jakarta (MI) : Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq‎ mengatakan perlunya penguatan Tentara Nasional Indonesia di bidang Angkatan Udara dan Angkatan Udara. Hal tersebut disampaikannya usai melakukan rapat kerja bersama dengan Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

"Dilihat dari sisi prioritas, ada di laut dan udara. Yang masih banyak titik loophole itu di laut dan udara," ujar Mahfudz di Gedung DPR‎, Jakarta.
"Terkait kemampuan surveillance dan terkait dengan pasukan reaksi cepat untuk laut dan udara," ucapnya.

Lebih lanjut, Mahfudz pun mengaitkan prioritas tersebut dengan proses jelang pergantian Panglima TNI yang akan dilakukan setelah Jenderal Moeldoko pensiun pada 1 Agustus mendatang. Menurutnya, prioritas itu tidak akan berpengaruh banyak akan siapa yang nantinya akan menjadi TNI

"Seorang kepala staf di kepalanya bukan hanya berpikir sektoral angkatan yang dia urus. Tapi dia sudah berfikir trimatra terpadu," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera ini.

Oleh karena itu menurut Mahfudz, seorang Kepala Staf Angkatan Udara harus menguasai konsep pertahanan laut dan darat. Begitu juga kepala Staf Angkatan Laut yang juga harus menguasai konsep pertahanan darat dan udara.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriyatna mengatakan dirinya siap apabila dipercayakan untuk menjabat sebagai Panglima TNI oleh Presiden Joko Widodo. Memang, melihat urutannya, sudah giliran angkatan udara mengisi posisi panglima TNI.

Dalam Pasal 13 ayat 4 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, disebutkan panglima dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap-tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan.

Panglima TNI saat ini Jenderal Moeldoko berasal dari Angkatan Darat dipilih untuk menggantikan Laksamana Agus Suhartono yang berasal dari Angkatan Laut. Sebelum Agus Suhartono ada nama Marsekal Djoko Suyanto, perwira ‎Angkatan Udara yang menjabat jadi Panglima TNI. 








Sumber : CNN 
readmore »»  

TNI AU Kesulitan Menindak Pesawat Asing yang Langgar Perbatasan

Komandan Landasan Udara (Danlanud) Tarakan Letkol TNI AU Toipan Hutapea--MTVN/Aedy Azeza Ulfi

Tarakan (MI) : Komandan Landasan Udara (Danlanud) Tarakan Letkol TNI AU Toipan Hutapea mengatakan angkatan udara kesulitan menindak pesawat asing yang melanggar perbatasan. Karena itu, TNI AU khawatir adanya pesawat asing yang nantinya dapat memasuki dan merebut wilayah Ambalat.

"Kami khawatir Ambalat akan jadi yang ketiga direbut jika kita biarkan, dan kami memiliki hambatan untuk ini," ujar Toipan Hutapea, di Landasan Udara Tarakan, Kalimantan, Rabu (10/6/2015).


Kesulitannya, kata dia, karena tidak adanya pesawat tempur sergap yang dapat menghalau pesawat asing masuk ke wilayah udara Indonesia. "Kami tidak miliki pesawat tempur sergap. Negara tetangga tahu itu, karenanya mereka tak takut untuk melewati perbatasan," ujar dia.

Dia melanjutkan, tindakan yang sudah coba dilakukan TNI AU dengan membawa persoalan ini ke tingkat PBB. Toipan mengatakan pada tingkat internasional, Indonesia sudah memberikan peringatan sebanyak 27 kali.


"Sudah dua puluh tujuh kali disampaikan peringatan kepada mereka (pelanggar), namun sampai dengan saat ini tidak dihiraukan," tutur Toipan.

Komandan Landasan Udara (Danlanud) Tarakan Letkol TNI AU Toipan Hutapea sebelumnya mengatakan, Ambalat, Kalimantan Utara terancam direbut.


Hal ini dia ungkapkan melalui tanda-tanda pelanggaran di udara. Toipan menuturkan radar deteksi pesawat yang berlokasi di Tarakan, Kalimantan Utara, beberapa kali menangkap pesawat asing yang melewati wilayah perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. 








Sumber : Metrotvnews
readmore »»  

Tiga Unit F-16 TNI AU Patroli di Ambalat


Tarakan (MI) : Tiga unit pesawat tempur F-16 Fight TNI AU akan melakukan patroli udara di wilayah Ambalat, Kalimantan Utara, hari ini, Kamis, 11 Juni 2015. Tiga jet tempur F-16 tersebut sengaja didatangkan dari Skuadron 3, Pangkalan Udara Iswahyudi, Madiun, Jawa Tengah.


"Ketiga pesawat F-16 sudah tiba di Pangkalan Udara Tarakan sejak kemarin," kata Komandan Pangkalan Udara Tarakan, Letnan Kolonel Tiopan Hutapea kepada wartawan hari ini.



Patroli ketiga jet tempur buatan Amerika Serikat itu dipimpin langsung oleh Komandan Skuadron 3 Letnan Kolonel Anjar Legowo. Menurut Letkol Tiopan, patroli udara ini merupakan rangkaian kegiatan operasi Perisai Sakti 2015.



Operasi Perisai Sakti merupakan patroli gabungan Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang dilakukan sepanjang tahun 2015. Dalam operasi tersebut, secara bergantian Angkatan Udara dan Angkatan Laut akan mengirimkan sejumlah alat utama sistem persenjataannya khusus menjaga wilayah perairan sekitar Ambalat.

"Hari ini giliran F-16 TNI AU yang melakukan patroli," kata Tiopan. Sebelumnya sejumlah alutsista milik TNI AU terbang patroli di Ambalat, antara lain: Boeing 737 Surveilance, Sukhoi SU-27 dan SU-30, T-50i Golden Eagle, T-314 EMB Super Tucano, dan C-212 Casa.


Sesuai rencana, ketiga pesawat F-16 akan terbang di wilayah A-7 atau Selatan Ambalat yang seluas lebih dari 300 mil laut. Wilayah tersebut masih menjadi persoalan bagi Indonesia dan Malaysia. Sebab Malaysia sebagai negara yang bukan kepulauan masih menganggap perairan Ambalat milik mereka. Padahal wilayah tersebut merupakan kedaulatan Indonesia. Untuk memperkuat kedaulatan, Indonesia telah membangun satu menara suar di atas Karang Unarang perairan Ambalat.



"Patroli Perisai Sakti merupakan bentuk upaya TNI mempertahankan wilayah kedaulatan NKRI," kata Tiopan.



Selain operasi patroli F-16, Komando Pasukan Khusus TNI AD ikut serta meramaikan aktivitas di sekitar perbatasan Kalimantan dengan Malaysia. Sekitar 120 pasukan Kopassus melaksanakan latihan terjun malam di sekitar perbatasan. Latihan terjun malam dilaksanakan Rabu malam, 10 Juni 2015, dengan menumpang dua unit C-130 Hercules milik TNI AU.






Sumber : TEMPO
readmore »»  

Lanud Roesmin Nurjadin Siap Laksanakan Latihan Jalak Sakti 2015

http://tni-au.mil.id/sites/default/files/imagecache/body/2015-05/2015-05-26-rsn-jalaksakti.jpg

Pekanbaru (MI) : Panglima Komando Operasi Angkatan Udara (Pangkoopsau) I Marsda TNI A. Dwi Putranto membuka secara resmi Latihan Jalak Sakti Tahun 2015 di Makoopsau I yang disaksikan secara langsung Danlanud Roesmin Nurjadin Kolonel Pnb M. Khairil Lubis, Danskadron Udara 12 Letkol Pnb Jajang Setiawan selaku Dansurpur Hawk, Danskadron Udara 16 Letkol Pnb Firman Dwi Cahyo selaku Dansurpur F-16, Kadisops Letkol Pnb Reka Budiarsa selaku Dansurlan, serta para perwira yang terlibat pada latihan Jalak Sakti melalui teleconference di ruang Yudhistira Lanud Rsn, Senin (25/5).

Dalam sambutannya Pangkoopsau I menyampaikan bahwa latihan ini bertujuan untuk meningkatkan dan menguji kemampuan Kotama TNI AU dalam merencanakan, melaksanakan serta mengendalikan mekanisme kegiatan operasi udara secara tepat guna dan berhasil guna dalam rangka menghadapi kemungkinan kontijensi yang diperkirakan terjadi.

“Selain itu latihan ini juga dimaksudkan sebagai sarana untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan tempur personel dan satuan jajaran Koopsau I beserta pendukungnya”, lanjut Pangkoopsau I.
Sementara itu Danlanud Roesmin Nurjadin Kolonel Pnb M. Khairil Lubis menekankan kepada seluruh unsur Lanud yang terlibat dalam latihan ini untuk dapat mengerti serta memahami betul, hal apa yang harus dilaksanakan pada saat latihan berlangsung, sehingga sasaran latihan bisa dicapai secara optimal.







Sumber : TNI AU
readmore »»  

TNI AU Terima Empat Pesawat F-16 Hibah


JAKARTA (MI) : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) kembali menerima empat pesawat tempur hibah F- 16 C/D Blok 52 ID dari Amerika Serikat.

Keempat pesawat tersebut nantinya akan menambah alat utama sistem senjata (alutsista) pertahanan udara. Kepala Penerangan Lanud Iswahjudi Mayor Sus Wahyudi mengatakan, empat pesawat tersebut diterbangkan langsung dari Amerika Serikat menuju Indonesia.

Masing-masing pesawat dengan nomor seri TS 1631 yang diterbangkan oleh Mayor Thomas Arthur Juntunen, TS 1633 dipiloti oleh Mayor Brian Dauglas Perkins, sedangkan TS 1636 diterbangkan oleh Mayor Cabell David Francis, dan TS 1642 oleh Letkol Chad William Jennings.

”Rute penerbangan pesawat dari Hill AFB-Eilsen Alaska- Guam lanjut ke Lanud Iswahjudi dan parkir di Shelter Skuadron Udara 3,” ungkap Wahyudi melalui surat elektronik yang diterima KORAN SINDO kemarin.

Menurut Wahyudi, keempat pesawat tersebut mendarat di Lanud Iswahjudi, Jawa Timur, tepat pukul 12.12 WIB dan disambut langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Donny Ermawan T dan Komandan Wing 3 Kolonel PNB Irwan Pramuda bersama pejabat lanud Iswahjudi lainnya.

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama Dwi Badarmanto membenarkan kedatangan empat pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Keempat pesawat tersebut merupakan bagian dari pengadaan 24 pesawat tempur sejenis. ”Ya benar sudah datang di Lanud Iswahyudi, sebelumnya sudah datang lima, sekarang empat jadi sembilan pesawat total yang sudah diterima,” katanya.

Bila telah dinyatakan siap, keempat pesawat tersebut akan ditempatkan di Lanud Iswahyudi yang merupakan home base F-16 dan Lanud Pekanbaru.







Sumber  : TRIBUNNEWS
readmore »»  

Angkatan Udara Australia Jalin Kerjasama dengan TNI AU

Angkatan Udara Australia Jalin Kerjasama dengan TNI AU

SLEMAN (MI) : Delegasi Angkatan Udara Australia, Royal Australian Air Force (RAAF) yang dipimpin oleh Air Commander Royal Australian Air Force, Air Vice Marshal Gavin Tumbull, kunjungi Pangkalan TNI AU Adisutjipto, Yogyakarta, Senin (25/5/2015).

Tujuan RAAF datang ke Indonesia terkhusus di jajaran TNI AU adalah untuk menjalin persahabatan kedua negara dan kunjungan kerjasama dalam bidang perkembangan pendidikan penerbang militer.
Delegasi Angkatan Udara Australia tersebut berjumlah 7 orang, disambut langsung oleh Danlanud Adisutjipto Marsekal Pertama TNI Imran Baidirus.

Dalam kesempatan itu, Danlanud menjelaskan tugas-tugas pokok Lanud Adisutjipto.
Selain presentasi, pihak TNI AU juga memberikan kesempatan kepada delegasi dari RAAF untuk meninjau langsung ke spot yang menjadi tulang punggung penyelenggaraan Sekolah Penerbang Militer diantaranya Wingdikterbang dan Skadron Pendidikan.

“Kunjungan ini dapat menjadi sarana tukar menukar informasi yang berkaitan dengan Sekolah Penerbangan Militer kedua belah pihak baik TNI AU maupun Royal Australian Air Force” ujar Komandan Lanud Adisutjipto, Marsma TNI Imran Baidirus.

Dalam kunjungan tersebut, Komandan Wingdikterbang Kolonel Pnb Azhar Aditama, memaparkan di depan delegasi Angkatan Udara Australia tentang tahapah mencetak penerbang militer di pendidikan Sekbang di Lanud Adisutjipto. 
Sumber :  TRIBUNJOGJA
readmore »»  

Ramai-ramai Selfie di Depan Pesawat Sukhoi



Jayapura (MI)Terik sinar matahari siang itu tidak menyurutkan niat puluhan warga Sentani dan sekitarnya melihat dari dekat 4 pesawat Sukhoi Su-27 dan Su-30 yang sengaja diparkir di hanggar Pangkalan TNI AU di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Pesawat yang didatangkan langsung dari Pangkalan Udara TNI AU di Makassar, Sulawesi Selatan itu memang sengaja dipamerkan kepada warga Jayapura dan sekitarnya selama 7 hari. Pesawat yang datang sejak 11 Mei 2015 ini akan mengakhiri misinya pada Senin 18 Mei 2015. 


Lina, seorang warga Kota Jayapura mengaku sengaja ingin melihat dari dekat pesawat Sukhoi yang sedang parkir di Jayapura. Dia rela menempuh jarak 25 kilometer dari rumahnya di Hamadi, Kota Jayapura untuk foto-foto dan melihat langsung pesawat tempur tersebut.


"Ya, memang sudah niat dengan teman-teman untuk melihat Sukhoi dari dekat. Walaupun tidak hobi dengan kedirgantaraan, namun saya penasaran dengan pesawat tempur ini. Saya senang sekali, bisa melihat langsung pesawat yang selalu menjaga wilayah udara NKRI ini," kata Lina yang ditemui di Sentani, Sabtu (16/5/2015).



Tak hanya melihat dari dekat pesawat bersama dengan pilotnya, Lina dan beberapa temannya juga melakukan foto di areal parkir pesawat itu.

"Ya, narsis juga salah satunya di depan pesawat ini. Rugi kalau nggak narsis," ucapnya sambil tertawa bersama dengan teman-temannya. 

Tidak hanya Lina, segerombolan anak sekolah berseragam SMP juga melakukan hal yang sama. Mereka sengaja mendatangi hanggar Lanud Jayapura untuk melihat dari dekat dan foto narsis dan selfie di depan pesawat yang juga sering dijadikan pesawat latih bagi penerbang baru. 


"Saya senang bisa melihat dari dekat pesawat canggih ini. Saya memang mempunyai cita-cita jadi penerbang dan ini pengalaman yang menarik bagi saya, terutama bisa ngobrol langsung dengan pilot Sukhoi-nya," kata Mathius siang itu. 


Tidak hanya menjadi ajang pameran saat di parkiran hanggar Lanud Jayapura, 4 pesawat ini juga sempat atraksi manuver di langit Jayapura. Di antaranya di sekitar Kantor Gubernur Jayapura, Perkantoran Ruko Dok II dan juga di daerah Sentani, Kabupaten Jayapura. 


"Keren sekali. Saya sempat kaget tadi ini ada pesawat apa yang sampai di depan Kantor Gubernur Papua melakukan atraksi meliuk-liuk di udara. Biasanya tidak ada peswat yang melintas di depan kantor pemerintahan ini," kata Magdalena Itaar, seorang warga Jayapura.





Operasi Sukhoi di Papua



Pangkalan Udara Jayapura sejak 11 Mei mendatangkan 4 Sukhoi dari Pangkalan Udara TNI di Makassar, salah satunya untuk melakukan operasi Lintas Maleo Perbatasan RI-Papua Nugini dan juga perbatasan Indonesia dengan Australia. Operasi tersebut dilakukan hingga ke Kabupaten Merauke, salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Papua Nugini. 

"Setiap hari ada 2 survei dengan menerbangkan 2 pesawat Sukhoi. Selama operasi ini tidak ada hal yang menonjol, hanya ada beberapa hal yang kita harus capai, salah satunya masyarakat Papua merasa ada kehadiran dari pesawat Sukhoi ini yang akan melindungi mereka, sekaligus memberi tahu kepada masyarakat luas bahwa Indonesia memiliki pesawat tempur Sukhoi yang cukup canggih," kata Komandan  Pangkalan Udara Jayapura Kolonel PNB I Made Susila, Sabtu (16/5/2015)

Pangkalan Udara Jayapura mengaku sengaja memamerkan 4 pesawat ini kepada masyarakat di Papua. Pihaknya memberi kesempatan kepada masyarakat untuk melihat secara dekat pesawat ini, bahkan dapat berbicara langsung dengan penerbangnya.

"Kepada adik-adik yang tamat SMA, jika mereka ingin menjadi penerbang seperti apa, bisa langsung berkomunikasi dengan penerbangnya," jelas Made Susila.


Susila mengatakan, 4 pesawat tersebut merupakan pesawat Multi Bull, dapat dipergunakan untuk bomber, untuk air to air, atau air to ground. Kru pesawat Sukhoi yang berjumlah 68 orang orang, masing-masing ada 8 penerbang dan 60 ground kru.

"Kecepatan maksimal pesawat ini bisa mencapai 2 mach, namun untuk operasi di wilayah timur ini, kecepatan maksimal yang digunakan hampir 1 mach. Untuk terbang rendah, pesawat ini dapat mencapai ketinggian 500 feet, sementara ketinggian maksimal mencapai 65.000 feet," tutur Susila.

Tidak hanya itu, pesawat ini juga dilengkapi persenjataan yang berat dan kelincahan yang tinggi. Peluncuran Su-27 dan Su-30 Flanker didesain sebagai pesawat tempur berperforma tinggi dengan sebuah sistem kontrol fly-by-wiredan kemampuan untuk membawa sampai 10AAM. Pesawat Su-27 dan Su-30 Flanker mempunyai manuverabilitas hebat.









Sumber : Liputan6
readmore »»  

Yonko 461 Paskhas Berhasil Merebut Kembali Pangkalan Udara Lanud Wiriadinata.


Bandung (MI) : Batalyon Komando 461 Paskhas berhasil melaksanakan Operasi Perebutan dan Pengendalian Pangkalan Udara (OP3U) dengan sasaran Lanud Wiriadinata dimana merupakan wilayah yang sangat penting di kawasan Priangan Timur, Jawa Barat. Rabu (13/05). Setelah Sebelumnya Lanud Wiriadinata telah dikuasai oleh agressor dan Panglima TNI menaruh kepercayaan tinggi terhadap Yonko 461 Paskhas untuk mengemban misi merebut kembali Pangkalan Udara TNI AU Wiriadinata melalui sebuah operasi militer, yang ditugaskan kepada pasukan elit TNI AU Batalyon Komando 461 Paskhasau. 
Batalyon Komando 461 Paskhasau setelah mendapat perintah, langsung bergerak cepat melaksanakan OP3U. Dengan menggunakan pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 31 Halim Perdanakusuma, Batalyon Komando 461 Paskhasau menerjunkan satu tim Dalpur (Pengendali Tempur) untuk melaksanakan infiltrasi serta memberikan data intelijen menentukan dan menyiapkan serta mengamankan didaerah sekitar Dropping Zone (DZ) untuk penerjunan Batalyon Perebutan Pertahanan Pangkalan didaerah sasaran. 
Setelah Tim Dalpur menyatakan aman, dengan pergerakan cepat Tim Jumpmaster menerjunkan Batalyon Perebutan Pertahanan Pangkalan (Yonbuthanlan) menggunakan pesawat C-130 Hercules guna merebut dan mempertahankan kembali Pangkalan Udara yang telah dikuasai musuh. Batalyon Perebutan Pertahanan Pangkalan setelah diterjunkan menggunakan metode terjun static, langsung bergerak cepat menuju sasaran-sasaran yang dikuasai musuh. Aksi baku tembak antara pasukan Yonbuthanlan Paskhas dan pihak musuh tidak dapat dihindari ketika Pasukan Elit TNI AU tersebut berusaha merebut kembali wilayah Lanud Wiriadinata. Namun profesionalitas prajurit Paskhas TNI AU dalam berperang telah teruji, terbukti dengan mudah dapat melumpuhkan lawan dan mengambil alih Wilayah Lanud Wiririadinata. 
Tindakan Batalyon Komando 461 Paskhas kemudian menerjunkan Tim Dallan (Pengendali Pangkalan) melalui terjun statik menggunakan pesawat C-130 Hercules setelah dirilis oleh Tim Dalpur untuk bertugas mengoperasikan dan memfungsikan kembali Pangkalan Udara agar dapat mendukung operasi udara selanjutnya. 
Demikian sekelumit skenario latihan dari Batalyon Komando 461 Paskhasau Wing 1 Phaskhasau, yang akan disuguhkan dan dapat dilihat langsung oleh seluruh pengunjung dalam acara Tasikmalaya Airshow dan Expo 2015 pada tanggal 19-20 Mei 2015 mendatang. 
Komandan Lanud Wiriadinata Letnan Kolonel Pnb. Herdy Arief Budiyanto, S.E. dalam keterangannya mengatakan, kegiatan dari Pasukan Yonko 461 Paskhasau Wing 1 Phaskhasau, Jakarta pada acara Tasikmalaya Air Show & Expo 2015 mendatang, selain dapat dilihat sebagai hiburan bagi masyarakat Priangan Timur, diharapkannya juga dapat mengobarkan semangat anak-anak muda terutama di Priangan Timur untuk menjadi Prajurit TNI AU khususnya Pasukan Khas Angkatan Udara masa depan. “ Hal ini tidak berlebihan bila melihat dari sejarah pergantian nama Lanud Tasikmalaya menjadi Lanud Wiriadinata, berasal dari usulan Paguyuban Masyarakat Pasundan mengingat besarnya jasa Marsekal Muda TNI R.H.A Wiriadinata yang juga merupakan Bapak Pasukan TNI AU”. Tentunya dengan kehadiran Pasukan Yonko 461 Paskhasau Wing 1 Phaskhasau Jakarta, dalam kegiatan Tasikmalaya Airshow dan Expo 2015 nanti, bukan saja kehormatan bagi personel Lanud Wiriadinata, tetapi kebanggaan dari seluruh masyarakat Priangan Timur, Khususnya masyarakat Tasikmalaya. 
Lebih lanjut Komandan Lanud Wiriadinata Letnan Kolonel Pnb. Herdy Arief Budiyanto, S.E. menyampaikan, acara Tasikmalaya Air Show & Expo 2015 yang akan digelar pada tanggal 19-20 Mei 2015 mendatang akan dimeriahkan juga dengan berbagai acara seperti demo udara( aerobatic), terjun payung static oleh Pasukan Yonko 461 Paskhasau Wing 1 Phaskhasau, terjun free fall, statik show, pameran UKM, pameran batu akik, lomba foto kontes, lomba parade band, lomba mewarnai anak-anak, serta lomba interaktif dari peserta dan pengunjung pameran.“ kami juga akan memperkenalkan mengenai Bandara komersil yang sedang dirintis oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya, yang tentunya merupakan kebanggaan kita semua khususnya masyarakat priangan timur” jelas Komandan Lanud.







Sumber : TNI AU
readmore »»  

F-16 Fighting Falcon Selesai Laksanakan Misi Operasi


Magetan (MI) : Sebanyak 3 pesawat tempur jenis F-16 Fighting Falcon, landing dengan selamat di Lanud Iswahjudi kembali menuju home basenya di Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Rabu (13/5/15), setelah selama kurang lebih dua minggu melaksanakan misi operasi Hanud Tangkis Sergap di Lanud El Tari Kupang. 

Kepulangan tiga pesawat tempur F-16 Fighting Falcon ke Lanud Iswahjudi yang dipimpin langsung oleh Danskadron Udara 3 Letkol Pnb M. Anjar Legowo, selain untuk melaksanakan operasi Hanud Tangkis Sergap juga disiagakan untuk menjaga wilayah terluar perbatasan Republik Indonesia dengan Negara tetangga khususnya perbatasan dengan Timor Leste dan Australia. 

Turut hadir dalam menyambut kepulangan tiga pesawat tempur F-16 Fighting Falcon, Komandan Lanud Iswahjudi Marsma TNI Donny Ermawan T., M.D.S, Kadisops Lanud Iswahjudi, serta para pejabat Lanud Iswahjudi di Shelter Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi.

Selanjutnya ketiga pesawat F-16 Fighting Falcon yang baru saja tiba, akan menjalani perawatan sembari menunggu tugas-tugas operasi berikutnya dalam menjaga kedaulatan NKRI. 






Sumber : TNI AU
readmore »»  

Dokumen Australia Ungkap Rencana TNI AU Gunakan Bom Napalm untuk Bakar Warga Timtim


Foto: Sydney Morning Herald

Sidney (MI) : Seorang peneliti di Australia membeber sebuah dokumen rahasia tahun 1983 yang berisi aksi militer Indonesia menggunakan bom napalm untuk membakar rakyat Timor Timur (Timtim). Aksi militer Indonesia menggunakan bom napalm itu juga diketahui oleh pemerintah Australia dan Amerika Serikat.
 
Adalah Clinton Fernandes, peneliti sekaligus lektor kepala di Akademi Angkatan Bersenjata Australia yang telah menemukan sebuah dokumen rahasia milik diplomat asal Negeri Kanguru itu. Dokumen dengan tanggal 3 Oktober 1983 berklasifikasi rahasia itu ditemukan di Arsip Nasional Australia.


Penemuan itu menjadi sebuah terobosan bagi Profesor Fernandes dalam penelitian panjangnya tentang hal-hal yang diketahui Australia terkait kejahatan perang yang dilakukan Indonesia di negara bekas jajahan Portugis itu. Dokumen terbaru itu seolah mengulangi pertanyaan atas bantahan Indonesia tentang penggunaan senjata terlarang selama 24 menduduki menduduki Timor Timur.




Salah satu dokumen yang ditemukan Dr Fernandes adalah surat dari konsulat Australia di Bali, Malcolm Mann kepada penasihat Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Dennis Richardson pada 26 September 1983. Isi dokumen itu adalah laporan dari hasil pembicaraan Malcolm dengan konsulat AS di Surabaya kala itu, Jay McNaughton.


Seperti dituturkan Malcolm dalam suratnya ke Richardson kala itu, McNaughton mengaku pernah melihat laporan intelijen yang menyebut tentara TNI Angkatan Udara memasang tangki napalm pada pesawat tempur F5 untuk digunakan di wilayah Indonesia. Tiga tahun sebelumnya, Indonesia memang mendapatkan selusin pesawat tempur buatan Northrop itu dari AS.


Menurut McNaughton, kala itu ada ahli dari AS yang dimintai tolong untuk memasang tangki-tangki napalm. Sebab, TNI AU kesulitan memasang tangki-tangki untuk napalm itu  pada pesawat tempur F5.

Selanjutnya, Richardson meminta Kedutaan AS di Jakarta untuk mengonfirmasi apakah Indonesia memang telah meminta bantuan untuk memasang tangki napalm di F5. Ternyata, Richardson diberitahu bahwa ada kontraktor AS telah digaet oleh Indonesia karena tangki-tangki napalm dibuat di Italia dan diperlukan modifikasi untuk bisa dipasang di F5.

 

Surat Konsulat Australia di Bali ke Kedubes Australia di Jakarta. Foto: Sydney Morning Herald

Pada awal November 1983, Richardson lantas meneruskan laporannya itu ke Kementerian Luar Nageri Australia di Canberra. Ia menambahkan dalam catatannya bahwa bantuan teknisi AS sangat erat kaitannya dengan operasi militer Indonesia di Timor Timur.

Seiring munculnya penolakan dari dunia Internasioal atas penggunaan bom napalm di Perang Vietnam, penggunaan senjata pembakar terhadap warga sipil dilarang berdasarkan konvensi PBB tahun 1980. Konvensi itu melarang senjata konvensional yang menimbulkan efek bahaya luar biasa dan menimbulkan dampak tanpa padang bulu. Hanya saja, kala itu Indonesia memang tidak ikut menandatangani Konvensi PBB itu.

Berdasarkan peneluruan Dr Fernandes atas dokumen-dokumen Kementerian Luar Negeri Australia, kala itu Kedubes Australid di Jakarta memang tidak bertindak untuk memprotes Indonesia. Bahkan pemerintahan Australia yang kala itu dipimpin Perdana Menteri Bob Hawke juga tak bereaksi karena justru sangat ingin memperbaiki hubungan dengan Indonesia demi memuluskan negosiasi soal cadangan minyak dan gas di Laut Timor.

Tuduhan awal bahwa Indonesia menggunakan bom pembakar terhadap warga sipil Timor Timur itu muncul pada tahun 2006, sebagaimana terungkap dalam laporan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). Saksi yang dikutip dalam laporan KKR, Lucas da Costa Xavier menuturkan, pepohonan dan rerumputan terbakar begitu terkena bom yang dijatuhkan pesawat TNI AU.

“Banyak warga sipil meninggal karena meminum air yang terkontaminasi pecahan bom yang dijatuhkan dari pesawat, dan banyak lainnya tewas terbakar. Kala itu musim panas, sehingga rumput mudah terbakar,” kenangnya.

Namun, Menteri Pertahanan RI kala itu, Juwono Sudarsono membantahnya dengan menyebut serangan itu “tak pernah terjadi”. “Bagaimana bisa kami menggunakan napalm melawan warga Timor Timur? Waktu itu kami tidak punya kemampuan untuk mengimpor, apalagi membuat napalm sendiri,” kata Juwono.
 

Clinton Fernandes. Foto: The Age
Bantahan itu juga tak menghentikan Fernandes untuk mendalami kekejaman Indonesia di negeri yang kini bernama Timor Leste itu. Ia menyebut dokumen Kementerian Luar Negei Australia yang baru itu itu sangat signifikan karena menjadi bukti kuat pertama. Sebab, penggunaan bom napalm itu terungkap dari catatan resmi, dan bukan dari kesaksian warga yang selamat.

Fernandes menambahkan, kala itu pemerintahan Partai Buruh yang dipimpin Bob Hawke baru saja berkuasa dan tahu betul bahwa militer Indonesia melakukan tidak kejahatan terhadap kemansian. “Termasuk membakar orang-orang hidup-hidup dengan napalm, tapi mereka (pemerintahan Bob Hawke, red) tidak bicara dan melakukan apapun,” kata Fernandes.

Australia pun sadar dokumen rahasia itu akan mengungkap info intelijen yang sensitif dan berpotensi merusak hubungan dengan Indonesia. Karenanya, Jaksa Agung Australia telah mengetatkan informasi yang sensitif.
Namun, Fernandes tak ciut nyali. “Pemerintahan saat ini seharusnya membuka semua dokumen yang relevan sehingga kebenaran penuh akan muncul,” katanya.








Sumber : JPNN
readmore »»  

Paskhas Laksanakan Uji Penembakan Senjata PSU Oerlikon Skyshield

http://tni-au.mil.id/sites/default/files/imagecache/body/2015-05/2015-05-07-psu1.jpg

Lumajang (MI) : Komandan Detasemen Hanud (Denhanud) 472 Paskhas, Letkol Pas Iwan Setiawan, S.T. sebagai RSO (Range Safety Officer) melaksanakan paparan keamanan area dalam pelaksanaan Uji Terima Senjata PSU Oerlikon Skyshield, kepada Komandan Korps Pasukan Khas TNI AU Marsma TNI Drs. Adrian Wattimena, M.B.A. bertempat di Pandanwangi, Lumajang Jawa Timur, belum lama ini.
Dalam paparan tersebut dihadiri para pejabat Kemhan, Mabesau, para Asisten Korpaskhas, Depohar 60, para Danwing Paskhas, Danpusdiklat Paskhas dan para jajaran Dandenhanud Paskhas, pihak mitra PT. Adhityatama Perkasa Putra serta pihak Produsen Rheinmetall Air Deffence Swiss.

“Pengujian senjata ini menjadi bukti untuk menyakinkan kepada Tim Penguji bahwa Detasemen Hanud Paskhas profesional dalam bekerja sekaligus mampu menguasai dan mengoperasikan senjata tersebut dengan baik”, jelas Komandan Denhanud 472 Paskhas, Letkol Pas Iwan Setiawan, S.T.
Setelah paparan, tim dari Rheinmetall Air Deffence Swiss didampingi para personel Denhanud Paskhas melaksanakan kegiatan uji penembakan senjata di daerah Pandanwangi Pesisir Pantai Lumajang Jawa Timur dengan menggunakan Oerlikon Skyshield.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk uji dinamis dengan menggunakan Target Drone Jet dengan profile Head On dapat dideteksi oleh Sensor Unit/Radar dan dapat dihancurkan dengan meriam Oerlikon Skyshield dan uji statis melaksanakan Tracking oleh sensor unit/Radar dengan sasaran berupa Target Drone Jet yang menggunakan meriam Oerlikon Skyshield dan Rudal Chiron buatan Korea Selatan.
Pada hari berikutnya, personel Denhanud Paskhas melaksanakan uji coba penembakan senjata  Oerlikon Skyshield mulai dari mulai penyiapan amunisi, loading, penentuan Fiktif Point di dalam Command Post serta sistem penembakan mulai dari single, rapid dan burst sampai prosedur penembakan, yang dilaksanakan personel Denhanud Paskhas dan diawasi oleh pihak Rheinmetall Air Deffence Swiss.

Komandan Denhanud 472 Paskhas juga menambahkan, “Keberhasilan dalam kegiatan Uji Terima senjata PSU Oerlikon Skyshield tersebut menjadi batu loncatan Detasemen Hanud Paskhas dalam mengemban tugas kedepannya sesuai dengan tugas pokok Detasemen Hanud Paskhas yakni melaksanakan operasi pertahanan udara sebagai bagian sistem pertahanan udara nasional dan operasi militer lain atas kebijakan Panglima TNI.










Sumber : TNI AU
readmore »»  

TNI AU: Hasil Investigasi F-16 Terbakar Keluar Bulan Depan

TNI AU Hasil Investigasi F 16 Terbakar Keluar Bulan Depan

DEPOK (MI) : TNI Angkatan Udara (AU) masih menyelidiki penyebab peristiwa terbakarnya pesawat F-16 dengan nomor TS-1643 milik TNI AU. Pesawat hibah Amerika Serikat yang diterbangkan pilot Letkol Penerbang Firman itu terbakar di Landasan Udara Halim pada April lalu.

Pangkoopsau I Mabes TNI AU Marsda Agus Dwi Putranto mengatakan, hasil investigasi masih menunggu kerja tim khusus. Rencananya dalam waktu dekat, pihaknya akan mengumumkan hal tersebut.

"Masih menunggu, mudah-mudahan tak lama satu bulan ke depan. Masih dalam lidik, sudah ada timnya kalau saya mendahului kan enggak boleh," tegasnya saat membuka kegiatan TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) di Cilodong, Depok, Kamis (7/5/2015).

Pihaknya menjelaskan, pesawat tersebut kini dalam kondisi rusak akibat bahan bakar yang dibawa pesawat menyebabkan percikan api hingga pesawat terbakar. Kata dia, bahan bakar pesawat selama ini terdapat di sayap ataupun di bawah badan pesawat.

"Karena pesawat itu kan kalau mau latihan bawa bahan bakar, ada yang di sayap, ada yang di bawah body. Karena pesawatnya mengalami masalah, nah bahan bakarnya ini menggores ke landasan, ada percikan api hingga terbakar," ungkapnya.

Namun hal itu tidak menghentikan proses pengiriman hibah pesawat F16 dari Amerika Serikat. Agus menjelaskan proses penandatanganan hibah sudah dilakukan jauh sebelum F16 terbakar hingga dikirimkan sebanyak 24 pesawat.

"Berlanjut tetap lima yang datang juga kan bagian dari 24 yang rencana datang, Juni datang lima lagi. Dari yang lalu sudah diteken 24 unit. Ini terus bertahap tiap 3-6 bulan akan datang lagi," jelasnya.










Sumber : Sindonews
readmore »»