Produksi 700 Juta Butir Peluru, Pindad Butuh Banyak Modal

BANDUNG (MI) : PT Pindad (Persero) benar-benar butuh tambahan modal dalam jumlah yang tidak sedikit untuk mengembangkan bisnis pertahanan dan non-alutsista. Dalam 5 tahun ke depan diperkirakan kebutuhan modal untuk itu mencapai Rp 4,9 triliun.

Direktur Utama Pindad Silmy Karim mengatakan, pada tahun ini BUMN initelah mendapatakan suntikan modal dari APBN sebesar Rp 700 miliar dalam bentuk Penyertaan Modal Negara (PMN). Adapun PMN untuk tahun 2016, kata Silmy, hanya direstui oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp 707 miliar. Padahal, PMN yang diusulkan sebesar Rp 1,7 triliun.

“Total kebutuhannya untuk pengembangan alutsista dan non-alutsista sebesar Rp 4,9 triliun, dalam lima tahun,” ucap Silmy, Bandung, Sabtu (27/6/2015).

Silmy berharap sisa PMN yang sebesar Rp 3,6 triliun bisa dikucurkan dalam tiga tahun ke depan, yakni tahun anggaran 2017, 2018, dan 2019. Akan tetapi, perseroan juga mengantisipasi jika usulan PMN tersebut tidak seluruhnya dipenuhi seperti usulan untuk tahun anggaran 2016.

Silmy menuturkan, Pindad masih mengkaji kemungkinan obligasi yang akan dilakukan setelah lima tahun mendatang. “Kenapa saya tidak masuk bonds dulu, karena sekarang ada komitmen dari pemerintah dalam bentuk PMN,” imbuh Silmy.

Salah satu alutsista yang butuh banyak modal adalah amunisi (peluru). Silmy menyebut, ke depan kebutuhan peluru ditaksir mencapai 700 juta butir, tiga kali lipat lebih besar dari yang bisa diproduksi Pindad saat ini yang sebanyak 200 juta butir.

“Kenapa 700 juta butir? Tentara kita ada 450.000. Untuk latihan satu tahun perlu 1.500, dikalikan jadi 700 juta. Itu belum pasukan khusus yang bisa 30.000,” jelas Silmy.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pindad pelu meningkatkan kapasitas produksinya dari satu shift menjadi tiga shift, di samping modernisasi alat-alat produksi. Silmy mengatakan, saat ini Pindad masih mengoperasikan mesin yang dibuat sejak zaman kolonial.

“Peralatan kita masih ada yang tahun 1930, zaman Belanda. Itu membuktikan Pindad bisa merawat sesepuh. Kalau tahun depan masih bekerja, siap-siap kuwalat,” seloroh Silmy.
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : KOMPAS
readmore »»  

Prajurit Yonif 521/DY amankan perbatasan Indonesia-Malaysia

Prajurit Yonif 521/DY amankan perbatasan Indonesia-Malaysia

Nunukan (MI) : Prajurit TNI AD dari Batalyon Infantri 521/Dadaha Yudha (Yonif 521/DY) Komando Daerah Militer (Kodam) V Brawijaya, Jawa Timur, mengamankan wilayah perbatasan menempati 19 pos yang berada di antara Republik Indonesia dan Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Sebanyak 19 pos perbatasan tersebut berada sepanjang perbatasan dari Pulau Sebatik hingga Kecamatan Sebuku, yang berbatasan dengan Negeri Sabah, Malaysia, kemudian dari Kecamatan Lumbis Ogong hingga Kecamatan Krayan Selatan yang berbatasan dengan Negeri Sarawak, Malaysia.

Komandan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonif 521/DY Letkol Inf Slamet Winarto saat tiba di Kabupaten Nunukan, Sabtu (20/6) sekitar pukul 14.00 Wita, menyatakan bahwa tugas dan tanggungjawab yang akan diemban sama dengan Batalion Infantri Lintas Udara Koamdo Cadangan Strategis TN AD (Yonif Linud Kostrad) 433/Julu Siri yang akan digantikannya.

Hanya saja, lanjut dia, wilayah penugasannya lebih luas dan panjang karena pengamanan perbatasan sebelumnya hanya dari Pulau Sebatik hingga Kecamatan Sebuku dengan menempati 15 pos perbatasan.

Ia mengungkapkan, misi utama yang akan dilakukan pertama adalah melanjutkan apa yang telah dilaksanakan prajurit Yonif Linud Kostrad 433/Julu Siri sekaligus menata internal prajuritnya selama bulan suci Ramadhan 1436 Hijriyah.

"Misi kami yang pertama adalah melanjutkan apa yang telah dilakukan batalion sebelumnya sambil menata kondisi prajurit selama bulan puasa ini," sebut Slamet Winarto.

Slamet Winarto juga menambahkan, bertambahnya pos perbatasan yang akan dijaga membuat jangkauan wilayahnya lebih luas, karena ada 4.000 patok perbatasan RI-Malaysia harus diamankan, sedangkan sebelumnya hanya menjaga 1.971 patok perbatasan.







Sumber : ANTARA
readmore »»  

Usai di Perbatasan, Yonif Linud 433/Julu Siri Berangkat ke Sudan

Usai di Perbatasan, Yonif Linud 433/Julu Siri Berangkat ke Sudan

NUNUKAN (MI) : Yonif Linud 433/Julu Siri Kostrad Makassar di bawah pimpinan Letkol (Inf) Agustatius Sitepu melakukan serah terima tugas pengamanan perbatasan Republik Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan kepada Yonif 521/ Dadaha Yudha dibawah pimpinan Letkol (Inf) Slamet Gunarso.

Acara ini digelar Minggu (21/6/2015) malam di Mako Satgas Pamtas RI-Malaysia Jalan Fatahillah, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Agustatius mengatakan, usai melaksanakan tugas menjaga perbatasan, pihaknya Senin (22/6/2015) bertolak kembali ke Makassar.
“Kita akan mempersiapkan diri berangkat menjadi pasukan penjaga perdamaian di Sudan, Afrika,” ujarnya.

Selama 10 bulan bertugas menjaga perbatasan, Yonif Linud 433/Julu Siri Kostrad Makassar telah menorehkan sejumlah prestasi. Keberadaan pasukan ini sangat ditakuti para pelaku penyelundupan terutama minuman keras, sabu-sabu dan TKI illegal. Pasalnya, pasukan ini tak mengenal kompromi terhadap pelaku kejahatan.
Selama bertugas di Kabupaten Nunukan, tercatat sebanyak kurang lebih 13.000 botol minuman keras telah ditangkap dalam 53 kali operasi.

Selain itu 1,3 kilogram sabu-sabu dengan 20 pelaku ditangkap dari 18 kali operasi. Sebanyak 8 pucuk senapan laras panjang dan 2 pucuk pistol rakitan juga berhasil diamankan.
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal tak luput dari pantauan Yonif Linud 433/Julu Siri Kostrad Makassar selain tugas utamanya melakukan pengawasan 1.987 patok perbatasan.
Agustatius menjelaskan, dari sisi teritorial pihaknya juga memiliki andil yang signifikan.
“Dari sisi pendidikan kami menugaskan 30 prajurit sebagai guru bagi anak-anak sekolah yang tersebar di 10 sekolah di Nunukan,” ujarnya.
Anggota TNI Angkatan Darat ikut terlibat menjadi tenaga bantuan medis bagi pustu dan posko kesehatan.

Pihaknya berupaya berbaur dengan masyarakat melalui ajang pertandingan olahraga seperti bola voli dan tenis yang selalu diiringi dengan menularkan wawasan kebangsaan bagi masyarakat.
Tak cukup di tingkat lokal, di tingkat internasional, pihaknya ikut mengantar Pramuka Nunukan menjadi juara umum di Tawau, Malaysia.

''Kami bersyukur keberadaan kami bisa mengantar mereka sampai ke sana, menjadi motivasi dan penyemangat bagi pelajar,'' katanya.
Bertugas di Kabupaten Nunukan memberikan kesan yang baik bagi Agustatius dan anak buahnya. Daerah ini sudah dianggap sebagai rumah, karena respon positif dari pemerintah setempat dan masyarakatnya.

Bagi mereka, bertugas menjadi penjaga perbatasan merupakan energi untuk menjadi tentara tangguh, menjadi pelopor barisan terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun disadari, dalam melaksanakan tugas-tugas di perbatasan tak semuanya bisa berjalan dengan mulus. Tugas sebagai tentara mengharuskan mereka memiliki fisik prima saat menempuh medan berat saat berpatroli. Risiko dipatok ular hingga kematian menjadi sahabat saat bertugas.
''Karena medan berat, ada anggota sakit, terlambat ditangani sampai meninggal di Seliku kemarin,'' katanya.

Duka yang dialami ini sepenuhnya dianggap sebagai ujian. Kedaulatan negara yang dipikul dipundaknya dirasakan lebih berat dari sekedar duka atas kehilangan salah satu prajurit terbaiknya.
Sitepu berpesan, pengganti pasukannya akan lebih baik dari mereka dengan terus menjaga keakraban sesama organisasi, pemda, seluruh lapisan masyarakat dan wartawan.

'Mereka merupakan mitra, menjadi kepanjangan tangan kami, terutama wartawan dari mereka sumber informasi bisa didapat dan dipelajari,'' ujarnya.







Sumber : TRIBUNKALTIM


readmore »»  

Deretan pembelian Alutsista TNI yang bikin dunia cemas

Deretan pembelian Alutsista TNI yang bikin dunia cemas

Jakarta (MI) : Setelah ekonomi pulih dari krisis yang mendera sejak 1997, Indonesia kembali gencar memperkuat pertahanan dalam negerinya. Pembelian besar-besaran segera dilakukan, tujuannya adalah untuk mengganti peralatan tempur maupun mesin perang yang sudah usang dengan yang baru.

Sayang, upaya ini sempat terhambat akibat kebijakan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya yang mengembargo pembelian senjata terhadap Indonesia. Meski begitu, Indonesia tetap berupaya melakukan pembelian, salah satunya dengan Rusia demi mendatangkan Sukhoi Su-27.

Berakhirnya embargo senjata membuat Indonesia lebih gencar mencari alutsista baru dari berbagai negara. Mulai dari kapal perang, kendaraan angkut personel hingga tank masuk ke dalam daftar belanja Indonesia.

Rencana-rencana pembelian ini rupanya tak hanya jadi sorotan di Indonesia, tapi juga dunia. Banyak media maupun situs pertahanan internasional memberitakan upaya TNI untuk mengganti alutsista lama dengan yang baru.

Berikut beberapa pembelian alutsista TNI yang jadi perhatian dunia :


1.
Sukhoi Su-35
Deretan pembelian Alutsista TNI yang bikin dunia cemas 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) akan memperbarui armada tempurnya dengan membeli pesawat Sukhoi Su-35 Flanker. Pembelian ini dilakukan untuk mengganti pesawat F-5 Tiger buatan Amerika Serikat yang sudah semakin uzur.

Rencana pembelian Su-35 oleh TNI AU ternyata menjadi sorotan dunia. Sejumlah situs persenjataan dunia ikut menyoroti soal pembelian jet tempur canggih ini. Terbukti pembangunan alutsista TNI cukup dipantau dunia.

Situs airforce-technology.com dan defenseworld.net, laman yang membahas khusus kekuatan tempur udara ini merilis niat Indonesia membeli peralatan canggih buatan Rusia itu.

Dengan mengutip pernyataan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau), Agus Supriatna, pesawat Su-35 masuk ke dalam daftar pembelian yang dilakukan mulai tahun ini. Selain Su-35, Indonesia juga mengincar F-16 Block 52+ Fighting Falcon, Eurofighter Typhoon, dan Swedish JAS 39 Gripen fighters.

Menurut Agus, Su-35 masuk dalam daftar incaran karena dapat memenuhi kebutuhan alutsista TNI Angkatan Udara, dan lebih mudah dioperasikan. "Semua bisa dipesan, tapi kami sebagai operator ingin empat pesawat baru," ujarnya.

Keinginan tersebut mendapat tanggapan positif dari Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin. Dia berharap agar pembelian pesawat ini bisa terealisasikan.

"Kerja sama militer antara kedua negara telah terbangun beberapa waktu lalu, dan kami ingin meningkatkannya lagi," kata Mikhail.

Meski begitu, Indonesia masih belum memutuskan jenis pesawat tempur untuk menggantikan F-5 E Tigers buatan Northrop Grumman. Saat ini, TNI AU masih mengoperasikan 11 F-5E/F yang bermarkas di Skadron 14 Lanud Iswahyudi.

Sukhoi Su-35 merupakan model terbaru dari Su-27M Flanker, di mana terdapat peningkatan terhadap kemampuan superioritas tempur udara, dan didesain agar bisa menembak berbagai target dengan menggunakan peluru kendali maupun non-kendali.


2.
Helikopter anti-kapal selam



Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) segera memperkuat pertahanan perairan dengan mendatangkan helikopter anti-kapal selam. Sebanyak 11 unit heli canggih ini akan dibeli dari perusahaan penerbangan Eropa, Airbus.

Rencana pembelian ini rupanya mulai menjadi perhatian internasional. Sejumlah media menganggap pembelian ini dapat meningkatkan kemampuan militer Indonesia dari ancaman bawah laut.

"Skuadron penerbangan, bernama Skuadron Udara 100, akan dibangun untuk memberi dukungan operasional terhadap armada baru 11 heli anti-kapal selam berupa AS-565 MBe Panther," demikian ditulis thediplomat, Minggu (21/6).

Tidak ada tanggal yang pasti skuadron ini akan mulai beroperasi. Namun, sesuai keterangan dari sejumlah pihak di TNI AL, media ini memperkirakan skuadron akan dimulai saat Panther pertama diterima. Sehingga, unit ini akan terbentuk awal tahun depan.

"Panther ini telah menjadi satu dari platform anti-kapal selam ringan/menengah terbaik di dunia, di mana terdapat sistem ASW terkini serta kemampuannya untuk dioperasikan dari kapal korvet maupun frigat kecil," sahut Kepala Regional Asia Tenggara dan Pasifik, Philippe Monteux di Airbus.

Diperkirakan, heli canggih ini akan diterima secara keseluruhan pada akhir 2017 mendatang. Skadron yang ditugasi untuk mengoperasikannya akan ditempatkan di Lanud Juanda, Surabaya.

Helikopter ini akan dioperasikan untuk kapal korvet SIGMA 10514 dan korver kelas Bung Tomo. Sebagai perlengkapannya, heli AS-565 Panther akan dipasangi torpedo ASW Raytheon Mk 46 atau Whitehead A.244/S lightweight, dan termasuk sonar DS-100 helicopter long-range active sonar (HELRAS).

DS-100 merupakan jenis sonar versi 1.38 kHz dari AQS-18A yang lebih populer. Alat ini mampu mendeteksi benda hingga kedalaman 500 menter untuk pemantauan dan pencarian bawah laut. Dengan resolusi proses dopler dan denyut yang panjang, bisa mendeteksi kapal selam meski melaju dengan kecepatan sangat rendah.

Bersama L-3, DS-100 bisa dipakai untuk mendeteksi, menetapkan target dan meluncurkan senjata terhadap target kapal selam di kedalaman atau perairan dangkal.


3.
Tank Leopard



Deretan pembelian Alutsista TNI yang bikin dunia cemas 

Bila alutsista baru bagi TNI AU dan TNI AL masih dalam proses pemesanan dan pembuatan, TNI Angkatan Darat sudah lebih mendapatkan mesin perang baru. Mesin perang yang dimaksud adalah Tank Leopard 2 buatan Rheimentall, Jerman.

Leopard 2 merupakan tank jenis Main Battle Tank (MBT) dengan kemampuan tembak yang cukup mumpuni, beratnya pun mencapai 62 ton dengan jarak tembak 4 km. Tank ini dioperasikan oleh Batalyon Kavaleri 8/2 Narasinga Wiratama di Pasuruan.

Sebelum tiba di Indonesia, rencana pembelian Tank Leopard ini sempat menjadi pusat perhatian dunia, maupun negara tetangga. Beberapa media, khususnya situs militer, memuat berita soal Leopard yang bakal memperkuat pertahanan RI.

Malaysiandefence.com misalnya, memuatnya dengan berjudul 'Indonesia getting Hercules planes and Leopard MBTs too'. Tulisannya menyadur situs berita Asiaone, di mana Indonesia mendapatkan menerima Leopard, ditambah Tank Marder.

Sementara, defenseindustrydaily.com dalam tulisannya berjudul 'Indonesia Becomes the Latest Buyer of German Tanks' lebih menitikberatkan pembelian tank tersebut. Situs ini juga menyebut Indonesia merupakan pengguna tank terbesar, di atas Singapura.

4.
SPR-2 Kopassus
 Deretan pembelian Alutsista TNI yang bikin dunia cemas

 PTPindad mampu membuat senapan sniper SPR 2 yang membuat dunia militer internasional kaget. Pasalnya, senapan ini mampu menjangkau target dengan jitu dalam jarak lebih dari 2 km.

"Kita sedang bikin 150 pucuk (senapan SPR 2) buat Kopassus, dunia sniper internasional sudah gempar. Senapan SPR 2 ini jangkauannya sampai 2 km," kata kadep komunikasi Pindad Sena Maulana di JIExpo Kemayoran Jakarta, Rabu (5/11).

Menurutnya jenis peluru senjata sniper SPR 2 ditakuti banyak negara. Peluru ini mampu menembus kendaraan lapis baja sekalipun.

"Pelurunya 12,7 mm anti material, jenis pelurunya paling ditakuti karena bisa menembus tank dan kendaraan lapis baja. Peluru ini dapat menembus baja lalu terbakar dan meledak di dalam," terang dia.

Masih menurutnya, senapan sniper SPR 2 ini berawal dari sniper SPR 2 milik TNI yang tak berani diuji coba. Kemudian Pindad berusaha menguji dan akhirnya membuat sendiri.

"Tahun 2003, TNI punya 3 pucuk dari negara lain tapi enggak berani uji karena berat dan besar. Akhirnya kita uji bareng-bareng lalu kita buat sendiri tahun 2006, itu awalnya," pungkas dia.








Sumber : Merdeka

readmore »»  

Tiba di Martapura, Jokowi Berseragam TNI



MARTAPURA (MI)Presiden RI Joko Widodo tiba bersama rombongan di titik pantau Pusat Latihan Tempur Kodiklat Martapura, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, Selasa (16/6/2015) sekitar pukul 10.36. Jokowi dan rombongan tiba dengan menggunakan mobil.


Kedatangannya lebih lama dari jadwal sebelumnya, yaitu pukul 09.30. Saat tiba, Jokowi tiba di Puslatpur, Jokowi mengenakan seragam TNI lengkap. Dia didampingi oleh sejumlah petinggi TNI.



Rencananya, hari ini, Jokowi akan menyaksikan demonstrasi latihan tempur TNI Angkatan Darat.

Sebelumnya diberitakan, latihan demonstrasi tempur melibatkan ribuan prajurit dan alat utama sistem senjata (Alutsista) yang digunakan dalam pelatihan.



Beberapa alutsista dikerahkan dalam mendukung latihan tersebut, seperti kendaraan tempur (Ranpur) berupa Tank Scorpion, Tank AMX 13, Tank Marder, Stormer, M113A1, Tank Jembatan Scorpion, AVLB dan Tank Leopard ditambah dengan Panser Anoa dan Panser Tarantula.



Selain itu dikerahkan juga puluhan unit pesawat udara dari penerbangan AD, seperti heli bolkow 105, 14 heli bell, 2 heli M1-17, 4 unit M135, dan 1 unit Cassa 212.



Latihan yang digelar TNI AD kali ini mengangkat tema "Brigade Tim Pertempuran (BTP) melaksanakan demonstrasi taktik pertempuran guna meningkatkan profesionalime prajurit dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI".







Sumber : KOMPAS
readmore »»  

Soal Imigran, Menhan Minta Australia Bertanggung Jawab


Jakarta (MI) : Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu ingin agar Australia bicara dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia untuk berdiskusi memecahkan masalah imigran.

Sebab menurut dia, negara-negara ASEAN sudah banyak memberikan bantuan untuk imigran, padahal tidak masuk dalam negara yang menandatangani ratifikasi imigran. Apalagi para imigran itu tujuannya adalah Australia.

"Mereka itu semua tujuannya ke Australia. Semuanya. Kalau kami berunding dulu dengan negara-negara ASEAN, gimana nih pengungsi bagi-bagi kan gitu. Mosok kita semua," kata Ryamizard di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin 15 Juni 2015.

Kata dia, Indonesia tak masalah menampung pencari suaka itu demi kemanusiaan. Namun, banyak negara-negara ASEAN yang menampung imigran lebih banyak dari Indonesia.

"Kalau kita kan sudah cukup banyak, Malaysia juga sudah lebih banyak lagi di sana itu, yang lain ganti-ganti. Kemudian yang penting adalah bagaimana Myanmar atau Bangladesh di sana mengeremlah," ujar dia.

Untuk itulah, Ryamizard minta agar Australia juga ikut bertanggung jawab atas pencari suaka ini.

"Kalau orang warga negara kita, ya kita terima. Kalau warga negara lain ya marilah Australia dan ASEAN berembuklah bagaimana ini. Ini manusia. Kita menegakkan HAM, mari kita bersama-sama Australia dengan ASEAN, termasuk Indonesia," kata dia.

Ryamizard juga mengatakan dalam keadaan seperti ini, seharusnya Australia tidak menyalahkan Indonesia.

"Bagi-bagilah jangan sampai ada negara terlalu berat dan terbebani. Bagaimana nih cara mengatasi, sama-sama diatasi kan enak kalau begitu," ujar Menhan.







Sumber :  VIVA
readmore »»  

AS Cari Tentara Hilang di Indonesia Saat Perang Dunia II


Jakarta (MI) : Upaya Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mencari jejak prajuritnya yang hilang di Perang Dunia II menemui titik terang. Bersama Pemerintah Indonesia, AS, resmi menyepakati kerja sama pertahanan baru.

Kerja sama tersebut meliputi kesepakatan, penelitian bersama untuk menyelidiki dan mengekskavasi peninggalan serta jasad personil tentara AS di Tanah Air.

Kerja sama terjadi setelah United States Defense Prisoners of War/Missing in Action (POW/MIA), Accounting Agency (DPAA), Defense Attaché Office (DAO) Kedutaan Besar Amerika Serikat Jakarta bersama TNI dan Pusjarah TNI sepakat DPAA akan mencari lebih dari 2.000 personel AS yang hilang saat Perang Dunia II di Indonesia.

Kesepakatan ini pun disambut oleh Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert Blake. Menurut dia, pencarian jejak sejarah ini penting bagi anggota keluarga militer AS yang menunggu kepastian nasib anggota keluarganya yang hilang lebih dari setengah abad ini.
“Kesepakatan ini merupakan penghormatan terhadap kenangan warga negara Amerika dan Indonesia yang membela negara mereka. Kerja sama AS-Indonesia kini lebih erat dan komprehensif," kata Dubes Blake dalam keterangan Persnya kepada Liputan6.com, Senin (15/6/2015).

"Kami sangat berterima kasih atas kerja sama ini dan atas pertimbangan untuk mengizinkan kami untuk menemukan kembali personil Amerika yang hilang pada masa PD II,” sambung dia.

Selain Dubes Blake, ucapan terima kasih juga datang dari pejabat Deputi Direktur DPAA, Mayor Jenderal Kelly McKeague. Pejabat tinggi Militer AS ini menyebut Indonesia sudah mengambil langkah tepat untuk memperat hubungan kedua negara terutama dalam bidang militer.

“Misi kemanusiaan ini tidak mungkin terlaksana tanpa persetujuan dan dukungan pemerintah dan masyarakat Indonesia. Penandatanganan kesepakatan ini membangun kemitraan yang memungkinkan kita mencapai misi yang mulia ini dan membantu memberikan kepastian bagi para keluarga yang masih menanti,"

"Atas nama keluarga Amerika yang anggota keluarganya hilang di Indonesia saat Perang Dunia II, saya mengucapkan terima kasih kepada Brigjen TNI Zaedun dan tim Pusjarah atas kesediaannya untuk membantu kami. Persetujuan ini merupakan cermin persahabatan antara Republik Indonesia dan Amerika Serikat," pungkas dia. 
Sumber : Liputan6
readmore »»